Kami Lahir kembali menjadi Ibu dan Ayah

Flashback 36 th yang lalu, kehadiran saya adalah sesuatu yang tidak direncanakan, ibu saya hamil dalam kondisi tidak siap lahir batin, sehingga membuatnya sangat tertekan. Sejak dalam kandungan saya sudah akrab dengan rasa sedih, marah dan kecewa. Bapak pun tidak mendampingi ibu pada saat kelahiran saya. Trauma sejak dalam kandungan membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang sering merasa sedih dan mudah marah tanpa sebab yang jelas.
24 th berlalu, akhirnya saya menikah dengan seseorang yang berbeda jauh karakternya dengan saya. Dia sangat tenang, pendiam dan sabar. Sebulan setelah menikah saya hamil. Pada tahun 2006, saya menjalani proses persalinan tanpa dibekali ilmu apapun & hanya pasrah pada tenaga kesehatan (NaKes) yang ada di dalam pikiran kami adalah = yang penting bayi kami lahir dengan selamat. selamat disini artinya Hidup, sehat secara fisik (tidak cacat). saat itu, Suami saya tidak mendampingi saya secara langsung, saya melalui proses persalinan itu sendiri.
Proses yg panjang lebih dari 24 jam, berbagai intervensi pihak medis saya terima tanpa perlawanan. Saya diinduksi via infus, suasana di ruang bersalin pun sangat gaduh, penuh teriakan bahkan saya dimarahi oleh bidan karena cara mengejan saya yang dianggap salah. Beberapa kali perut saya ditekan dengan sangat keras oleh bidan untuk mendorong keluar bayi saya hingga akhirnya anak pertama kami lahir dengan vaccum (2x) serta episiotomi dengan jahitan yang cukup banyak.
Saya dengan tinggi badan (TB) 143cm melahirkan bayi 3,3kg adalah sesuatu yang luar biasa buat saya. Pasca persalinan saya tidak Inisiasi menyusu Dini (IMD), juga tidak bisa rooming in dengan bayi saya, selama 3 hari kami tidak bertemu. ASI saya keluar dengan sia-sia, bayi saya diberi sufor atas ijin suami saya yang juga tidak punya pengetahuan apapun tentang bayi & ASI. Sesampainya di rumah saya mulai belajar memberi ASI, namun trauma persalinan membuat saya merasa sedih, marah & kecewa setiap kali melihat bayi saya. Saat ia berusia 4 bln barulah saya mulai sedikit bisa menerima keberadaannya, memeluknya & menciumnya.
Namun trauma itu sepertinya membekas di alam bawah sadar saya, dengan pola asuh & didik yang asal-asalan saya membesarkannya, saat emosi tidak terkendali kadang saya melakukan kekerasan verbal & fisik terhadapnya. Dan setiap saya marah, saya seperti melihat luapan emosi yang sama seperti ibu saya. Ini seperti lingkaran emosi (trauma) yang terus berulang, dan saya ingin menghentikannya. Hingga pada tahun 2012 yang lalu saya mulai mengenal ilmu parenting, saya banyak introspeksi diri, dan yang pertama harus saya lakukan adalah memaafkan diri sendiri & mengikhlaskan semua hal buruk yang pernah terjadi.
Berat, sangat berat, tapi saya sudah bertekad untuk menghentikan rantai trauma itu. Dan karena trauma itu pula lah yg membuat saya enggan memiliki anak lagi. Sampai pada tahun 2015, saya mulai mengenal gentle birth. Saya memberanikan diri untuk memulai program anak kedua, tapi saya masih ragu, apakah saya nanti bisa melahirkan anak dengan minim trauma? Saya mulai cari tau lebih banyak tentang gentle birth, belajar melalui website Bidan Kita dan mulai kontak untuk kelas hypnobirthing dengan bidan Yesie.
Dari sana saya & suami mulai belajar banyak tentang kehamilan & persalinan. Pikiran kami mulai terbuka, tidak ada kehamilan yang biasa, semua luar biasa & banyak yang harus dipersiapkan untuk menyambut buah hati kami yang kedua. Saya mulai yoga, berlatih pernafasan & meditasi. Suami saya pun mulai peduli dengan kehamilan saya, perhatiannya luar biasa, dia pun belajar hypnobirthing & relaksasi, rajin memuji setiap saya melakukan nafas perut dengan benar.
Saya adalah ibu hamil yang sangat bahagia.
Kami pun rajin ngobrol dengan adek di perut. Afirmasi hal hal baik, agar persalinan saya nanti dapat berjalan lancar & nyaman.
Akhirnya tibalah saat yang dinanti, bulan mei 2016 si adek datang dengan cerita baru, semua ekstra cepat, berbeda dengan abangnya yang bukaan 2 ke 4 sampai 2 hari. Kekuatan doa & afirmasi ternyata benar benar luar biasa. Proses persalinan saya diberi kelancaran, walaupun maju 2 minggu dr HPL tapi saya merasa cukup siap, karena memang sudah ada feeling yang kuat bahwa adek akan maju lahirnya. Di tengah meditasi pukul 10 pagi saya mendapat tanda cinta (flek), baru saya mulai packing untuk persiapan ke RS, tiap gelombang cinta datang saya goyang pinggul ato duduk di gymball lalu inhale exhale sambil mendengarkan suara merdu Mbak Yesie di kontraksi nyaman. Dan setiap kontraksi datang saya making space & ngobrol sama adek bahwa kami akan segera bertemu, agar adek tetap sehat & semangat untuk menuju jalan lahir.
Setiap kontraksi (gelombang cinta) terasa sangat nyaman, sampai suami saya bingung karena saya tidak mengeluh sakit malah santai, tertawa & tersenyum (mungkin ini juga karena seringnya adek memberi saya latihan dengan kontraksi- kotraksi palsu yang semakin sering mendekati saat saat persalinan, sehingga saya sudah terbiasa menikmatinya dengan nyaman). Kemudian interval kontraksi pun mulai rapat, saya minta tolong bidan dekat rumah untuk cek VT (pembukaan), pukul 16.30 bukaan 2 longgar, lanjut relaksasi dulu lalu mandi air hangat. Kemudian gelombang cinta pun semakin kuat, mendadak “pyoook” pukul 20.00 ketuban pecah, lantai kamar banjir.
Reaksi pertama saya kaget tapi juga senang, nggak sabar pengen segera ketemu adek. Kalimat pertama saya saat pecah ketuban adalah “Santai, tenang..semua akan baik baik saja”, sambil senyum dan minum sebanyak-banyaknya. Saat siap siap mau berangkat ke RS, bidan dekat rumah kembali datang untuk cek VT ternyata sudah bukaan 4 longgar. Lalu taksi datang, kami langsung meluncur ke RS. Alhmdulillah sesuai afirmasi, jalanan lancar walaupun malam minggu. Sampai RS saya tidak diperbolehkan turun dari tempat tidur, terpaksa diam diam angkat bokong lalu pelan pelan goyang pinggul, making space untuk memudahkan adek turun ke jalan lahir. Pukul 22.30 lanjut ke bukaan 6-7, lalu pukul 24.00 sudah bukaan komplit. Tapi dokter belum datang, saya hanya ditemani perawat dan bidan yg membimbing saya untuk terus atur nafas. Suami saya berada disamping saya, memeluk dan menggenggam tangan saya, terus mengingatkan untuk relaks, nafas perut sambil memperdengarkan musik relaksasi yg membuat saya merasa sangat nyaman. Setiap jeda antar kontraksi saya ngobrol, bercanda dengan para bidan. Mereka bingung, lalu saya bilang kalau saya belajar hypnobirthing dan gentle birth dengan bidan Yesie, komentar mereka adalah “pantes ibu kok tenang sekali” (hehee..bangga #kibasrambut).
Lalu dokter datang, gelombang cinta makin kuat, hampir tidak ada jeda. Posisi adek yang kurang optimal membuatnya tertahan di jalan lahir, dokter terpaksa ambil keputusan kalau hingga pukul 02.00 belum keluar akan diambil tindakan (vakum). Saya sudah lemas hampir kehabisan tenaga, lalu saya bilang..”Ayo nak semangat, kita percepat, ibu pengen segera ketemu adek”. Bismillah lalu dengan one final push..lahirlah anak kami pada pukul 01.50. Ternyata adek pinter, dia tidak mau di vakum..keluar 10 menit sebelum limit dari dokter untuk vakum.
anak-sena-coloured
Setelah dibersihkan sebentar, langsung diletakkan di perut saya untuk IMD sambil saya menikmati jahitan dokter. Saya kembali melahirkan bayi dg BB 3,3kg namun persalinan kali ini terasa sangat nyaman, walaupun tidak sempurna dan harus menerima beberapa jahitan tapi saya tidak kecewa karena saya sudah siap. “Knowledge is Power” begitu kata bidan Yesie. Saya tenang selama persalinan karena saya tau tubuh dan bayi saya sedang bekerja, dan saya menikmati setiap prosesnya. Hal yang luar biasa setelah persalinan yang nyaman ini adalah saya merasa healing trauma dari persalinan anak pertama saya 10 thn yang lalu. Saya menjadi release dan bisa memaafkan kejadian kejadian buruk dimasa lalu. Selanjutnya setiap ada yg menanyakan tentang proses persalinan saya, yang saya ceritakan dan yang saya ingat hanyalah rasa nyaman dan bahagia. Bukan menyebarkan rasa takut seperti yg saya lakukan saat persalinan pertama saya dulu.
Setelah melalui gentle birth sekarang kami bersiap untuk gentle parenting bagi anak kedua kami, seperti yang Angga Setyawan (praktisi & penulis buku parenting) katakan bahwa “Hadiah terbaik untuk anak adalah orangtua yg mau belajar”. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk anak2 kami, karena itu kami mau belajar.
Terima kasih sebesar-besarnya untuk Mbak Yesie, telah berbagi ilmu dan memberi kesempatan saya dan suami untuk belajar tentang gentle birth, yang membuat kami terlahir kembali menjadi orangtua yang in shaa Allah lebih baik lagi. Mbak mbak bidan di Bidan Kita yg telah membantu & membimbing kami selama proses kehamilan & persalinan. Ibu ibu hebat di LGB (Laskar Gentle Birth) dengan sharing pengalaman & ilmunya yang luar biasa. Terakhir namun juga yg utama adalah terima kasih untuk suamiku yang mau & sanggup belajar bersama, terus mendukung & mendampingi serta menciptakan suasana tenang & nyaman saat proses kehamilan, persalinan hingga menyusui .. i luv you 😙.
Semoga cerita ini bisa menginspirasi para ibu dan calon ibu, untuk bisa melahirkan dengan gentle & minim trauma. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *