Dalam setiap tulisan saya di buku, website maupun postingan-postingan saya di social media, saya selalu berbagi tentang Gentle Birth dan persalinan alami.

Sebagian ibu yang membaca menjadi merasa termotivasi dan akhirnya berupaya dan memberdayakan diri. Namun beberapa ibu justru merasa sakit hati dan merasa gagal karena merasa persalinannya belum seindah yang mereka baca atau justru persalinannya berujung trauma.

 

Mari kita bahas pelan pelan ya?

Namun saya akan ajak Anda dulu untuk memahami sebuah konsep tentang persalinan yang minim trauma / Gentle Birth.

  1. Gentlebirth adalah metode persalinan yang tenang, penuh kelembutan dan memanfaatkan semua unsur alami dalam tubuh seorang manusia.
  2. Gentle birth membutuhkan persiapan sejak masa kehamilan. Baik persiapan fisik maupun mental calon ibu

silahkan membaca beberapa art work yang sudah saya buat tentang GENTLE BIRTH di bawah ini:

Setelah melihat artwork yang saya posting, semoga Anda lebih memahami tentang arti gentle birth

karena saat mempersiapkan persalinan, lalu Anda justru terobsesi dengan persalinan pervaginam, tanpa mempersiapkan segala kemungkinan di luar exspectasi, maka justru ini yang akan merugikan. Karena pada dasarnya gentle birth bukanlah PERSALINAN NORMAL perVAGINAm VS Operasi Caesar/ persalinan dengan intervensi.

Karena ketika Anda berfikir demikian, maka ini sangat mengecewakan atau bahkan membuat sakit hati bagi para ibu yang pada akhirnya harus melahirkan dengan dibantu intervensi atau harus melahirkan dengan operasi Caesar.

Biarkan saya jelaskan.

Kita masing-masing wanita memiliki tubuh yang unik, struktur panggul yang unik, latar belakang agama yang unik, latar belakang pendidikan dan lingkungan yang unik dan kompleks, serta kondisi latar belakang pengalaman yangunik yang pada akhirnya mengajarkan kita hal-hal unik tentang tubuh kita, pengalaman dan konsep unik vagina dan kemampuan tubuh kita, dan konsep unik tentang rasa sakit.

Sayapun  benar-benar percaya bahwa karena semua  ibu adalah “actor” yang berbeda-beda yang sudah mempunyai “naskah” masing-masing dan bahwa proses transformasi, penyembuhan dan pemberdayaan diri untuk menjadi seorang ibu sebenarnya bervariasi dari satu wanita ke wanita lainnya.