Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik yang di tulis oleh Rebecca Grand dua tahun yang lalu yang membahas tentang Etika di ruang bersalin, tentang kekerasan /abuse/violent yang terjadi di ruang bersalin serta membahas tentang siapa yang memegang kendali saat seorang ibu bersalin.

Anda bisa membacanya dengan lengkap disini

namun saat ini, saya akan mencoba menceritakan kembali tentang kisah yang saya baca ini, lalu mencoba mengajak Anda untuk merenungkannya.

#true story

jadi critanya, ada seorang ibu namanya Turbin dari daerah Los Angeles, suatu sore saat dia hendak makan malam bersama temannya menikmati hidangan seafood di deket pelabuhan, ternyata tiba tiba ketubannya pecah dan alhasil, dia tidak jadi makan malam, namun pergi ke sebuah rumah sakit.

begitu sampai di rumah sakit, dia berharap di perlakukan dengan lembut (mengingat dia latar belakangnya adalah korban pemerkosaan, jadi dia punya trauma yang mendalam berkaitan dengan reproduksi), namun yang terjadi adalah petugas kesehatan di rumah sakit itu sangat kasar memperlakukannya, dan bahkan dia dipaksa untuk di infus dan di pasang epidural. lalu saat proses persalinan terjadi, tanpa permisi, dokter yang menanganinya melakukan episiotomy. bahkan melakukannya dengan menggunting berulang kali (mungkin guntingnya tumpul saat itu sehingga episiotomi di lakukan beberapa kali guntingan) dan itu terasa sangat sakit, bahkan ibunya Turbin pun menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa anaknya di lakukan episiotomy beberapa kali tanpa permisi dan bahkan di paksa.

karena Turbin trauma dan efek episiotomy ternyata masih dirasakan dalam jangka panjang, selama dua tahun Turbinmencari pengacara yang mau menangani kasusnya.

Episiotomi adalah sayatan bedah yang dilakukan pada perineum – area antara anus dan vulva. Selama abad ke-18 dan 19, dokter menggunakan teknik ini untuk mempercepat proses persalinan tetapi hanya dalam keadaan darurat. Namun, pada pertemuan American Gynecological Society pada tahun 1920, dokter kandungan terkemuka Joseph DeLee merekomendasikan agar dokter menggunakan episiotomi sebagai hal yang biasa untuk mencegah robekan perineum, yang viasa terjadi pada proses persalinan normal. Alasannya adalah luka tersebut akan mudah sembuh dan rapih di banding robekan alami yang sering ada. Pada tahun 1979, 62,5 persen dari semua kelahiran dan 80 persen dari kelahiran pertama kali di AS dilakukan episiotomi.