Perawatan perineum Setelah Melahirkan

1233 0

 

Sementara Anda masih berada di meja persalinan dan bayi Anda sedang diurus oleh perawat, perineum Anda akan diperiksa apakah ada Cidera, robekan atau tidak. Cidera pada perineum meliputi peregangan kulit, Luka Robekan, atau episiotomi.

 

Ketika Anda didapati robekan maka otoomatis perineum Anda akan dilakukan penjahtan inilah yang seringkali membuat para ibu menjadi trama atau ketakutan. Padahal proses penjahitan paling hanya berlangsung sekitar 10 s.d 20 menit dan luka pada perineumpun lebih cepat sembuhnya ketimbang luka akibat bedah Caesar. Nah, Perawatan perineum yang tepat sangat penting dalam mencegah infeksi pada episiotomi, kandung kemih, dan rahim. Jaga perineum tetap bersih dan bebas dari darah yang menempel atau keringgantilah pembalut setidaknya setiap 4 jam untuk membantu mencegah infeksi. Mengganti pembalut setiap kali Anda menggunakan kamar mandi dan ketika Anda mandi. Gunakan perawatan perineum yang tepat setiap kali Anda mengganti pembalut, buang air kecil, atau buang air besar sampai semua cairan vagina (lokia) telah berhenti.

 

Langkah-langkah untuk Perawatan perineum yang Tepat

1. Cuci tangan Anda . ini sangat penting sekali untuk menjaga tangan Anda tetap bersih. Ketika Anda ingin melepaskan pembalut dan mengganti yang baru, “Kupas” pembalut dari depan ke belakang. Hal ini untuk menghindari kuman terseret dari daerah anus ke area vagina. Buang pembalut kotor di tempat sampah berjajar dapat atau kantong plastik, bukan di toilet. Berhati-hatilah untuk tidak menyentuh area kotor pada pembbalut.

2. Setelah buang air kecil dan sementara masih duduk di toilet, semprotkan air keran hangat ke bagian luar perineum, dimulai di depan dan bergerak ke arah belakang. Jangan menyemprotkan air ke dalam vagina. Lalu keringkan dari arah depan ke belakang dengan kertas toilet.  Gunakan selembar kertas bersih toilet untuk setiap bersihkan. Jatuhkan kertas toilet yang digunakan ke toilet setelah setiap lap.

3. semprotkan obat atau salep jika dokter Anda telah memerintahkan hal itu. Semprot atau salep meningkatkan penyembuhan dan memungkinkan kenyamanan.

4. Jangan menyiram toilet sampai setelah Anda berdiri, penyiraman air dapat percikan ke perineum. Pasang pad bersih dari depan ke belakang.

5. Urin dapat mengiritasi kulit perineum dan menimbulkan rasa sengatandi bekas episiotomi atau robekan. Untuk menjaga urin tidak mengeni daerah ini, buang air kecil sambil berdiri mengangkang di toilet sehingga urine akan jatuh lurus ke bawah atau buang air kecil saat mengambil mandi. Jika Anda merasakan dorongan untuk buang air kecil tapi tidak bisa, coba duduk di bak air hangat sampai otot perineum rileks, kemudian buang air kecil sambil duduk di air. Setelah itu, bilas dengan baik dan rawat perineum Anda.

6. Setelah buang air besar, bersihkan dari depan ke belakang dengan kertas toilet. Kemudian dengan lembut mengusap atau menepuk, lagi dari depan ke belakang, untuk mengurangi gatal-gatal ringan atau terbakar dari wasir.

7. Selalu Cuci Tangan untuk Mencegah Infeksi

Selalu cuci tangan dengan bersih sebelum dan setelah pergi ke kamar mandi atau mengganti pembalut. mencuci tangan yang tepat adalah hal terbaik yang dapat Anda lakukan untuk diri sendiri dan bayi Anda untuk mencegah infeksi.

Link : http://www.bidankita.com/index.php?option=com_content&view=article&id=411:episiotomi&catid=44:natural-childbirth&Itemid=56

TIPS:

Sudah umum jika Anda merasa takut jahitan episiotomi akan robek jika Anda batuk. Batuk, bersin, mengejan, dan tertawa memang membuat banyak tekanan pada jahitan Anda. Anda akan lebih nyaman jika Anda mengencangkan otot-otot perineum sebelum Anda batuk, bersin, ketegangan, atau tertawa dan kemudian rileks sesudahnya.

Anda dapat meringankan ketidaknyamanan dengan menekan pad Anda terhadap jahitan Anda untuk mendukungnya sebelum Anda batuk atau bersin.

 

Nah semoga bermanfaat

Salam hangat

Bidan Kita

About The Author

Praktisi dan trainer hypnobirthing dan gentle birth, Penulis buku kesehatan, Pemilik dan bidan dari Klinik Bidan Kita, salah satu pelopor dan penggiat Gentle Birth di Indonesia