Perhatian terbesar bagi wanita yang memiliki sesar sebelumnya adalah risiko ruptur uterus selama persalinan normal per vagina. Namun, menurut American College of Obstetricians dan Gynecologists (ACOG), jika Anda memiliki sesar sebelumnya dengan insisi transversal rendah, risiko ruptur uterus pada persalinan vagina adalah 0,2-1,5%, yaitu sekitar 1 di banding 500 orang.

Beberapa penelitian telah mendokumentasikan tingkat peningkatan pecahnya rahim pada wanita yang mendapatkan induksi persalinan atau augmentasi. Bahkan baru-baru ini, ACOG menyatakan bahwa VBAC lebih aman daripada bedah caesar yang berulang dan VBAC dengan lebih dari satu sesar sebelumnya tidak menimbulkan peningkatan risiko pecahnya rahim.

Jika Anda di berikan beberapa alasan untuk melakukan SC ulang daripada VBAC, Anda mungkin dapat mendiskusikan beberapa hasil penelitian berikut ini dengan penyedia layanan kesehatan Anda:

1. Distosia: Distosia mengacu pada persalinan yang lama dan sulit karena dilatasi serviks yang lambat, panggul kecil, atau bayi besar. Banyak wanita yang diberi alasan untuk tidak bisa melahirkan normal setelah sebelumnya bedah caesar karena akan melahirkan bayi lebih besar dari yang pertama! ACOG menyatakan bahwa efek [atau kesulitan] persalinan dengan bayi lebih dari 3.5 kg belum diperkuat.

panduan-audio-hypnofertility-ads

2. Tidak ada bukti bahwa bayi besar memerlukan bedah caesar. Panggul dan kepala bayi tidak sebuah struktur yang kaku. kedua bisa saling berubah bentuk untuk memungkinkan kelahiran normal. Kepala punya kemampuan untuk melakukan moulase di tulang tengkoraknya sehingga memungkinkan volume kepala menjadi lebih kecil. Dan Selama persalinan ada posisi tertentu yang dapat digunakan untuk membantu membuka panggul, sehingga memungkinkan bayi untuk bergerak melewatinyai. Misalnya, berjongkok membuka outlet panggul sebesar 30%.

3. Herpes Genital: Selama bertahun-tahun, wanita dengan riwayat herpes hampir selalu di haruskan melahirkan secara sesar, karena risiko penularan herpes pada bayi saat persalinan. Dokter akan melakukan menjadwalkan SC di minggu-minggu terakhir kehamilan apalagi jika virus itu aktif. Sekarang ACOG telah menetapkan dan merekomendasikan bahwa kecuali ada lesi terlihat pada saat kelahiran, maka persalinan per vagina dapat dilakukan.