8. Memberi ibu ruang private yg terlindung

9. Menurunkan angka kejadian SC.

10. Berendam dalam air saat persalinan mengurangi tekanan pada perut, menambah efisiensi sirkulasi darah dan oksigenasi pada uterus, otot-otot juga pada bayi.

11. Beberapa penelitian menyatakan bahwa bayi yang dilahirkan dengan waterbirth mempunyai rata-rata kejadian infeksi neonatal yang rendah dan APGAR Skore secara signifikan lebih tinggi.

12. Membuat ibu bersalin lebih mudah (easier birth) dengan menyambut kelahiran bayi mereka dengan lebih lemah lembut (a gentler welcome for baby)

13. Dengan meletakkan kolam/ bak air di ruang bersalin segera merubah suasana sehingga suara lebih lembut, ibu lebih tenang & orang sekitar menjadi berkurang stress-nya.

Sedangkan di bawah ini adalah kekurangan dari metode waterbirth:

1. Mengurangi kekuatan dan frekuensi kontraksi uterus, terutama bila digunakan sebelum fase aktif.

2. Kemungkinan terjadinya aspirasi pada bayi

3. Hypothermia kemungkinan bisa terjadi bila air yang digunakan adalah air dingin

4. Perkiraan volume perdarahan dan penanganan perdarahan pada kala 3 sulit dilakukan pada saat ibu masih di dalam air

5. Secara teori, ibu mempunyai resiko untuk terjadi emboli air

Lalu bagaimana kriteria yang direkomendasikan untuk kolam airnya?

1. Waterbirth sebaiknya digunakan pada ibu yang tidak mempunyai resiko komplikasi atau resiko tinggi selama kehamilannya.

2. Sebaiknya ibu mulai masuk ke air pada saat fase aktif dalam proses persalinannya.

Berikut kontraindikasi bagi waterbirth:

1. Persalinan premature

2. Ibu yang menderita penyakit infeksi seperti HIV, Hepatitis B maupun hepatitis C.

Rekomendasi untuk penggunaan metode waterbirth:

1. Bidan seharusnya mendiskusikan keuntungan dan kerugian dari waterbirth kepada pasien.

2. Tanda-tanda vital dan Detak Jantung Janin harus dalam keadaan normal.

3. Detak Jantung Janin harus selalu dimonitor saat ibu berada dalam air.

4. Pertahankan dan monitor suhu air sekitar 36 sampai 37,5ºC untuk mencegah hypo atau hyperthermia.