Saat mengetahui hal ini usahakan untuk support si ibu untuk mencari posisi yang paling nyaman biarkan di mengikuti instingnya dan irama tubuhnya. Siapkan minuman manis, beberapa handuk, kain juga air hangat dan waslap air hangat dan waslap ini bisa Anda gunakan untuk mengompres bagian perineum sang ibu supaya nyaman, aliran darah lebih lancar dan perineum lebih lentur. Usahakan selama proses persalinan ibu ditempatkan pada tempat yang luas dan tenang. Berilah alas agar cairan yang keluar tidak mengalir kemana-mana, juga agar ibu bisa beristirahat di sela kontraksi di tempat yang bersih dan nyaman. Jika tidak didapatkan ruangan yang luas (misalnya di dalam mobil), usahakan tempat tersebut tetap tenang dan berilah alas sebagai tempat ibu melahirkan (alas bisa berupa plastik, kertas, baju / jaket, dan lain sebagainya asal bersih).

Bagaimana dengan posisi ibu? Apapun posisinya cari yang paling nyaman untuk sang ibu, cari posisi yang membuat dia merasa “terhubung” ketika dia mengejan. Karena pada dasarnya rasanya seperti ketika Anda hendak BAB. Posisi vertikal adalah posisi yang paling baik, bisa dengan jongkok, duduk, nungging, bahkan berdiri. Asalkan siapkan diri Anda untuk tetap sigap dan bisa pengatur posisi yang paling nyaman saat menolong nanti.

Ketika si Ibu sudah mengejan dan kepala terlihat keluar dari bibir vagina dengan diameter 5 cm motivasi ibu untuk bernafas terengah-engah. Bahkan Anda pun bisa ikut bernafas bersamanya. Ini dilakukan untuk mengurangi rasa mengejan dnegan serta merta. Karena jika serta merta dilakukan bisa jadi perineum robek dan ini akan menyulitkan Anda, karena bisa mengakibatkan perdarahan. Nah ketika kepala sudah terlihat sebesar itu, Telapak tangan kanan penolong persalinan diletakan di atas kepala janin. Tujuannya, untuk membantu kepala tidak serta merta meluncur dengan cepat, juga untuk mencegah supaya kepala tak mendobrak vagina yang akan membuatnya robek tak beraturan. Kalau bisa, selama kepala meluncur keluar, telapak tangan kiri penolong juga menyokong daerah di sekitar perineum (antara vagina dan anus). Maksudnya, agar vagina tidak robek hingga ke anus (menggunakan waslap hangat tadi).

Selanjutnya, ketika kepala bayi sudah keluar seluruhnya cobalah periksa apakah ada lilitan lai pusat di lehernya, jika ada bebaskanlah kepala dari lilitan dengan mengendorkan tali pusat dan melepaskannya, jika tidak biarkan saja kepala melakukan manuver alaminya. Tuga Anda hanya menyangga dan menganjurakan ibu untuk bernafas terengah-engah supaya tidak mengejan serta merta.  Kemudian biarkan seiring dengan irama tubuh ibunya bayi keluar dengan sendirinya dan topanglah. Kemudian serahkan bayi itu ke pelukan ibunya dan biarkan mereka merasakan “baby moon”lalu berikan handuk atau selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.

Kemudian segera ambil baskom. Mangkuk atau apa saja yang bersih untuk wadah plasenta nanti.

Sambil menunggu plasenta secara alami keluar, belai dan berikan rangsangan puting susu ke tubuh ibu ini supaya kontraksi segera terjadi dan plasenta bisa keluar segera. Dan ketika plasenta sudah keluar, letakkan saja plasenta ke baskom atau mangkok tadi lalu segera hubungi bidan atau dokter terdekat, supaya memeriksa kondisi sang ibu dan bayi

Yang paling penting justru ibu dijaga jangan sampai terjadi perdarahan. Kalau tak ada luka jalan lahir, maka perdarahan biasanya berhenti, menunggu ari-ari keluar. Kalau ari-ari masih menempel, berarti masih aman, tak akan terjadi perdarahan. Namun jika ada perdarahan akibat robekan jalan lahir, segera tekan luka tersebut beri bethadine lalu segera hubungi bidan untuk penanganan yang lebih lanjut.

Agar amannya ketika hendak menolong persalinan sebaiknya terlebih dahulu segera menelepon ke sarana kesehatan (rumah bersalin atau rumah sakit) terdekat agar tenaga medis bisa segera datang ke lokasi.

Saat bayi sudah keluar, jangan dibiarkan telanjang begitu saja. Bayi perlu segera diselimuti dengan selimut hangat atau handuk tebal atau baju / jaket. Dan ingat biarkan bagi selalu skin to skin contact dengan ibunya.

Untuk membersihkan mulut dan hidung bayi dari lendir, harus hati-hati. Sebaiknya dibersihkan agar jalan napas bayi jadi bersih. Namun bila tak punya alat penyedot, sebaiknya biarkan saja. Kalau berani, bisa saja mulutnya dibersihkan dengan tangan yang dilapisi kasa steril. Jangan mempergunakan kapas atau tisu karena justru bisa menyumbat jalan napas si bayi. Yang penting kalau bayi sudah nangis, merintih dan bernafas, itu sudah aman, tanpa dibersihkan pun tak apa-apa.