Kekerasan/ Pelecehan secara seksual
Membahas pelecehan seksual kebidanan sering kali merupakan hal yang paling tidak nyaman bagi banyak orang. Gagasan bahwa tubuh seorang wanita berpotensi di lecehkan secara seksual saat melahirkan tidak sesuai dengan apa yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai ‘pemerkosaan’. Namun, persalinan sebenarnya benar-benar tindakan seksual yang melibatkan semua organ & hormon seksual utama wanita. ketika terjadi kekerasan dan pelecehan terhadap area-area tersebut selama kelahiran maka akan berdampak besar pada seksualitas wanita pascapersalinan dan seterusnya, terutama jika wanita tersebut telah menjadi korban kekerasan seksual sebelumnya.

Contoh perilaku yang melecehkan secara seksual dapat meliputi:

  • alat kelamin ibu yang di paparkan secara sengaja dan diperlihatkan ke orang banyak yang tidak ibu kenal tanpa persetujuan.
  • pemeriksaan vagina secara berulang & menyentuh alat kelamin ibu tersebut oleh banyak (lebih dari satu) petugas kesehatan, bahkan seringkali dilakukan bergantian oleh anak praktek tanpa ijin.
  • Sentuhan tak terduga dan / atau kasar di sekitar alat kelamin
  • pemotongan area genital tanpa persetujuan (episiotomi).
  • Komentar dan / atau komentar tentang alat kelamin (misal; “gimana bu? mau di jahit yang rapet atau longgar ajah? biar besok suaminya enak dan merem melek? “) dan celotehan ini dilakukan saat proses penjahitan perineum. atau misalnya ; “wah bapaknya libur dulu ya nyusunya, ini buat adek bayi dulu! karena nanti kalau bapaknya ikutan nyusu, adek bayinya gakmau karena bau rokok, hahahah”

Menanggapi Kekerasan/ pelecehan yang sering terjadi di dunia Kebidanan

Meskipun itu bukan fenomena baru, namun adanya komentar komentar yang banyak beredar di sosial media berkaitan dengan hal ini berarti menunjukkan bahwa pada kenyataan di lapangan, bahwa kekerasan/pelecehan pada dunia  kebidanan itu  terjadi dan benar adanya, dan bahwa ibu ibu yang mengalaminya dapat mengalami gejala depresi pascapersalinan karena pengalaman kelahiran mereka secara tidak sadar membayang bayangi mereka.

sayangnya hingga detik ini di Indonesia belum ada aturan hukum yang mengaruh secara khusus hal ini. seringkali ketika seorang ibu mengalami kekerasan ini dan bercerita kepada orang lain, maka orang lainpun mengabaikan atau bahkan meminta si ibu untuk tidak mempermasalahkannya karena hal terpenting adalah bayi yang dilahirkan sehat secara fisik.