Dag dig dug di kehamilan anak pertama? Bingung rasanya menyusui si kecil nantinya? Ketegangan ini sebetulnya tak perlu terjadi karena akan berpengaruh pada kemampuan seorang ibu dalam menyusui buah hatinya. Sebagai calon ibu yang mengandung anak pertama, tak jarang diselimuti perasaan tak karuan saat menjalani kehamilan. Rasa galau bisa jadi muncul tanpa diundang. Apakah bayinya nanti tumbuh kembangnya seperti yang diinginkan dan apakah lahir normal. Selanjutnya, bagaimana merawatnya nanti?

Berkecamuknya deretan kekuatiran itulah yang menjadikan ibu hamil menjadi tegang selama menjalani kehamilan dan proses melahirkan nanti. Jika tak teratasi, perasaan tegang ini akan berefek negatif dan akan berpengaruh pada kemampuan seorang ibu saat menyusui buah hatinya kelak. Karena ASI yang keluar bukan hanya diakibatkan oleh isapan bayi tapi juga refleks-refleks yang saling berkaitan.

Refleks merupakan gerakan otomatis yang tidak dirancang oleh suatu organ atau bagian tubuh yang terkena rangsangan dari luar. Agar refleks ini terjadi, ibu harus santai dan merasakan adanya rangsangan yang tepat. Bila ibu dipengaruhi ketegangan, rasa cemas, takut dan kebingungan, air susunya tidak akan turun dari alveoli (sekelompok bulatan di cabang-cabang saluran air susu) menuju puting. Jadi, tidak sekadar persiapan fisik saja, tapi persiapan mental dan emosional pun tidak boleh diabaikan calon ibu dan pasangannya.

Persiapkan sejak dini dalam rangka meraih keberhasilan menyusui. Perlu percaya diri. Faktor paling efektif agar sukses menyusui adalah memupuk kepercayaan diri sang ibu bahwa ia pasti bisa menyusui. Itulah sebabnya seorang ibu yang berkeinginan kuat untuk menyusui akan lebih berhasil usahanya ketimbang ibu yang dari semula enggan menyusui bayinya dan kerap cemas tidak menentu. Hal yang sangat positif jika sang ibu dan suami membekali diri dengan pengetahuan tentang liku-liku menyusui. Secara psikologis, si ibu akan merasa lebih siap dalam melewati masa sulit jika mungkin terjadi pada saat menyusui.

Dukungan lingkungan. Rasa percaya diri sang ibu akan semakin menebal jika memperoleh dukungan dari suami, keluarga dan lingkungan selama masa kehamilan. Semisal kerap berdiskusi dan tukar pengalaman seputar kehamilan dan menyusui. Sang calon ibu pikirannya akan semakin ringan dan merasa tidak sendiri saat menyongsong masa menyusui. Bagi calon ayah, wujud dukungan bagi sang istri bisa beragam. Semisal mengambilalih pekerjaan rumah tangga saat istrinya kurang enak badan, rajin menemani istri saat konsultasi ke dokter dan bahu-membahu dalam menyiapkan semua keperluan si kecil nantinya. Berbekal kestabilan emosi, rasa percaya diri dan dukungan dari keluarga, sangat besar artinya bagi sang ibu saat menyusui bayinya agar berlangsung dengan lancar.