Menurut suatu penelitian yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 8% ibu hamil mengalami UTI. Hal ini membuktikan bahwa UTI merupakan masalah yang cukup umum terjadi pada ibu hamil.

Meningkatnya resiko UTI pada ibu hamil erat kaitannya dengan perubahan tubuh yang terjadi pada ibu hamil. Seperti perubahan hormon. Perubahan hormon pada ibu hamil, terutama hormon estrogen dan progesteron. Peningkatan hormon ini menyebabkan adanya pelebaran pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang menuju ke ginjal, sehingga produksi urin juga meningkat. Meningkatnya produksi urin ini dapat menyebabkan retensi yang nantinya dapat berujung ke penurunan kemampuan tonus ureter (otot di ureter) dan kandung kemih untuk mengosongkan kencing, urin yang tertinggal ini lama kelamaan dapat mengakibatkan adanya bakteri, meningkatkan resiko terjadinya UTI. Pelebaran pembuluh darah ini juga diimbangi dengan adanya peningkatan aliran darah, termasuk di dalamnya ada plasma darah. Di dalam beberapa kasus tertentu, terdapat kebocoran plasma darah ke kandung kemih, sehingga mengurangi jatah urin di kandung kemih (terjadi penurunan konsentrasi urin di kandung kemih) dan meningkatkan volume urin dalam ginjal yang juga disebabkan oleh adanya utero-vesikel refluks (kondisi dimana urin naik kembali ke ginjal). Di kasus tertentu, kebocoran juga berlaku pada protein sehingga terkadung protein di dalam urin, menyebabkan preeklampsia.

Glikosuria (sering buang air kecil) dan hidronefrosis (kondisi dimana saluran atas ureter mengalami pembengkakan) dalam kehamilan juga dapat menjadi salah satu faktor penting penyebab terjadinya UTI dalam ibu hamil.

Resiko terjadinya UTI selama kehamilan juga erat kaitanya dengan umur kehamilan Anda. Resiko terjadinya UTI juga akan meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan Anda. Menurut data yang ada, ibu di trimester satu mempunyai resiko terkena UTI sebesar 9,23%, trimester dua sebesar 12,30%, dan trimester tiga sebesar 78,49%. Resiko UTI yang meningkat pada trimester ketiga juga disebabkan oleh rahim yang semakin membesar yang menekan kandung kemih, membuat otot kandung kemih menjadi lemah sehingga kandung kemih tidak dapat benar – benar kosong dan menyebabkan tumbuhnya bakteri di dalam urin yang tertahan.

Apa gejalanya?

Berikut ini adalah beberapa gejala UTI:

  • Keinginan untuk buang air kecil secara terus menerus
  • Sensasi panas dan rasa sakit ketika buang air kecil
  • Timbul darah pada urin
  • Rasa sakit di punggung bawah, perut, panggul, dan sisi-sisi
  • Urin berbau menyengat
  • Demam
  • Mual dan muntah

Komplikasi yang dapat terjadi bila tidak segera diobati

Jika tidak diobati, UTI dapat menyebabkan komplikasi serius selama kehamilan. Komplikasi tersebut termasuk:

  • Infeksi ginjal
  • Kelahiran prematur
  • Sepsis (infeksi darah)

Jika UTI menyebar hingga ke ginjal, maka dapat terjadi koplikasi lebih jauh, seperti:

  • Anemia
  • Tekanan darah tinggi
  • Preeklampsia
  • Hemolisis (kerusakan sel darah merah akibat gangguan integritas membran sel darah merah)
  • Trombositopenia (trombosit rendah)
  • Bacteremia (adanya bakteri di dalam aliran darah)
  • Acute respiratory distress syndrome (kondisi dimana tubuh tidak dapat menerima cukup oksigen dari paru-paru)

Di beberapa kasus, infeksi dapat menurun ke bayi yang baru lahir, menyebabkan komplikasi yang langka namun serius. 

Bagaimana cara mencegahnya?

Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk mencegah terjadinya UTI:

  • Meminum banyak air
  • Menggunakan celana dalam berbahan kapas sehingga area kemaluan Anda tetap berada dalam kondisi kering
  • Tidak memakai celana dalam di malam hari saat tidur
  • Meminum jus cranberry murni (tanpa gula) atau pil cranberry
  • Membersihkan area kemaluan dan anus dengan hati-hati
  • Menghindari douches (membersihkan vagina dengan menyemprotkan cairan khusus ke dalam vagina), parfum, atau spray
  • Hindari menahan kencing
  • Buang air kecil sebelum dan setelah berhubungan seksual

Ibu hamil seringkali melakukan pemeriksaan UTI di awal kehamilan. Pemeriksaan ini adalah tahap yang penting untuk membantu mencegah dan mendeteksi UTI.