Postpartum hemorrhage, atau PPH merupakan pendarahan berbahaya yang terjadi pasca persalinan. Berbeda dengan lokhia, PPH merupakan pendarahan hebat dimana seorang ibu kehilangan 500 ml darah atau bahkan lebih setelah persalinan. Walaupun pendarahan setelah persalinan bukanlah sesuatu yang asing, namun pendarahan hebat dimana Anda kehilangan 1 liter atau bahkan lebih dapat mempengaruhi kemampuan tubuh Anda untuk menjaga tekanan darah Anda, menyebabkan shock atau bahkan kematian. Postpartum hemorrhage pada umumnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

PPH primer merupakan kondisi dimana Anda kehilangan 500 ml atau lebih darah selama 24 jam pertama setelah persalinan Anda. PPH primer ini dapat digolongkan lagi menjadi minor (ketika Anda kehilangan 500 ml – 1 liter darah setelah persalinan) dan major (ketika Anda kehilangan lebih dari 1 liter darah setelah persalinan).

  • PPH Sekunder

PPH sekinder terjadi ketika Anda mengalami pendarahan yang tidak biasa atau pendarahan yang cukup deras dalam rentang waktu setelah 24 jam sampai 12 minggu setelah persalinan Anda.

Apa penyebab PPH?

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya PPH, diantaranya adalah 4T:

  • Tone

Atonic uterus atau atonia uteri sampai saat ini menjadi penyebab utama terjadinya PPH (70% kasus PPH disebabkan oleh atonia uteri). Atonia uteri merupakan kondisi dimana tonus otot rahim hilang sehinga rahim tidak dapat lagi berkontraksi. Setelah bayi dan plasenta Anda lahir, rahim Anda normalnya akan berkontraksi untuk membantu menekan pembuluh darah dimana pelepasan plasenta terjadi, sehinga tidak dapat mengurangi aliran darah yang keluar. Namun di kasus atonia uteri, rahim Anda tidak dapat berkontraksi sehingga menyebabkan terjadinya pendarahan. Apabila Anda mengalami pendarahan pasca persalinan dan rahim Anda terasa lunak, maka kemungkinan besar, pendarahan Anda disebabkan oleh atonia uteri.

  • Trauma

Selain atonia uteri, PPH juga dapat disebabkan oleh trauma. Bahkan, 20% dari kasus PPH disebabkan oleh trauma atau kerusakan pada rahim. Trauma ini dapat bermacam macam, mulai dari robekan di serviks atau jaringan vagina, pembuluh darah yang pecah di vagina, sampai di kasus langka, rahim yang pecah atau yang biasa disebut dengan ruptur uteri juga dapat menyebabkan PPH. Selain itu, hematoma (gumpalan darah di luar pembuluh darah yang terjadi ketika dinding pembuluh darah mengalami kerusakan sehingga darah keluar menuju jaringan yang bukan tempatnya dan membeku) yang pecah atau luka juga dapat menyebabkan PPH.

  • Tissue

Tissue disini berarti Anda mempunyai masalah dengan plasenta Anda (plasenta yang luka atau terlalu lengket). Sampai saat ini diperkirakan bahwa 10% kasus PPH disebabkan oleh hal ini. Masalah dengan plasenta dapat berarti plasenta Anda terlalu lengket atau terlalu rapuh sehingga dapat membuat sebagian plasenta Anda tertinggal di rahim ketika plasenta Anda lahir, plasenta Anda menutupi jalan lahir (plasenta privea), atau solusio plasenta (plasenta lepas sebelum waktunya) yang terjadi saat proses persalinan.

  • Thrombin

Thrombin merupakan protein yang berperan dalam penggumpalan darah dan membantu mencegah pendarahan saat persalinan. Terkadang, di beberapa kasus tertentu, walaupun cukup langka (kurang dari 1%), terdapat kondisi yang menyebabkan kurangnya thrombin dalam tubuh dan menyebabkan PPH. Beberapa kondisi tersebut antara lain adalah penyakit von Willebrand, hemofilia, dan idiopathic thrombocytopenia purpura yang biasanya terdiagnosa melalui beragam tes darah. 

Apa gejalanya?

Berikut ini adalah beberapa gejala PPH yang paling umum:

  • Pendarahan terus menerus dan tidak dapat dikendalikan, tidak kunjung berhenti, dan tidak mereda
  • Penurunan tekanan darah atau terjadi tanda tanda shock. Penurunan tekanan darah dan shock dapat ditandai dari pandangan yang memudar, tubuh merinding, kulit lengket secara tiba tiba, atau dtgup jantung yang sangat cepat, perasaan bingung, pusing, lemah, atau mengantuk secara tiba tiba, dan perasaan seperti Anda ingin pingsan.
  • Mual atau muntah
  • Kulit pucat
  • Pembengkaan atau rasa sakit di sekitar vagina atau di perineum (area diantara vagina dan rektum) 

Siapa yang beresiko terkena PPH?

 

Apabila Anda temasuk dalam beberapa faktor resiko dibawah ini, penting diingat bahwa Anda kemungkinan besar juga tidak akan terkena PPH saat persalinan. Bahkan, faktanya, sebagian besar ibu yang mengalami PPH tidak mempunyai resiko apapun. Walaupun begitu, apabila Anda termasuk dalam orang yang beresiko terkena PPH, ada baiknya bahwa Anda melahirkan di rumah sakit dan telah memiliki akses untuk tranfusi darah apabila Anda memerlukannya. Berikut ini adalah beberapa faktor resiko PPH:

Sebelum persalinan:

  • Plasenta privea (plasenta menutupi jalan lahir)
  • Solusio plasenta (plasenta yang lepas dari rahim sebelum waktunya)
  • Hamil anak kembar
  • Preeklampsia atau tekanan darah tinggi
  • Riwayat PPH di kehamilan sebelumnya
  • Obesitas
  • Anemia
  • Fibroid rahim (tumor rahim)
  • Penggumpalan darah bermasalah
  • Mengkonsumsi obat pengencer darah

Saat persalinan:

  • Persalinan melalui operasi sesar
  • Persalinan dengan induksi
  • Kelahiran plasenta yang tertunda atau plasenta yang tertahan
  • Robekan perineum atau episiotomi (robekan yang sengaja dibuat untuk membantu proses persalinan)
  • Persalinan menggunakan forsep atau vakum
  • Persalinan lama (lebih dari 12 jam)
  • Bayi besar (berat badan bayi lebih dari 4 kg)
  • Persalinan bayi pertama di umur lebih dari 40 taun
  • Mengalami demam selama proses persalinan
  • Bius total saat proses persalinan

Seringkali, resiko-resiko diatas ada diluar kendali Anda, maka dari itu sangatlah penting bagi Anda untuk membuat birth plan selama kehamilan untuk mempersiapkan persalinan Anda, dan di dalam birth plan Anda, tidak hanya provider yang Anda cari, namun juga sumber untuk transfusi darah apabila PPH terjadi. Namun, apabila Anda mengalami anemia selama kehamilan, Anda dapat mengkonsumsi makanan-makanan yang dapat membantu mengatasi anemia Anda. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai anemia selama kehamilan, klik disini.

Bagaimana pengobatannya?

Tujuan penanganan PPH adalah untuk menghentikan pendarahan secepat mungkin. Dalam penanganannya, biasanya provider Anda akan memberikan Anda obat suntik untuk membantu menghentikan pendarahan serta memberikan infus dan oksigen. Selain itu, Anda akan diberikan transfusi darah atau obat yang dapat membantu untuk penggumpalan darah. Apabila pendarahan Anda disebabkan oleh plasenta yang tertinggal dalam rahim Anda, maka provider Anda akan memasukkan tangannya dan merogoh sisa-sisa plasenta yang masih menempel di rahim Anda. Apabila setelah semua itu pendarahan terus berlanjut, tindakan operasi mungkin akan diperlukan. Berikut ini adalah beberapa prosedur yang mungkin akan dilakukan oleh provider kesehatan Anda untuk membantu mengkontrol pendarahan:

  • Provider Anda mungkin akan memasukkan “balon” di dalam rahim Anda untuk membantu menekan pembuluh darah yang pecah, menghentikan pendarahan. Balon ini biasanya akan diambil di hari selanjutnya.
  • Operasi laparotomi (prosedur bedah yang bertujuan untuk membuka dinding perut agar dapat memiliki akses ke organ-organ di area perut yang memerlukan tindakan tertentu) mungkin akan dilakukan untuk menghentikan pendarahan. Laparotomi biasanya diikuti dengan menali atau menutup pembuluh darah tang pecah dengan jahitan, gel kusus, atau lem khusus.
  • Terkadang, hysterectomi (pengangkatan rahim) mungkin juga dilakukan untuk mengendaliakn pendarahan yang berlebihan.

Setelah pendarahan Anda dapat dihentikan, Anda biasanya akan diobservasi sampai kondisi Anda cukup baik untuk dipindahkan ke kamar postpartum.

PPH merupakan sesuatu yangs serius dan berbahaya, namun apabila diatasi dengan cepat dan pendarahan dapat segera dihentikan, Anda akan dapat pulih sepenuhya secara segera.