Apa itu pitocin dan oxytocin?

Oxytocin adalah hormon yang diproduksi secara alami oleh tubuh wanita saat proses persalinan hingga bersalin. Hormon ini biasanya juga disebut sebagai hormon cinta, karena naik turunnya produksi hormon ini sangat dipengaruhi oleh kondisi emosionah Anda. Oxytocin befungsi untuk menghasilkan kontraksi yang kuat, tahan lama, sering, dan berpola dalam proses persalinan.  Oxytocin dapat memicu tubuh untuk memproduksi beta-endorphins, yang 18 hingga 33 kali lebih kuat daripada morphin. Hal ini membuat oxytocin menjadi salah satu kunci melahirkan nyaman. Selain itu, oxytocin juga dapat membantu untuk menjalin ikatan dengan sang bayi dan menyusui. Namun, oxytocin hanya akan mengalir saat cervix sudah siap. Tepat sebelum bayi lahir, produksi oxytocin akan memuncak daam tubuh ibu, membanjiri sistemnya dengan hormon cinta.

Pitocin adalah bentuk sintetis dari oxytocin. Pitocin biasanya dimasukkan melalui infus IV untuk memulai kontraksi, mempercepat persalinan, atau mengurangi selang waktu antar kontraksi.Namun, berbeda dengan oxytocin yang merupakan hormon alami, 

Lalu apa perbedaan antara Pitocin dan oxytocin?

Banyak orang yang percaya bahwa induksi seperti Pitocin sangatlah aman dan mudah karena menganggap bahwa Pitocin hanyalah bentuk lain dari oxytocin. Namun pada kenyataanya, oxytocin dan Pitocin sangatlah berbeda. Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara pitocin dan oxytocin.
  • Oxytocin merangsang terjadinya endorphin effect
Ketika tubuh kita memproduksi oxytocin untuk memperkuat kontraksi, hormon ini dibagi menjadi 2 tipe sel yang berbeda. Sel yang besar (magnocellular neurons) mengalir ke aliran darah, dan sel yang kecil (parvocellular neurons) mengalir ke otak. Ketika oxytocin sampai ke otak, otak memerintah kelenjar pituitari untuk meningkatkan produksi beta-endorphin, yang merupakan cara alami tubuh kita untuk mengatasi rasa sakit. Inilah yang disebut dengan endorphin effect.

Sayangnya Pitocin tidak bekerja seperti itu. Ketika Pitocin dimasukkan ke tubuh melalui infus IV, hormon ini hanya mengalir ke aliran darah dan tidak ke otak. Hal ini menyebabkan otak tidak dapat mengirim pesan ke kelenjar pituari untuk memproduksi beta-endorphins. Dengan Pitocin, rasa sakit yang dirasakan sama atau bahkan lebih menyakitkan, namun salah satu sistem penahan rasa sakit tubuh yang terkuat tidak dapat bekerja.