3. Mencintai diri sendiri lebih dan memanjakan diri dengan pijat bagus sekali-sekali. Pergi ke gym juga dapat membantu. Ini akan membebaskan pikiran Anda dari pikiran stres dan melepaskan ketegangan tubuh Anda.

Mengerjakan hobi Anda dan jangan lupa untuk melakukan relaksasi secara teratur. Kegiatan rekreasi memiliki efek signifikan terhadap pikiran kita.

4. Menjaga anak-anak juga dapat meningkatkan tingkat oksitosin.

5. Meditasi dan relaksasi akan membantu Anda merasa lebih mencintai dan dicintai.

Namun dalam situasi tertentu, tubuh tidak Bisa Membuat Oksitosin. Atau kalaupun tubuh memproduksi oksitosin, levelnya-pun rendah sekali. Nah Beberapa contoh adalah:

1. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Mereka dengan PTSD berada dalam keadaan kecemasan konstan dan ketakutan tingkat rendah. Kecemasan ini bisa klimaks ketika terkejut atau dalam situasi yang bisa menjadi pemicu.

Telah ditemukan bahwa oksitosin mengurangi kecemasan orang-orang dengan latar belakang PTSD. (1) Meskipun oksitosin dapat mengurangi kecemasan setelah trauma, itu tidak mempengaruhi memori yang sebenarnya dari trauma itu sendiri.

2. Childhood Trauma dan Birth Trauma. Trauma masa bayi, bahkan saat dia di lahirkan atau usia anak dapat mempengaruhi kadar oksitosin selama bertahun-tahun, puluhan tahun, atau bahkan seumur hidup.

Ketika trauma masa kanak-kanak terjadi, tubuh dan pikiran terlibat mekanisme pertahanan adaptif yang mengurangi tingkat produksi oksitosin. Jenis pemrograman adalah mekanisme bertahan hidup. Hal ini dapat mempengaruhi hubungan dan bahkan kesehatan fisik.

3. Autism Spectrum Disorder (ASD). Dalam kasus-kasus tertentu autisme, situs reseptor untuk oksitosin secara genetik tidak tersedia. Ketika oksitosin oksitosin di produksi, dia tidak bisa melakukan tugasnya karena tak ada reseptor-nya dalam tubuh Anak penderita ASD. Kadang-kadang pada mereka dengan ASD, produksi oksitosin juga sangat rendah.

4. Klien yang mempunyai gangguan di saluran pencernaannya. Nah, Bagaimana Hormon Cinta Mempengaruhi Pencernaan, Dr Michael Gerson, penulis “The Brain” dan ketua departemen anatomi dan biologi sel di Columbia University, menemukan bahwa banyak pasiennya yang datang dengan gangguan usus kronis memiliki riwayat trauma masa kecil.