1. otot penyangga dan ligamen panggul yang tidak terstruktur, tetap kokoh

Selama kehamilan dan proses persalinan hormon relaksin melembutkan ligamen yang bergabung dengan tulang panggul, sehingga panggul dapat ‘stretch’. Tingkat ekspansi yang dicapai panggul akan bervariasi dari wanita dengan wanita dan dari kehamilan satu dengan kehamilan yang lain

2. Moulase pada Kepala bayi

Kepala Bayi terdiri dari tulang terpisah yang bergerak relatif satu terhadap yang lain, yang memungkinkan kepala bayi untuk moulase atau melakukan tumpang tindih dan dengan demikian maka akan mengurangi diameter kepala selama perjalanan menuruni jalan lahir. Tidak seorangpun dapat memprediksi kapasitas molase kepala bayi, karena ini adalah fitur dari proses lahir normal, yang seharusnya tidak mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan bayi.

panduan-audio-hypnofertility-ads

3. Posisi dimana seorang wanita beradaptasi selama persalinan dan melahirkan membuat perbedaan untuk dimensi panggul

Jongkok, misalnya, dapat meningkatkan luas pengukuran panggul sampai 30%. Salah satu posisi yang paling umum untuk wanita ketika melahirkan, yaitu dengan agak bersandar (setengah duduk) di mana berat badan ibu tertumpu pada tulang ekor nya, akan membatasi gerakan tulang ekor, yang sebenarnya sangat bisa di ajak kompromi untuk memperluas panggul. Dengan menghindari posisi ini saat persalinan, seorang wanita mungkin akan mampu melahirkan secara normal pervagina dan lebih lancar karena luas panggul bertambah.

4. Posisi bayi

Posisi bayi dapat menjadi sangat penting, karena ini akan berhubungan dengan seberapa diameter luas panggul yang diperlukan untuk dapat dilewati kepala bayi.

Bagaimana jika saya telah memiliki diagnosis CPD sebelumnya?

Memang, banyak kasus didokumentasikan di mana wanita yang telah didiagnosa menderita CPD dan kemudian dapat bersalin normal melalui vagina namun seringkali ketika diagnosis CPD telah dibuat, banyak orang masih percaya bahwa ini merupakan alasan untuk mengulangi caesar.

saya percaya ada kasus CPD namun kejadian CDP murni sangatlah jarang, beberapa kasus yang saya lihat adalah posisi bayi dengan presentasi asynclitic sehingga bayi sulit untuk turun panggul langsung di nilai atau di cap sebagai CPD. Selain itu sering kali diagnose CPD di beritahukan kepada seorang ibu karena si ibu berpostur tubuh pendek. Padahal belum tentu ibu dnegna postur tubuh pendek selalu menderita CPD. Karena beberapa pasien saya mempunyai postur tubuh yang pendek namun ternyata dia bisa melahirkan secara normal pervagina. Kadang ada ketidakjujuran dan kurangnya pemahaman yang benar dari kemampuan tubuh seorang wanita dalam proses persalinan. Dan ini terjadi terutama ketika ada seorang dokter yang mengatakan bahwa si ibu panggulnya sempit sehingga persalinannya harus dibantu dengan vacuum atau forsep. Dimana logikanya apakah kepala hanya akan bisa masuk panggul saat ditarik keluar dengan paksa?