OPERASI SESAR; INDIKASI & EFEK SAMPING yang ANDA HARUS TAHU!

Menurut WHO (2025), Operasi Sesar merupakan Operasi Perut Besar yang Paling Sering Dilakukan di Dunia dan Angka persalinan dengan operasi sesar terus meningkat:

  • Tahun 1990: 6% ibu melahirkan lewat SC
  • Tahun 2018: 21%
  • Diperkirakan tahun 2030: mencapai 30%

Artinya: sekitar 38 juta perempuan akan melahirkan dengan operasi sesar pada tahun 2030, dan 88% dari operasi itu akan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (seperti Indonesia).

⚠️ Risiko Operasi Sesar Tidak Sebatas Hari Ini

Meski sering dianggap “aman” dan “praktis”, operasi sesar adalah prosedur kompleks yang mencakup:

  • Tindakan pra operasi (misalnya anestesi, pemasangan infus, dll)
  • Tindakan selama operasi (sayatan, pengeluaran bayi, penjahitan)
  • Perawatan pasca operasi (pemulihan luka, risiko infeksi, dll)

Sama seperti bedah besar lainnya, SC membawa risiko jangka pendek dan panjang—
yang dapat memengaruhi kesehatan ibu, bayi, bahkan kehamilan-kehamilan berikutnya.

Risiko ini semakin tinggi pada ibu yang tidak punya akses ke perawatan kebidanan menyeluruh atau mendapat intervensi medis yang tidak sesuai standar.

Operasi sesar atau sectio caesarea (SC) sering dianggap sebagai “jalan pintas” untuk melahirkan. Praktis, bisa dijadwalkan, dan terasa aman. Tak jarang, ibu hamil yang belum mendapat edukasi menyeluruh langsung diarahkan ke SC hanya karena alasan yang tidak berbasis bukti—misalnya karena usia, postur tubuh, atau perkiraan berat janin.

Padahal, meskipun menyelamatkan nyawa dalam kondisi darurat, operasi sesar tetaplah sebuah prosedur bedah besaryang membawa sejumlah risiko jangka pendek dan panjang. Risikonya bukan hanya bagi ibu, tapi juga bagi bayi, dan bahkan keluarga secara keseluruhan.

  1. Risiko Fisik bagi Ibu

Sebagai prosedur bedah besar, operasi sesar melibatkan sayatan di dinding perut dan rahim. Ini membuka potensi komplikasi medis, antara lain:

⚠️ Risiko Jangka Pendek (Pasca Operasi)

  • Infeksi luka operasi (endometritis, infeksi kulit atau jaringan dalam)
  • Pendarahan pasca SC (kadang butuh transfusi)
  • Nyeri pasca operasi yang berkepanjangan
  • Gangguan mobilitas awal (ibu lebih lama pulih, sulit menyusui dini)
  • Risiko anestesi (reaksi alergi, hipotensi, gangguan pernapasan)

⚠️ Risiko Jangka Panjang

  • Adhesi (perlengketan organ) yang bisa menyebabkan nyeri panggul kronis, gangguan pencernaan, hingga masalah kesuburan
  • Plasenta akreta, increta, perkreta pada kehamilan selanjutnya (plasenta menempel terlalu dalam di dinding rahim)
  • Robekan rahim (uterine rupture) di kehamilan selanjutnya
  • Komplikasi pada operasi ulangan, seperti cedera kandung kemih atau usus
  • Kematian maternal lebih tinggi pada SC dibanding persalinan normal (WHO, 2015)
  1. Risiko Psikologis bagi Ibu
  • Rasa kehilangan kendali saat melahirkan, apalagi jika SC dilakukan tanpa informed consent yang baik
  • Baby blues atau depresi pasca persalinan lebih tinggi pada ibu SC (terutama jika SC dilakukan mendadak/darurat)
  • Gangguan bonding karena tertundanya IMD atau pisah ruang dengan bayi
  • Trauma lahir (birth trauma) yang dapat membekas bertahun-tahun dan memengaruhi kepercayaan diri di kehamilan selanjutnya

“Banyak ibu merasa tubuhnya rusak atau gagal karena tidak bisa melahirkan ‘normal’ bahkan banyak ibu yang berfikir bahwa dia belum seutuhnya menjadi ibu karena belum melahirkan normal alami — padahal tubuhnya tidak gagal. Sistemlah yang sering tidak memberi ruang.”

  1. Risiko Bagi Janin/Bayi
  • Gangguan transisi pernapasan (karena tidak mengalami tekanan alami dari jalan lahir)
  • Risiko TTN (Transient Tachypnea of the Newborn) – napas cepat karena cairan paru belum keluar sempurna
  • Gangguan IMD dan menyusui dini karena pisah ruang atau efek obat
  • Risiko prematur iatrogenik – bayi dilahirkan terlalu cepat karena salah hitung usia kehamilan
  • Cedera saat operasi (misal: sayatan pada kulit bayi secara tidak sengaja – meskipun jarang)
  1. Dampak Ekonomis bagi Keluarga: Tak Hanya Soal Uang, Tapi Waktu dan Tenaga

Banyak yang mengira bahwa karena operasi sesar bisa ditanggung BPJS, maka tidak ada beban ekonomi. Tapi sesungguhnya, biaya langsung hanyalah satu sisi dari cerita besar yang jarang dibahas:

Biaya Langsung (Langsung Terkait Prosedur Medis)

  • Memang benar, BPJS menanggung biaya operasi sesar, namun:
    • Tidak semua fasilitas atau dokter favorit ibu menerima BPJS.
    • Jika terjadi komplikasi (seperti pendarahan atau infeksi), biaya tambahan bisa tetap muncul.
  • Tambahan kebutuhan medis seperti:
    • Obat pereda nyeri lanjutan di rumah
    • Vitamin pemulihan luka
    • Salep atau perban khusus
    • Perawatan NICU jika bayi lahir prematur atau mengalami gangguan pernapasan (TTN)

➡️ Dalam beberapa kasus, keluarga tetap harus mengeluarkan dana pribadi untuk menutupi kebutuhan non-medis yang tidak ditanggung BPJS, seperti doula, konseling psikologis, atau pendamping laktasi.

Biaya Tidak Langsung (Sumber kerepotan utama pasca operasi)

Waktu Pemulihan Ibu Lebih Lama

  • Setelah SC, ibu tidak bisa langsung bangun dan bergerak bebas seperti pada persalinan pervaginam.
  • Aktivitas dasar seperti menyusui, gendong bayi, atau sekadar ke kamar mandi bisa terasa sangat menyakitkan.
  • Pemulihan penuh butuh waktu berminggu-minggu hingga bulanan.

Suami atau Pendamping Harus Cuti Lebih Lama

  • Karena ibu terbatas secara fisik, maka beban domestik, mengurus bayi, dan perawatan luka sering jatuh ke suami, orang tua, atau asisten rumah tangga—yang semuanya berdampak ekonomi.
  • Jika suami bekerja harian atau tanpa cuti dibayar, ini berarti pendapatan keluarga bisa turun.

Beban Emosional & Biaya Psikologis

  • Banyak ibu mengalami trauma pasca operasi, terutama jika SC dilakukan mendadak atau tanpa edukasi.
  • Ini bisa berdampak pada kualitas bonding, semangat menyusui, hingga kepercayaan diri ibu.
  • Biaya terapi atau konseling, jika diperlukan, tentu tidak ringan—dan belum tentu ditanggung BPJS.

Contoh Kasus Nyata yang Terjadi:

“Saya SC gratis pakai BPJS, tapi pulangnya malah bingung. Harus beli salep luka, vitamin, bayar orang jaga bayi karena saya nggak bisa banyak gerak, suami juga jadi cuti seminggu nggak digaji.”
— Testimoni seorang ibu dua anak di Klaten.

Operasi sesar memang bisa menyelamatkan jiwa—saat memang dibutuhkan.
Namun jika dilakukan tanpa indikasi medis yang tepat, maka yang terjadi adalah:

  • Biaya terselubung yang tak tampak di tagihan rumah sakit,
  • Beban kerja berlipat bagi keluarga,
  • Penurunan kualitas pemulihan ibu,
  • Dan trauma emosional yang memengaruhi perjalanan menjadi ibu secara utuh.

➡️ Edukasi adalah kunci utama agar ibu bisa membuat keputusan yang sadar, bukan sekadar pasrah.

saya coba jelaskan dengan lebih detail disertai dengan alurpikir supaya Anda bisa memahami dengan lebih jelas ya, karena banyak yang mengira bahwa sesar adalah solusi “aman, praktis dan cepat” untuk melahirkan.
Tapi jarang yang diajak berpikir: setelah operasi itu, apa yang terjadi pada ibu, bayi, keluarga, bahkan masa depan emosional dan psikologis mereka?

Karena yang terjadi bukan hanya lahirnya bayi dari perut—tetapi juga lahirnya:

  • Luka fisik yang harus dipulihkan
  • Luka emosi yang belum tentu disadari
  • Tantangan dalam merawat bayi di masa awal
  • Keseimbangan hormon yang terganggu
  • Dan proses menjadi ibu yang terputus dan penuh PR
  1. Dampak FISIK: Luka yang Tak Terlihat Mata
  • Operasi sesar adalah bedah besar di rongga perut dan rahim — bukan prosedur ringan.
  • Setelah SC, ibu harus menghadapi:
    • Nyeri di perut bawah dan luka bekas jahitan
    • Sulit bergerak, duduk, atau berdiri sendiri
    • Tantangan menyusui dini (karena terbatasnya mobilitas)
    • Gangguan tidur akibat nyeri dan posisi menyusui yang tidak nyaman

➡️ Akibatnya: Pemulihan tubuh menjadi lebih lama, sehingga ibu lebih cepat lelah, lebih mudah stres, dan tidak bisa sepenuhnya hadir secara utuh di hari-hari awal kehidupan bayi.

  1. Dampak PSIKOLOGIS: Luka yang Sering Diabaikan
  • Banyak ibu SC merasa “gagal” menjadi ibu karena tidak bisa melahirkan “normal”.
  • Perasaan kehilangan kendali saat lahir → membuat ibu merasa pasrah dan tak berdaya.
  • Efek trauma dari pengalaman medis yang cepat, invasif, dan tanpa edukasi.
  • IMD (Inisiasi Menyusu Dini) sering tertunda atau tidak dilakukan → bonding emosional terganggu.

➡️ Akibatnya:

  • Ibu cenderung cemas berlebihan terhadap bayi.
  • Rentan mengalami baby blues atau postpartum depression.
  • Merasa asing dengan bayinya sendiri.
  • Menolak tubuhnya karena luka dan rasa sakit yang bertahan lama.
  1. Dampak terhadap HUBUNGAN dan PARENTING
  • Proses bonding yang tertunda berisiko memengaruhi:
    • Keterikatan emosional ibu-anak
    • Sensitivitas ibu terhadap kebutuhan bayi (termasuk sinyal lapar, lelah, butuh dipeluk)
  • Ibu yang kelelahan atau belum pulih emosinya → lebih mudah frustrasi saat bayi menangis terus
  • Peran ayah sering bingung: apakah harus jadi caregiver penuh, atau mundur?

➡️ Akibatnya: Kualitas hubungan suami-istri dan hubungan orang tua-anak bisa ikut terganggu.

  1. Dampak terhadap TUMBUH KEMBANG BAYI dan Kesehatan Mental Ibu
  • Hormon oksitosin dan endorfin yang mendukung regulasi emosi dan sistem imun bayi keluar optimal saat proses lahir alami → pada SC, ini bisa terhambat.
  • Bayi yang tidak mengalami tekanan jalan lahir cenderung:
    • Memiliki masalah pernapasan awal (TTN)
    • Lebih mudah kolik
    • Sulit menyusu
  • Ibu yang trauma dan belum pulih → berdampak pada kualitas interaksi sehari-hari dengan bayi
    → Padahal, interaksi awal adalah fondasi perkembangan emosional dan sosial bayi.

➡️ Efek jangka panjangnya: Gangguan regulasi emosi, pola tidur tidak stabil, bahkan kecenderungan masalah atensi dan perilaku di usia sekolah (riset: Birth-related PTSD in mothers & child behavior outcomes, Ayers et al.)

  1. Dampak JANGKA PANJANG bagi KEHAMILAN dan KEHIDUPAN SELANJUTNYA
  • SC meningkatkan risiko kehamilan berikutnya, seperti:
    • Plasenta akreta (plasenta menempel terlalu dalam)
    • Robekan rahim
    • SC ulang yang makin rumit
  • Beban ekonomi bertambah:
    • Pemulihan panjang = butuh cuti atau bantuan pihak ketiga
    • Biaya terapi luka dan psikologis
    • Biaya perawatan bayi jika ada komplikasi

➡️ Ini bukan hanya memengaruhi satu momen kelahiran, tapi bisa mengubah arah seluruh perjalanan hidup ibu dan keluarganya.

Operasi Sesar Bukan Akhir, Tapi Awal dari Banyak Proses Pemulihan

SC bukanlah pilihan yang salah—jika memang dibutuhkan.
Tapi saat dilakukan tanpa pertimbangan matang dan tanpa pendampingan pasca lahir,
maka ia menjadi pintu dari berbagai luka fisik, psikis, dan relasional yang butuh disadari dan dipulihkan.

Berarti sebenarnya seorang ibu harus mengerti dengan jelas apa saja INDIKASI OPERASI SESAR sebelum memutuskan untuk melakukan OPERASI SESAR kan?

tidak memungkinkan atau berisiko tinggi menimbulkan komplikasi serius bagi ibu, janin, atau keduanya. Dalam praktik obstetri, keputusan untuk melakukan SC didasarkan pada indikasi medis, bukan preferensi semata (kecuali elective cesarean by request).

Indikasi ini dibagi menjadi dua kelompok besar:

Indikasi Absolut Operasi Sesar (SC): Ketika Persalinan Normal Tidak Bisa Dilakukan Sama Sekali

Indikasi absolut adalah kondisi medis darurat atau mutlak yang membuat persalinan pervaginam tidak mungkin dilakukan, karena akan membahayakan nyawa ibu, janin, atau keduanya. Pada kasus ini, operasi sesar bukan pilihan—tapi keharusan.

Namun, dalam praktik lapangan, indikasi absolut ini jumlahnya sangat sedikit. WHO menyebut hanya sekitar 10–15% dari semua kelahiran yang benar-benar membutuhkan operasi sesar demi keselamatan.

1. Plasenta Previa Totalis

Definisi medis:
Plasenta menutupi seluruh jalan lahir (ostium uteri internum), sehingga bayi tidak mungkin keluar lewat vaginatanpa memicu perdarahan hebat.

Risiko:

  • Pendarahan masif saat pembukaan jalan lahir → mengancam nyawa ibu dan bayi.
  • Tidak ada ruang aman bagi kepala janin untuk turun ke jalan lahir.

Realitas di lapangan:

  • Plasenta previa sering bisa dideteksi sejak trimester 2 lewat USG transvaginal.
  • Namun, banyak ibu tidak diberi penjelasan cukup tentang jenis previa-nya (totalis vs parsialis), dan langsung dijadwalkan SC bahkan ketika plasenta masih bisa bermigrasi seiring rahim membesar.

⚠️ Catatan penting: plasenta previa totalis adalah indikasi absolut, tapi previa parsialis atau letak rendah tidak selalu SC jika tidak perdarahan dan bisa dipantau.

2. Letak Lintang Tetap (Transverse Lie)

Definisi medis:
Janin melintang (posisi horizontal di rahim) dan tidak bisa masuk panggul, sehingga persalinan normal tidak bisa dilakukan.

Risiko:

  • Tidak ada bagian tubuh bayi yang bisa menekan serviks secara aman.
  • Jika ketuban pecah dalam kondisi ini, risiko prolaps tali pusat dan rupture uterus sangat tinggi.

Realitas di lapangan:

  • Banyak kasus letak lintang dapat dikoreksi sebelum persalinan dengan teknik alami seperti mova, posisi miring, atau ECV (external cephalic version).
  • Namun tidak sedikit yang langsung dijadwalkan SC tanpa edukasi atau usaha koreksi.
3. Prolaps Tali Pusat (Cord Prolapse)

Definisi medis:
Tali pusat turun duluan dan keluar ke vagina sebelum kepala janin → tali terjepit antara janin dan panggul ibu.

Risiko:

  • Sirkulasi oksigen ke janin bisa berhenti total dalam hitungan menit.
  • Kondisi ini darurat dan mengancam nyawa janin secara instan.

Realitas di lapangan:

  • Bisa terjadi saat ketuban pecah mendadak, terutama pada janin kecil, air ketuban banyak, atau presentasi tidak kepala.
  • Tindakan SC harus dilakukan segera, biasanya dalam waktu <30 menit.
4. Ruptur Uteri (Robekan Rahim)

Definisi medis:
Rahim robek sebagian atau seluruhnya, biasanya pada bekas luka operasi sebelumnya yang tidak kuat menahan kontraksi.

Risiko:

  • Janin bisa terlempar keluar rongga rahim ke peritoneum.
  • Kehilangan darah masif, risiko kehilangan rahim, dan kematian ibu-bayi.

Realitas di lapangan:

  • Ruptur uteri jarang sekali terjadi secara spontan, terutama pada VBAC dengan sayatan bawah transversal.
  • Namun, sering dijadikan ketakutan yang dilebih-lebihkan untuk mendorong SC elektif, padahal risikonya <1% pada VBAC dengan penilaian yang baik.
5. Disproporsi Sefalopelvik Berat (True CPD)

Definisi medis:
Ketidaksesuaian ukuran antara kepala bayi dengan panggul ibu yang tidak bisa dilalui sama sekali, bahkan dengan kontraksi optimal dan posisi janin ideal.

Risiko:

  • Proses persalinan akan macet total.
  • Risiko distosia bahu, trauma lahir, atau cedera maternal meningkat drastis.

Realitas di lapangan:

  • CPD sangat sering disalahgunakan sebagai “justifikasi” untuk SC dini.
  • Diagnosis CPD seharusnya hanya dapat ditegakkan setelah uji coba persalinan aktif (trial of labor) gagal, bukan berdasarkan pemeriksaan jari (VE) saja.
  • Banyak ibu dijuluki “panggul sempit” padahal belum diberi kesempatan lahir aktif dan bergerak.

“Sebagian besar kelahiran bisa dilakukan pervaginam dengan aman jika ibu mendapatkan pendampingan berbasis bukti, waktu yang cukup, dan kebebasan bergerak.”

  • WHO menyatakan bahwa angka ideal SC nasional seharusnya antara 10–15%, mencerminkan kebutuhan medis sebenarnya.
  • Namun di Indonesia, angka SC telah melebihi 20–30% di rumah sakit perkotaan, banyak dilakukan atas nama indikasi “absolut” yang belum tentu valid.

jadi sebenarnya….

✅ Indikasi absolut memang nyata dan menyelamatkan nyawa.
❌ Tapi dalam praktiknya, banyak yang disamaratakan atau dibesar-besarkan.
Maka penting bagi setiap ibu untuk memahami jenis indikasi, mencari second opinion, dan menyusun birth planyang memperjuangkan hak tubuhnya.

Indikasi Relatif Operasi Sesar (SC): Ketika Lahir Normal Masih Mungkin, Tapi…

Indikasi relatif adalah kondisi yang berpotensi membuat persalinan pervaginam lebih berisiko, namun tidak mustahil dilakukan jika ditangani dengan benar, dalam fasilitas yang memadai, dan oleh provider yang kompeten.

Justru pada kasus inilah “gray area” sering muncul—karena keputusan SC bisa sangat dipengaruhi oleh preferensi provider, bukan kondisi klinis murni. Di sinilah pentingnya edukasi, second opinion, dan birth plan.

Berikut daftar indikasi relatif yang umum disampaikan:

1. Presentasi Sungsang (Breech Presentation)

Definisi medis:
Janin tidak berada dalam posisi kepala di bawah (kepala di atas, kaki atau bokong di bawah).

Risiko:

  • Kepala bayi (bagian terbesar) keluar paling akhir → risiko terjebak.
  • Bahu dan lengan bisa sulit keluar → distosia.

Realitas di lapangan:

  • Banyak dokter langsung menjadwalkan SC pada kehamilan sungsang tanpa upaya koreksi posisi janin terlebih dahulu.

Padahal, External Cephalic Version (ECV) terbukti efektif mengubah posisi janin (sukses 50–70% jika dilakukan oleh provider terlatih).

Breech birth bisa dilakukan normal jika:

  • Bayi dalam posisi frank breech
  • Ukuran bayi tidak terlalu besar
  • Persalinan spontan, dan ibu diberi keleluasaan bergerak
  • Penolong persalinan terlatih breech birth
  • WHO & ACOG menyatakan: “Breech is not an automatic indication for cesarean.”
2. Kehamilan Kembar (Gemelli)

Risiko:

  • Risiko prematur, posisi janin tidak sejajar, plasenta ganda, tali pusat menumbung.

Realitas:

  • Bila janin pertama letak kepala → bisa lahir normal, bahkan jika janin kedua posisi bokong.
  • Namun banyak provider di lapangan kurang percaya diri menolong gemelli pervaginam, dan langsung menjadwalkan SC.

➡️ Catatan: ACOG, RCOG, dan WHO menyatakan bahwa persalinan normal kembar bisa dilakukan, dengan catatan kondisi janin baik dan persalinan terjadi di RS dengan tim siaga lengkap.

3. Riwayat Operasi Sesar Sebelumnya (VBAC)

Risiko yang ditakuti:

  • Uterine rupture (robeknya bekas luka di rahim).

Realitas:

  • Risiko rupture sangat rendah: 0.5–0.9% pada sayatan transversal bawah.
  • Tingkat keberhasilan VBAC 70–80% jika:
  • Sayatan sebelumnya adalah transversal bawah
  • Jarak kehamilan ≥18 bulan
  • Tidak ada komplikasi tambahan (misal: preeklamsia berat)
  • Sayangnya, banyak ibu ditakut-takuti oleh provider sendiri dan langsung dijadwalkan SC elektif tanpa penilaian individual.

➡️ Catatan penting: WHO, ACOG, dan banyak jurnal menyatakan VBAC adalah pilihan aman dan direkomendasikan untuk kebanyakan ibu dengan satu SC sebelumnya.

4. Makrosomia Janin (berat janin > 4.000–4.500 gram)

Risiko:

  • Distosia bahu
  • Robekan perineum
  • Cedera saraf bayi

Realitas di lapangan:

  • Perkiraan berat janin via USG punya deviasi 10–15% → sering overestimate.
  • Banyak SC dilakukan hanya berdasarkan “katanya bayinya besar”.
  • Padahal, ibu dengan postur tubuh proporsional dan pelvis baik tetap bisa lahir normal.

➡️ ACOG menyatakan: “Suspected fetal macrosomia is not an indication for cesarean unless the estimated fetal weight is over 5000 g in non-diabetic women.”

5. Preeklampsia Berat / Hipertensi Kehamilan

Risiko:

  • Kejang, stroke, gangguan organ
  • Gawat janin karena aliran darah terganggu

Realitas:

  • Jika tekanan darah terkontrol dan janin cukup umur → persalinan normal bisa dilakukan.
  • Namun banyak provider mengambil jalan pintas dengan SC karena ingin “main aman”, padahal bisa dilakukan induksi atau observasi ketat.

➡️ Kuncinya: monitoring ketat, antihipertensi aktif, dan pendampingan.

6. Infeksi Aktif Herpes Genital

Risiko:

  • Risiko transmisi virus ke bayi saat lahir
  • Bisa menyebabkan ensefalitis neonatal

Rekomendasi:

  • SC direkomendasikan hanya jika ada lesi aktif saat persalinan.
  • Jika tidak ada gejala saat lahir, persalinan pervaginam tetap aman.
7. Kelahiran Lewat HPL / Postdate (>41 minggu)

Realitas:

  • Banyak ibu yang langsung dijadwalkan SC begitu lewat HPL 1–2 hari
  • Padahal HPL adalah perkiraan, bukan deadline
  • Dengan pemantauan janin (NST, BPP), ibu bisa menunggu sampai 42 minggu jika tidak ada tanda gawat janin

➡️ SC bukan satu-satunya pilihan pada kehamilan postdate yang sehat.

“Indikasi relatif bukan alasan pasti untuk operasi—tapi justru peluang untuk memilih dengan sadar dan cermat.”

✅ Banyak kondisi yang bisa ditangani dengan dukungan, gerakan aktif, dan provider yang pro-fisiologis.
❌ Tapi sayangnya, banyak ibu tidak diberi kesempatan mencoba lahir normal.

3. Indikasi Elektif: Ketika Sesar Dipilih Bukan karena Darurat

Indikasi elektif artinya operasi sesar dilakukan secara terencana, bukan dalam situasi darurat medis. Alasannya bisa berasal dari ibu, keluarga, atau keputusan provider, dan biasanya masih membuka ruang diskusi, edukasi, serta pendekatan alternatif.

Operasi sesar tidak salah jika dipilih dengan informed consent yang matang, namun penting disadari bahwa keputusan ini perlu mempertimbangkan risiko jangka panjang, baik bagi ibu, bayi, maupun kehamilan berikutnya.

a. SC atas Permintaan Ibu (Maternal Request Cesarean / CDMR)

  • Ibu secara sadar memilih SC tanpa ada indikasi medis, karena alasan kenyamanan, ketakutan, trauma, atau tekanan sosial.

  • Diperbolehkan di beberapa sistem pelayanan (misalnya ACOG menyetujui dengan syarat edukasi lengkap), tapi tidak disarankan dilakukan tanpa konseling menyeluruh.

Realitas Lapangan:

  • Banyak ibu yang mengalami trauma persalinan sebelumnya atau takut tidak dilayani dengan baik jika lahir normal.
  • Ada juga yang memilih SC karena “lebih bisa direncanakan waktunya” atau “takut mengejan”.

  • Namun, risiko SC tetap berlaku, termasuk nyeri pasca operasi, gangguan bonding, dan efek pada kehamilan selanjutnya.

Catatan penting:
Keputusan ini sah jika disertai informed consent dan pendampingan psikologis. Idealnya, ibu ditawarkan opsi dukungan seperti hypnobirthing, kelas gentle birth, dan pendampingan doula untuk mengurangi rasa takut.

b. Riwayat Trauma Lahir Sebelumnya atau Tokophobia Berat

  • Tokophobia adalah ketakutan ekstrem terhadap persalinan, bisa bersifat primer (sebelum pernah melahirkan) atau sekunder (pasca pengalaman traumatis).

  • Bisa menyebabkan panic attack, insomnia, penolakan terhadap kehamilan, dan gangguan relasi.

Realitas Lapangan:

  • Tokophobia sering tidak dikenali oleh provider, dan malah dikomentari dengan: “Ibu jangan lebay,” atau “Jangan manja, semua ibu juga takut.”

  • Ibu akhirnya “memaksa” minta SC karena tidak mendapat pendekatan empatik.

  • Di beberapa kasus, SC menjadi solusi yang membuat ibu merasa lebih tenang dan bisa menjalani kehamilan tanpa kecemasan berlebih.

Catatan penting:
Tokophobia bisa diatasi dengan pendekatan traumainformed, terapi hypnobirthing, dan dukungan mental. Namun jika SC menjadi pilihan ibu dengan sadar dan dukungan, itu tetap valid.

3. Riwayat 3 Kali atau Lebih SC Sebelumnya (VBAC3C)
  • Banyak rumah sakit menjadikan “lebih dari dua SC” sebagai alasan langsung untuk SC ulang.

  • Alasannya: risiko ruptur uterus meningkat seiring jumlah sayatan sebelumnya.

Bukti Ilmiah:

  • Risiko ruptur uterus memang meningkat setelah 3 SC, tapi tidak mencapai level absolut.

  • Beberapa studi dan praktisi mendukung VBAC3C dengan monitoring ketat dan evaluasi menyeluruh (misalnya Lydon-Rochelle et al., 2001).

Realitas Lapangan:

  • Di Indonesia, sangat jarang provider mendukung VBAC3C.

  • Ibu yang berhasil melakukannya sering berjuang sendiri mencari tim yang pro VBAC, bahkan harus keluar kota atau ke luar negeri.

Catatan penting:
VBAC3C bisa dipertimbangkan secara individual, bukan langsung disimpulkan tidak bisa.

4. Kondisi Psikologis yang Tidak Memungkinkan Persalinan Spontan
  • Contoh: PTSD berat, gangguan panik, skizofrenia, bipolar tidak terkontrol.

  • Dalam kondisi ini, stimulasi hormon persalinan bisa memicu kekambuhan atau reaksi ekstrem.

Realitas Lapangan:

  • Keputusan SC bisa menjadi bagian dari perlindungan psikologis ibu, asalkan dibicarakan dengan tim yang terdiri dari dokter, psikolog/psikiater, dan bidan.

  • Tapi jika gangguan psikis masih ringan dan ibu mendapat dukungan mental, persalinan pervaginam tetap bisa dicoba.

Catatan penting:
Kesehatan mental adalah bagian penting dari maternal safety. Tidak semua gangguan psikis harus direspon dengan SC, tapi juga tidak boleh diabaikan.

Jadi….Indikasi elektif membuka ruang untuk pilihan sadar — bukan paksaan. Tapi juga mengingatkan kita bahwa:

“Setiap keputusan tentang cara melahirkan adalah keputusan besar yang akan memengaruhi tubuh, jiwa, dan hidup ibu serta bayinya dalam jangka panjang.”

Ingat ibu ibu,

Melahirkan, entah lewat jalan pervaginam atau melalui operasi sesar, adalah pengalaman yang mengubah hidup. Tapi di balik setiap pilihan medis, tersimpan harapan, ketakutan, dan harapan akan pemulihan. Sayangnya, tidak semua ibu diberi ruang untuk memahami, memilih, dan memulihkan dirinya secara utuh.

Operasi sesar memang menyelamatkan nyawa dalam banyak kondisi—tetapi ketika dilakukan tanpa pemahaman dan pendampingan yang memadai, ia bisa meninggalkan lebih dari sekadar luka fisik. Bisa jadi luka itu tersimpan dalam tubuh, hati, dan cara seorang ibu memandang dirinya sendiri.

Maka tugas kita bersama adalah menciptakan ruang untuk bertanya, belajar, dan menyembuhkan.

Ruang untuk tahu: Apakah saya benar-benar perlu SC?
Ruang untuk bertanya: Apakah saya bisa melahirkan normal lagi?
Ruang untuk percaya: Tubuh saya diciptakan dengan bijak dan kuat.

semoga bermanfaat.

DAFTAR REFERENSI

  1. Yesie Aprilia. (2025). #BebasTakut Melahirkan Per Vaginam Setelah Operasi Sesar. Jakarta: Gramedia
    ➤ Referensi utama yang membahas strategi VBAC, pemulihan trauma SC, afirmasi positif, dan edukasi persalinan fisiologis secara kontekstual, praktis, dan memberdayakan.

  2. World Health Organization (WHO). (2025). Caesarean Section Guidelines – Surgical Sub-group Development Announcement.
    ➤ Menyampaikan data global peningkatan angka SC, pentingnya konsensus praktik, dan pengembangan panduan evidence-based untuk pelaksanaan SC.

  3. Guise J-M, Eden K, Emeis C, et al. (2010). Vaginal Birth After Cesarean: New Insights. Evidence Report No. 191. Agency for Healthcare Research and Quality.
    ➤ Menyajikan tinjauan sistematik tentang keberhasilan dan risiko VBAC, termasuk faktor-faktor prediktif dan rekomendasi manajemen

  4. Ayers, S., & Pickering, A.D. (2001). Women’s expectations and experience of birth. Psychology & Health, 16(1), 39–56.
    ➤ Membahas hubungan antara trauma kelahiran dengan risiko gangguan emosional jangka panjang, termasuk tokophobia

  5. Lydon-Rochelle M, et al. (2001). Risk of uterine rupture during labor among women with a prior cesarean delivery. New England Journal of Medicine, 345(1), 3–8.
    ➤ Studi penting tentang risiko rupture uterus dalam VBAC, termasuk pada kasus VBAC2 dan VBAC3.

  6. Turner, M. J., et al. (2006). Elective repeat caesarean section versus planned vaginal birth after caesarean section: comparison of outcomes. The British Medical Journal.
    ➤ Perbandingan hasil kesehatan jangka pendek dan panjang antara VBAC dan SC ulangan elektif.




 








 

Similar Posts