COLOURBOX522461fodsel_None_1

The crucial moment. (Photo:Colourbox)

Kehamilan, kelahiran, dan periode postpartum merupakan tonggak peristiwa dalam kehidupan yang selalu berkelanjutan. Pengalaman ini sangat mempengaruhi, ibu, bayi, ayah, dan keluarga, dan memiliki efek penting dan jangka panjang pada masyarakat.

Bagi banyak wanita melahirkan adalah pengalaman yang menggembirakan dan memberdayakan. Namun Bagi orang lain itu bisa menjadi salah satu peristiwa paling traumatis dalam hidup mereka. Kenangan melahirkan dapat menjadi suatu kenangan yang sering diingat bahkan mungkin seumur hidup akan diingat ataupun teringat. Wanita yang mengekspresikan kepuasan dengan kelahiran mereka merasa rasa keberhasilan, maka mereka memiliki kenangan positif pada persalinan mereka. Mereka merasa mereka mengendalikan kelahiran mereka dan pengalaman mereka memberikan kontribusi terhadap perasaan mereka kepercayaan diri dan harga diri.

Ibu-ibu lain memiliki kenangan yang “kacau” dari sebuah proses melahirkan. Sebuah pengalaman yang membuat mereka merasa tertekan, bingung, dan marah. Meskipun banyak risiko kesehatan fisik yang terkait dengan kelahiran sesar namun ternyata dampak psikologis dari kelahiran sesar adalah tidak kalah pentingnya untuk diketahui. Survei di Amerika Serikat pada tahun 2005 dengan sample ibu yang melahirkan pertama kali dengan SC mengungkapkan bahwa para wanita yang telah melahirkan caesar lebih cenderung merasa takut, tidak berdaya, dan kewalahan. Dan kecil kemungkinannya untuk merasa mampu, percaya diri, kuat, dan tidak takut saat melahirkan.

Banyak ibu baru yang akrab dengan gejala umum dari Baby Blues yang mungkin berlangsung selama satu atau dua minggu. Kesedihan, kecemasan, perubahan suasana hati, sulit tidur, sulit berkonsentrasi dan tidak merasa seperti diri sendiri. Dan Penelitian saat ini memberitahu kita bahwa beberapa pengalaman perempuan melahirkan sebagai suatu peristiwa traumatis 6% memenuhi kriteria klinis menjadi post-traumatic stress disorder (PTSD).

Melahirkan bisa menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan, kadang-kadang dikaitkan dengan perasaan yang di luar kendali sehingga dapat dimengerti bahwa beberapa wanita mungkin mengungkapkan bahwa proses kelahiran dirinya sebagai trauma psikologis. Wanita yang melahirkan “normal” pun juga dapat mengalami kelahiran yang traumatis. intervensi invasif yang tidak diinginkan, dan menyakitkan bersama-sama dengan perawatan yang tidak memadai juga faktor risiko untuk kelahiran traumatis. Peneliti Inggris menemukan bahwa 3% dari perempuan yang melahirkan di rumah sakit memiliki gejala klinis PTSD pada 6 minggu setelah melahirkan dan 24% menunjukkan setidaknya satu dari tiga komponen PTSD.