Trauma Persalinan karena Tindakan Tenaga Kesehatan

Proses persalinan adalah proses yang sangat berkesan. entah kesannya baik atau buruk, pasti kesan tersebut akat teringat dan terekam seumur hidup. dan pastinya akan mempengaruhi mulai dari “ide, persepsi, believe sampai attitude” seseorang dikemudian hari.

Ketika pengalaman dan cerita proses persalinan menjadisesuatu hal yang traumatik, pasti trauma tersebut akan terkenang sampai seumur hidup, bahkan bisa membuat atau menciptakan trauma baru kembali. demikian pula ketika proses persalinan meninggalkan kesan positif, tentu akan terkenang seumur hidup juga.

 

 

ada saja yang sebenernya berpotensi untuk menciptakan trauma persalinan?

  1. Persalinan yang lama dan menyakitkan
  2. Proses Induksi persalinan
  3. Rasa sakit yang menyiksa ibu saat proses persalinan
  4. Perasaan hilangnya kendali /kontrol saat proses persalinan
  5. Tingginya Tingkati intervensi medis
  6. Secio Cesarea
  7. Perlakuan yang kasar/kurang menyenangkan dari penolong persalinan (bidan, dokter/ paramedis)
  8. Kekhawatiran akan keselamatan bayi
  9. Bayi yang dirawat di dalam NICU
  10. Trauma sebelumnya (contoh, di dalam masa kanak-kanak, dengan persalinan yang sebelumnya atau pelecehan seksual semasa anak-anak)

nah, pada kesempatan kali ini, saya akan membahas lebih lanjut tentang point no 7. yaitu trauma yang disebabkan karena intervensi dan interaksi petugas kesehatan.

Banyak ibu  mengalami trauma psikologis saat melahirkan. proses Kelahiran yang traumatis dapat berdampak pada kesehatan mental dan hubungan keluarga pasca kelahiran. sehingga sangatlah penting untuk memahami bagaimana faktor interpersonal mempengaruhi pengalaman traumatik seorang perempuan.

pembahasan pada poin ke 7 ini juga saya padukan dengan sebuah jurnal ilmiah yang memang mambahas tentang trauma persalinan yang terjadi karena asuhan kebidanan  dan Anda bisa mengaksesnya disini.

dari jurnal ilmiah tersebut di dapatkan temuan bahwa :
terdapat 5 (Empat) hal yang diidentifikasi sebagai faktor penyebab trauma persalinan :

  1. Memprioritaskan agenda provider
  2. Mengabaikan pengetahuan yang dimiliki Klien
  3. Informasi yang tidak jujur atau mengandung kebohongan dan ancaman
  4. Kekerasan

tidak sedikit ibu maupun keluarga merasa bahwa tindakan, intervensi maupun perawatan/asuhan yang diberlakukan kepadanya terjadi karena provider lebih memprioritaskan agenda mereka sendiri dibandingkan kebutuhan sang ibu tersebut. dan hal ini dapat mengakibatkan intervensi yang tidak perlu terjadi, karena provider berusaha membuat proses kelahiran ini memenuhi preferensi mereka sendiri. Dalam beberapa kasus, seorang klien menjadi sumber belajar bagi staf rumah sakit untuk mengamati atau berlatih (biasanya ini terjadi di RS atau Puskesmas atau pusat layanan kesehatan yang digunakan sebagai tempat praktek pendidikan tenaga kesehatan). selai itu, tidak jarang juga karena hal hal “khusus” tertentu dari pihak provider, membuat akhirnya sebuah intervensi yang sebenarnya tidak perlu, akhirnya di berlakukan. misalnya (motivasi untuk segera SC di tanggal dan waktu tertentu karena petugas yang bersangkutan hanya bisa melayani pada saat itu saja ==> contoh provider akan pergi seminar, hendak cuti atau ada meeting)

Pengetahuan yyang dimiliki ibu (klien) tentang kemajuan persalinan dan kesejahteraan janin di abaikan oleh petugas kesehatan. bahkan tidak jarang provider menggunakan kebohongan dan ancaman untuk memaksa wanita mematuhi prosedur. Secara khusus, kebohongan dan ancaman ini terkait dengan kesejahteraan bayi. beberapa klien  juga menggambarkan tindakan yang kasar sehingga Bagi beberapa klien, tindakan ini memicu terekamnya kenangan akan penyerangan seksual.

 

KESIMPULAN: Tindakan dan interaksi penyedia layanan dapat mempengaruhi pengalaman traumatik seorang ibu selama proses persalinan . untuk itu diperlukan cara  untuk mengatasi trauma kelahiran akibat hubungan interpersonal baik pada tingkat makro maupun mikro. Pengembangan dan penyediaan layanan persalinan perlu did

ukung oleh paradigma dan kerangka kerja yang memprioritaskan kebutuhan fisik dan emosional seorang ibu. provider pun membutuhkan pelatihan dan dukungan untuk meminimalkan trauma ini.

dan ternyata kesehatan mental seorang suami/pendamping persalinan/ birth partner sangat berpengaruh dengan trauma. penelitiannya bisa di akses disini

dan dari penelitian yang ada tersebut di dapatkan kesimpulan bahwa :

Menurut persepsi dan pengalaman para pendamping persalinan (ayah), ada kekurangan komunikasi yang signifikan antara provider dan pendamping persalinan (ayah), dan pendamping persalinan (ayah) mengalami rasa marjinalisasi sebelum, selama, dan setelah kelahiran traumatis. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor ini berkontribusi terhadap persepsi trauma pada sampel saat ini. Sementara banyak pendamping persalinan (ayah) melaporkan dampak negatif dari kelahiran traumatis pada diri mereka dan hubungan mereka.

sumber :

http://bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12884-016-1197-0

http://research.usc.edu.au/vital/access/manager/Repository/usc:20560?queryType=vitalDismax&sort=ss_dateNormalized%5C&query=reed&f0=sm_creator%3A%22Reed%2C+R%22