Melahirkan TANPA MENGEJAN?

Promo 1

“Masak iya sih seseorang bisa melahirkan tanpa mengejan? Yang ku tahu kalau orang melahirkan harusnya mengejan kuat dan kuat sekali serta berkali-kali agar bayinya bisa segera keluar! Lha wong saya saja kemarin saat persalinan pertama saja 2 tahun yang lalu saja saya harus mengejan berkali-kali sampai kehabisan tenaga hingga akhirnya di bantu di dorong sama bidannya kok?” Kata seorang ibu muda saat mengikuti kelas persiapan persalinan di Bidan Kita tempo hari yang lalu.

 

Dan sayapun tersenyum, lalu saya tunjukkan beberapa video proses persalinan yang terjadi di Bidan Kita dan salah satunya adalah video persalinan Bunda Atha yang prosesnya sangat lancar bahkan nyaris tanpa mengejan sama sekali bahkan Mars (nama bayinya) di terima oleh sang Ayah juga saat lahir. Dan selama menonton video proses persalinan Bunda Atha, ibu ini menangis tersedu-sedu bahkan sang suamipun ikut menangis saat itu.

apalagi kalau saya tunjukkan Video Bunda Nur dari Singaraja yang tanpa mengejan sama sekali dan disaksikan oleh sang kakak….(sayangnya belum saya tunjukkan karena saat itu saya belum kantongi ijin share dari bunda Nur) Saat saya tanyakan apa perasaan mereka saat melihat proses persalinan yang sangat lembut tersebut? Mereka menyatakan bahwa mereka sangat terharu dan mereka baru menyadari bahwa proses persalinan nya 2 tahun yang lalu sangat traumatik dan membuat mereka diliputi ketakutan dan kekuatiran.

Nah hari ini saya akan sharing tentang Tubuh seorang wanita yang mempunyai reflek spontan yang luar biasa saat proses persalinan. Namun sebelumnya saya akan mengajak Anda semua untuk merenungkan dan merefleksikan sebuah cerita yang ada di bawah ini.

Pernah tidak Anda mendengar berita tentang seorang bayi yang dibuang oleh ibunya dan ditinggalkan di kebun tebu, kebun jagung ? Lalu apa yang Anda pikirkan saat itu? Apakah saat melihat, mendengar berita tersebut yang Anda lakukan hanya marah dan menghujat sang ibu yang telah membuang bayinya tersebut? Ataukah sebaliknya? (**tanpa harus menghakimi perbutan wanita itu) Anda justru berfikir bahwa sang ibu itu sangat kuat! Ya ibu tersebut sangatlah kuat karena dia bisa melahirkan bayinya tanpa bantuan siapapun, bahkan di malam yang sunyi sang ibu melahirkan di kebun jagung atau kebun tebu dengan sangat tenang tanpa ada suara sedikitpun sehingga para pendudukpun tidak menyadari bahwa malam itu ada seorang wanita yang sedang melahirkan.

Mengapa sang wanita itu bisa sedemikian kuat dan persalinanyapun bisa sedemikian lancar? Bahkan tanpa pertolongan siapapun? Padahal ini adalah persalinan perdananya! Dan coba Anda bayangkan sekali lagi, bagaimana cara ibu tersebut mengejan? Padahal tidak ada seorangpun yang mendampinginya untuk memberi aba-aba kapan harus mulai mengejan dan kapan harus berhenti mengejan, dan apakah wanita tersebut posisi melahirkannya dengan terlentang ditanah dengan kedua kaki dan lutut di buka dan di tekuk seperti yang sering kita lihat di rumah sakit-rumah sakit selama ini?

Nah sangatlah berbeda kondisinya ketika seorang wanita melahirkan anak pertamanya di sebuah Rumah Sakit. Bisa jadi sepanjang proses persalinan sang ibu menangis, mengeluh, menjerit bahkan berteriak hingga suaranya terdengar dari luar ruangan. Bahkan ketika mengejan , sang ibu harus mengejan hingga energinya terkuras habis untuk mengeluarkan bayinya.

Mari kita merenung sejenak, lalu tanyakan kepada diri Anda sendiri, orang yang melahirkan di kebun tebu tersebut seorang wanita bukan? Dan Andapun seorang wanita! Lalu apa bedanya!

Mengapa saat melahirkan Anda harus sedemikian sakit dan sedemikian bersusah payah saat mengejan? Apa yang salah?

Nah mari kita bahas semua pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sejak mendalami proses persalinan Gentle Birth dan menerapkannya dalam pertolongan persalinan di Bidan Kita, Saya sangat tertarik dengan deskripsi Michel Odent tentang “refleks ejeksi janin.” atau “Refleks kelahiran spontan.” Pada dasarnya, refleks ini melibatkan kelahiran spontan bayi tanpa pembinaan atau upaya sadar dari ibu. Dan Hal ini paling mungkin terjadi ketika ibu merasa sangat aman dan sangat pribadi (privat). Dalam sebuah artikelnya Odent menulis bahwa: “Selama kontraksi kuat berakhir seorang ibu tampaknya menjadi tiba-tiba penuh energi, dengan kebutuhan untuk memahami sesuatu. Tubuh ibu memiliki kecenderungan tiba-tiba menjadi tegak dan condong ke depan. Sehingga refleks ejeksi janin biasanya dikaitkan dengan postur membungkuk ke depan. ”

Nah untuk memahami dan mengerti apa itu “refleks ejeksi janin.” silahkan simak sebuah proses persalinan penduduk primitif yang terjadi. Amati gerak tubuh wanira tersebut. Amati nafasnya.

Saat dalam proses persalinan, Wanita dalam video tersebut duduk (posisi tubuh Vertikal) dan ketika tubuhnya sudah siap untuk mengeluarkan bayinya, tubuh sang itu secara insting dan spontan langsung condong kedepan dan akhirnya sang bayipun lahir dengan sangat lembut sekali. Dan kita bisa melihat bahwa ibu tidak mengejan saat itu hanya membuka mulutnya dan bernafas dalam. Dan hal lain yang penting adalah si ibu tersebut berada di lingkungan yang aman dan privat (menurut dia).

Odent, sering menjelaskan refleks kelahiran spontan yang terjadi dengan gerakan cepat dimana pinggul ibu “menyentil maju”.

Melahirkan Tanpa Mengejan? Selama ini, banyak ibu yang melahirkan tidak dalam suasana privasi yang mampu memfasilitasi refleks dan karena masih banyak bidan yang menganggap bahwa ketika seorang wanita sudah berdilatasi hingga 1o sentimeter maka dia harus segera mengejan dan 10 cm adalah waktu untuk mendorong dan mengejan, terlepas dari apa yang tubuh beritahukan kepada ibu untuk melakukan. Sehingga begitu sang bidan memeriksa proses dilatasi ibu dan mendapati sang ibu sudah pembukaan lengkap, maka serta merta sang bidan langsung memimpin ibu untuk mengejan terlepas dari apakah sang tubuh sudah siap, apakah refleks spontan sudah terasa atau belum. Saat dimana seharusnya terjadi konektivitas yang kuat antara tubuh ibu dengan bayi akhirnya seolah-olah putus karena intervensi atau aba-aba dari luar tubuh Anda yang memerintahkan dan mengambil alih akan apa yang harus Anda lakukan. Sehingga sangat memungkinkan Tubuh dan bayi Anda “bingung” sehingga walaupun Anda mengejan hingga wajah mengkerut namun yang ada adalah kemajuannya sangat sedikit bahkan tidak ada kemajuan sama sekali. Sehingga akhirnya ibu kelelahan atau kehabisan energi ketika mengejan dan ini memicu tenaga medir (bidan/dokter) untuk melakukan akhirnya intervensi entah kristeler (membantu dengan tenaga dari luar dengan mendorong fundus uteri ke arah vagina dan ini sebenarnya sudah dilarang untuk dilakukan namun masih tetap dilakukan hingga sekarang), Vaccum, atau Foeceps.

Mempercayai dorongan Nah ketika saya bertanya kepada para klien saya yang berhasil melahirkan lembut tanpa mengejan, saya menerima beberapa komentar dari mereka bahwa Kebanyakan dari mereka hanya mengikuti insting dan gerak tubuh serta apa yang tubuh perintahkan pada mereka untuk mereka lakukan. Memang Sulit untuk mengkomunikasikan ini dengan seseorang yang belum mengalaminya- dimana sang ibu harus mengerti bagaimana mengenali “keinginan” dan apa arti sesungguhnya dari “mendorong dan mengejanlah ketika tubuh Anda memberitahu kepada Anda untuk melakukannya” berani mencari “jawaban” untuk mempersiapkan yang terbaik bagi tubuh pikiran, dan hati mereka untuk kelahiran “hanya percaya kekuatan tubuh dan bayi Anda,”.