Puji Tuhan…dan ketika si montoq lahir, bunda Rina juga sudah datang lagi ternyata dan beliau sudah mulai ikutan intens kontraksinya. Jam 11.30 saya periksa sudah lengkap dan setelah masuk ke air hangat, bunda rina akhirnya melahirkan juga dengan tanpa mengejan sama sekali, bahkan selama crowning bunda rina berkata ” aku rileks, aku santai.” Dan akhirnya sang bayipun meluncur seperti di jalan tol dan mulus sekali…Puji Tuhan..setelah IMD selesai dan di timbang ternyata 3,8 kg, montoq juga.

Yaaah Happy ending semuanya. Dan ternyata sang bayi memang menepati janji mereka untuk tetap menunggu sampai tantenya pulang. 😉

Bahagia rasanya ketika menyadari bahwa saya terpilih menjadi orang yang pertama kali menyambut mereka.

Bahagia rasanya ketika melihat mereka tersenyum sesaat setelah keluar dari rahim dan masih di dalam air, membuka matanya, lalu tersenyum.

Bahagia rasanya ketika mendengar tangisan bayi memecah kesunyian dan mereka berada di dekapan bundanya.

Semua capek hilang. Yang ada hanya semangat.

Banyak sekali pelajaran yang saya bisa ambil dari si baby-baby montoq ini.

1. Teori bisa saja salah, tapi Tuhan dan Alam Semesta tak pernah salah! Tuhan sudah ciptakan Tubuh wanita luar biasa sempurna untuk melahirkan alami. Jadi setiap bayi harusnya bisa melewati “pintu” mereka sendiri-sendiri.

2. Setiap bayi punya “cara dan waktunya” sendiri untuk dilahirkan. Contohnya bunda Ika. Sang bayi menyadari kalau dirinya super montoq untuk itu dia benar-benar berjuang selama 7 hari untuk menurunkan kepalanya dulu, menata posisi kepala dan merilekskan jalan lahir bunda nya. Sebuah waktu yang lama tapi pasti, hingga ketika kepalanya sudah masuk di Hodge II+ pun dia masih saja tidak mau membuka pintu jalan lahir bundanya, namun begitu kepalanya masuk di Hodge III dia langsung membuka pintu bundanya dengan sangat cepat = “mak Byakkk!!!” dan itu adalah isyaratnya bahwa dia sudah SIAP!.

3. Bukan hanya sang ibu, ayah juga keluarga yang harus sabar. Bu bidannya pun harus ekstra sabar. Sabar untuk tidak “gatel” melakukan intervensi, sabar untuk tetap bersedia memotivasi mereka dan kirim salam damai bagi sanga ibu dan janin. Dan saya masih harus belajar banyak sabar dari bayi-bayi yang akan dilahirkan nantinya.