Fear and Pain, Hindari Rasa Takut menghadapi persalinan

6704 0

 

PAIN in labor.

Sebelum kita mulai kita akan bahas tentang PAIN atau rasa nyeri itu sendiri. Sebabnya karena apa sih? Sesuai teori ya…

img_8031

Penyebab nyeri (biasanya)

  1. rahim kekurangan oksigen (uterine hypoxia)
  2. bagian terendah dari rahim meregang
  3. Kontraksi Rahim
  4. Stretching pada serviks saat membuka
  5. Stretching dari ligemen ligament pada panggul dan tekanan kepala bayi pada panggul
  6. Faktor psikis dan emosi ibu
  7. Vagina dan perineum yang meregang pada kala II

Penyebab lain:

  1. posisi dan presentasi bayi
  2. bayi besar
  3. beberapa factor emosional dan ketegangan psikis
  4. segmen bawah Rahim yang terlalu kaku (rigid)
  5. aliran darah ke rahi yang terganggu
  6. kontraksi rahim yang tidak teratur
  7. panggul sempit atau disporposi kepala panggul

namun PAIN atau lebih tepatnya Persepsi akan Nyeri sangat di pengaruhi oleh Otak kita. Dan ternyata otal kitalah yang berperan dalam proses persalinan, saat memproduksi hormone, ensim, mempengaruhi system syaraf bahakn system metabolism tubuh saat dalam proses persalinan sangat di pengaruhi oleh otak. Lebih tepatnya di pengaruhi oleh pikiran kita.

Okay..pause dulu….

Sekarang kita bahas tentang rasa TAKUT.

img_5959

Dari Mana Datangnya Rasa Takut?

Calon ibu yang baru pertama hamil umumnya mengalami berbagai kekhawatiran selama menjalani kehamilan, apalagi jika membayangkan saat melahirkan. Namun, ada juga ibu yang masih ketakutan meski sebelumnya sudah pernah melahirkan, terutama yang sempat mengalami trauma karena merasakan sakit saat melahirkan anak pertama.

Sebenarnya kekhawatiran menghadapi kehamilan dan saat persalinan dialami oleh banyak wanita. Bagi sebagian wanita, proses melahirkan bahkan dianggap identik dengan peristiwa yang menyakitkan, menakutkan, tidak nyaman, dan lebih menegangkan dibandingkan dengan peristiwa mana pun dalam kehidupan. Di benak kaum wanita, seolah telah terprogram bahwa proses melahirkan haruslah menyakitkan.

Hal ini tidak mengherankan karena sejak kecil, ketakutan pada proses melahirkan tanpa sadar telah tertanam di alam bawah sadar wanita. Di televisi ataupun di film-film, adegan melahirkan selalu digambarkan begitu menakutkan dan menegangkan, penuh dengan jeritan-jeritan yang histeris. Setiap kali menyambut kedatangan bayi dari teman atau kerabat, kita juga hampir selalu mendengar cerita seputar rasa sakit dan penderitaan si ibu ketika melahirkan.

Cerita-cerita semacam inilah yang terus terbawa oleh banyak gadis kecil dalam masa pertumbuhan mereka. Cerita yang sedikit demi sedikit memasuki alam tak sadar dan akhirnya tertanam sebagai suatu program dalam pikirannya. Karena pada dasarnya pikiran orang bisa saja diprogram dalam kehidupan setiap hari yang normal tanpa disadari oleh yang bersangkutan. Efek hipnosis tidak selalu harus terjadi saat orang dalam keadaan trans. Sesuatu yang sudah terlalu sering didengar (berulang-ulang) akhirnya terekam di jiwa bawah sadar menjadi suatu kenyataan.

 

Sakit Berasal dari Ketegangan

Perlu dipahami bahwa kontraksi otot atau yang dianggap sumber dari rasa sakit dan nyeri yang dialami calon ibu, sebenarnya adalah upaya rahim membantu kepala janin untuk menekan mulut rahim, sehingga membuka jalan lahir. Karena kontraksi itu, leher rahim akan menjadi lunak, menipis, mendatar, kemudian menarik leher rahim. Saat itulah kepala janin menekan mulut rahim, sehingga membuka.

Rahim terdiri dari tiga lapisan otot (catatan: gambarnya bisa diambil dari buku Marie F. Mongan: Hypnobirthing, A Celebration Of Life hal 40). Namun, yang terlibat dalam persalinan adalah lapisan terluar rahim yang seratnya vertikal dan lapisan dalam yang seratnya melingkar horisontal. Otot yang bentuknya melingkar mengalami penebalan pada leher rahim. Agar rahim bisa terbuka dan bayinya bisa menuju jalan lahir, otot yang menebal itu harus ditarik ke atas dan ke belakang. Sementara itu, otot paling kuat di puncak lapisan terluar rahim adalah yang bentuk seratnya vertikal. Otot ini naik hingga ke belakang melewati puncak rahim, menarik otot yang melingkar. Dalam gerakan yang hampir mirip gelombang, otot yang panjang seperti pita ini memendek dan menegang untuk mendorong bayi ke bawah, keluar dari rahim.

Ketika ibu yang sedang melahirkan ini dalam keadaan rileks yang nyaman, kedua lapisan otot tersebut akan bekerja sama secara harmonis seperti seharusnya. Gelombang otot vertikal naik ke atas, menegang dan mendorong, sementara otot yang melingkar membantu dengan gerakan membuka dan menarik ke belakang. Dengan begitu persalinan akan berjalan lancar dan mudah.

Oleh karena itu, jika sang ibu sudah terbiasa dengan latihan rileksasi, jalan lahir akan lebih mudah terbuka. Sebaliknya, jika ibu dalam keadaan tegang, tekanan kepala janin tidak akan membuat mulut rahim terbuka. Yang ada hanyalah rasa sakit dan sang ibu pun bertambah panik.

Rasa Takut Membuat Tegang dan Menimbulkan Rasa Sakit

Rasa takut sangatlah buruk akibatnya dalam proses persalinan. Ketika kita mengalami stres, pesan tersebut akan disampaikan ke seluruh reseptor dalam tubuh, sehingga menciptakan reaksi yang berlebihan dan menyimpang. Pesan itu akan menimbulkan perubahan fisik dan kimiawi di dalam tubuh. Saat tubuh dalam keadaan stres, hormon stres katekolamin akan dilepaskan, sehingga tubuh memberikan respon untuk “bertempur atau lari’.

Jika situasi itu sampai terbentuk, katekolamin akan bertindak sebagai penarik, yang menyebabkan otot di dalam rahim dan di tempat lainnya menjadi tegang. Katekolamin ini akan dilepaskan dalam konsentrasi tinggi saat persalinan jika calon ibu tidak bisa menghilangkan rasa takutnya sebelum melahirkan.

Oleh karena itu, penting sekali bagi calon ibu untuk belajar mengenali rasa takut atau stres sebelum dan selama melahirkan, bagaimana melepaskan rasa takut itu dan memasuki kondisi rileks yang dalam. Kondisi yang rileks justru bisa memancing keluarnya hormon endorfin, penghilang rasa sakit yang alami di dalam tubuh. Menurut para ahli, endorfin ini efeknya 200 kali lebih kuat daripada morfin.

Nah jadi mengapa pada kenyataannya yang terjadi di kehidupan sehari-hari, proses melahirkan adalah proses yang menyakitkan bahkan menakutkan? Banyak hal yang harus kita luruskan disini, untuk mengetahu jawaban itu.

Pertama, Rasa sakit sebenarnya diakibatkan dari rasa takut dan kecemasan dan ketakutan disebabkan karena ketidak tahuan Anda dalam fase-fase persalinan dan bagaimana caranya memanajemen rasa nyeri dalam persalinan. Menurut Christine Northrup, M.D dalam bukunya yang berjudul “Women Bodies, Women Wisdom” proses persalinan adalah sebuah proses alami yang mampu merubah hidup seorang wanita. Saat wanita bersalin dengan penuh dukungan dari orang-orang terdekatnya, maka dia akan mendapatkan kekuatan dan pengalaman yang sangat luar biasa. Dalam bukunya, Christine Northrup,M.D juga mengungkapkan bahwa proses kelahiran bayi dirancang secara alami dan sedemikian rupa agar ibu dan keluarga mengalami puncak kegembiraan, kepuasan dan rasa penuh kasih. Pada saat proses persalinan, di dalam tubuh seorang wanita secara otomatis memproduksi dan mengeluarkan hormon alami yang mampu memberikan rasa nyaman dan kepuasan yang sudah saya jelaskan di bab sebelumnya.

Sedangkan menurut Dr. Dick-Read, rahim pada perempuan yang ketakutan secara kasat mata memang tampak putih. Rasa cemas dan takut menyebabkan rasa nyeri dan membuat rahim semakin keras kontraksinya

  • Kecemasan dan ketakutan memacu keluarnya adrenalin dan menyebabkan cerviks kaku dan membuat proses persalinan lebih melambat.
  • Kecemasan dan ketakutan menyebabkan pernafasan tidak teratur, mengurangi asupan sirkulasi oksigen bagi tubuh dan bagi bayi.

Suatu hari di sebuah acara pelatihan waterbirth yang kami selenggarakan, nara sumber kami seorang dokter kandungan menegur saya, berkaitan dengan sebuah judul buku yang saya tulis yaitu “Gentle Birth melahirkan nyaman tanpa rasa sakit” beliau mengatakan kepada saya bahwa melahirkan itu memang sakit dan saya tidak boleh melakukan pembohongan publik dimana saya mengatakan bahwa melahirkan itu nyaman. Sebuah klaim dari penelitian beliau ungkapkan bahwa Tubuh manusia dapat menanggung rasa sakit hanya sampai 45 del (unit). Padahal saat melahirkan, seorang ibu merasakan rasa sakit hingga 57 Del (unit). Jadi bisa digambarkan bahwa melahirkan ini mirip dengan 20 tulang yang retak pada waktu yang bersamaan. Dan saat itu saya hanya tersenyum simpul, di dalam hati saya bernyata apakah saya yang salah? Karena 13 tahun yang lalu saya melahirkan dan tidak sakit, lalu banyak klien yang saya dampingi saat melahirkan juga tidak sakit bahkan ada juga yang melahirkan sambil tertidur.

Ketika saya acara pelatihan tersebut usai dan saya menuju ke Medan, karena kebetulan saya menjadi pembicara seminar di sana esok hari, maka sepanjang perjalanan saya mencoba untuk merenungkan kalimat yang dokter ucapkan kepada saya barusan yaitu “Tubuh manusia dapat menanggung rasa sakit hanya sampai 45 del (unit). Padahal saat melahirkan, seorang ibu merasakan rasa sakit hingga 57 Del (unit). Jadi bisa digambarkan bahwa melahirkan ini mirip dengan 20 tulang yang retak pada waktu yang bersamaan.” Sata berusaha menelaah nya dengan hati-hati, dan akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa hasil penelitian yang beliau ungkapkan adalah tidak masuk akal. Jika kita hanya dapat mengatasi atau bertoleransu dengan 45 “Dels” rasa sakit, sedangkan rasa sakit pada proses melahirkan adalah 57 “Dels” itu berarti bahwa manusia tidak bisa dan tidak mungkin bisa mengatasi rasa sakit itu secara fisik. Dengan kata lain, kita seharusnya sudah menjadi spesies yang telah punah jauh sebelum dokter dan obat-obatan datang untuk membantu kita mengatasi rasa sakit tersebut.

Rasa sakit atau nyeri adalah subyektif. Apa yang saya rasakan sakit, belum tentu Anda merasakan hal yang sama. Bahkan ketika seorang wanita melahirkan, mereka tidak semua selalu mengalami rasa sakit yang sama, karena ada berbagai faktor yang berkontribusi terhadap keseluruhan ketidaknyamanan, seperti ukuran bayi, posisi itu di, ambang nyeri ibu, emosi atau kondisi psikologis, sampai ke jumlah rasa sakit yang menumpulkan hormon yang tubuh ibu produksi saat kelahiran anak.

Lalu mengapa dokter tersebut dengan tegas mengatakan kepada saya bahwa melahirkan itu sakit. Dan tidak mungkin melahirkan tanpa rasa sakit? Inilah yang akan saya bahas di faktor kedua penyebab rasa sakit. Kedua, sejak kecil sudah tertanam sebuah paradigma bahwa melahirkan itu menyakitkan.

Tidak hanya itu saja, di kehidupan sehari-hari hampir tidak pernah kita menyaksikan acara televisi, entah itu sinetron, atau film yang menggambarkan bahwa melahirkan itu nyaman dan menyenangkan. Semua menggambarkan proses melahirkan sebagai proses yang penuh rasa sakit, penuh kecemasan dan ketakutan.

Dari cerita ini artinya bahwa tanpa kita sadari, paradigma bahwa melahirkan itu sakit sudah mendarah daging dan mengakar di dalam kehidupan kita. Sejak kita masih kecil bahkan sudah ditanamkan bahwa melahirkan itu sakit dan memang harus sakit. Bahkan hingga saat ini banyak bidan dan dokter yang menyatakan bahwa kalau tidak sakit berarti tidak melahirkan.

Apa jadinya jika sejak kecil paradigma itu tertanam kuat? Bahkan bidan dan dokter yang merawat Anda-pun menyatakan hal yang sama? Bukankah bagi Anda bidan dan dokter adalah publik figur yang mana setiap kalimat yang diucapkan selalu Anda anggap dan yakini kebenarannya? Otomatis pernyataan bahwa melahirkan itu sakit Anda imani kebenarannya. Dan tertanam di bawah sadar. Karena sebuah sugesti akan masuk dan ternatam di bawah sadar jika:

  • Sugesti tersebut masuk ketika Anda berada dalam kondisi rileks. Menonton TV adalah kondisi rileks, tentu sugesti melahirkan itu sakit mudah sekali terekam di bawah sadar karena semua sinetron atau film yang Anda lihat menggambarkan demikian.
  • Sugesti akan terekam di bawah sadar jika sugesti tersebut di ulang ulang. Seorang dokter atau bidan selama masa pendidikan selalu di ajarkan bahwa melahirkan itu sakit dan nyeri, di tempat praktek yang mereka lihat adalah gambaran bahwa memang melahirkan itu nyeri dan menyakitkan, bahkan proses persalinannyapun menyakitkan. Jika hal ini yang terulang-ulang selama hidupnya, bisa di pastikan rekaman bawah sadarnyapun menyatakan bahwa melahirkan itu sakit.
  • Sugesti akan terekam di bawah sadar jika disampaikan oleh figur/tokoh. Bidan dan dokter adalah tokoh atau figur bagi pasien-pasiennya, apa jadinya jika bidan dan dokter menyatakan kepada pasiennya bahwa melahirkan itu menyakitkan dan bahwa melahirkan itu harus sakit, bahwa jika tidak sakit berarti tidak melahirkan? Bukankah akan dengan sangat mudah pasien-pasien merekam sugesti negatif tersebut?
  • Sugesti akan terekam di bawah sadar jika diberikan di saat kondisi emosi sedang intens, dan ibu hamil juga ibu bersalin tentu emosinya sangat intens. Bisa Anda bayangkan, bagaimana perasaan mereka ketika saudara, orangtua, teman bahkan dokter atau bidannya menyatakan bahwa melahirkan itu menyakitkan?

Jadi bisa kita pahami bahwa sugesti atau keyakinan bahwa melahirkan itu sakit dan nyeri sudah tertanam dan terekam di bawah sadar Anda dan saya bahkan sejak kita di lahirkan ke dunia ini. Beruntung sekali pengalaman persalinan saya begitu indah karena saya tidak merasakan sakit seperti yang saya yakini dan saya ketahui teorinya saat itu, dan lebih beruntung lagi ketika saya mendalami Hypnobirthing dan gentle birth yang membuat saya menyaksikan proses persalinan yang indah dan tanpa rasa sakit pada klien-klien yang saya dampingi hampir setiap hari. Sehingga tanpa disadari rekaman dan sugesti melahirkan sakit itu terkikis dari benak dan pikiran saya.

Haruskah Melahirkan itu sakit atau nyeri?

“When I say painless, please understand, I don’t mean you will not feel anything. What you will feel is a lot of pressure; you will feel the might of creation move through you. Pain, however, is associated with something gone wrong. Childbirth is a lot of hard work, and the sensations that accompany it are very strong, but there is nothing wrong with labor.” – Giuditta Tornetta

Banyak yang berfikir proses persalinan itu harus nyeri dan untuk mencapai persalinan yang nyaman adalah hal yang sangat mustahil. Jutaan wanita yang bersalin menyatakan bersalin itu sakit dan akhirnya anggapan dan keyakinan bahwa bersalin itu harus nyeri/ sakit akhirnya di amini oleh hampir semua orang. Bahkan sudah menjadi budaya di sarana pelayanan kesehatan/ Rumah Bersalin, bu bidan/Dokter yang merawat ibu yang hendak bersalin selalu menginformasikan bahwa bersalin itu nyeri dan kalau belum nyeri berarti belum bersalin. Sampai-sampai bu bidan sering sekali latah mengatakan pada pasien inpartu (pasien yang akan melahirkan) dengan kalimat seperti ini: “Ibu, nanti kalau udah sakit, nyeri dan tak tertahankan, itulah baru tanda-tandanya ibu mau bersalin”. Dan akhirnya si ibu itu akan menunggu-nunggu rasa sakit dan nyeri tak tertahankan tersebut, dan jadilah kenyataan bahwa menurut dia, bersalin ya harus nyeri.

Ibu yang merasakan nyaman saat bersalin dianggap ibu yang sangat beruntung dan merupakan mujizat. Saking banyaknya orang yang berkeyakinan bahwa bersalin itu menyakitkan maka tidak jarang seorang wanita yang baru pertama kali hamil dan hendak bersalin mengalami ketakutan dan kecemasan yang luar biasa saat menjelang proses persalinanya, dan akhirnya banyak wanita yang belum inpartu/ belum dalam persalinanpun “merengek” meminta kepada dokter agar dilakukan Epidural atau bahkan minta segare dilakukan operas sesar. Hanya dengan satu alasan yaitu TAKUT SAKIT!

Rasa sakit/ Nyeri memang merupakan alat komunikasi/ sinyal bagi tubuh ketika ada sesuatu yang salah, namun dalam proses persalinan normal sebenarnya Nyeri tidak harus hadir atau tidak selalu menjadi sesuatu yang harus di ratapi atau di keluhkan. Kita tahu bahwa proses persalinan dapat berlangsung dengan baik apabila pada saat proses persalinan si ibu tidak terganggu, terutama ketika ibu merasa aman sehingga otak primitif-nya dapat mengambil alih. Seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya bahwa ilmu fisiologi dasar mengatakan bahwa ketakutan/ kecemasan meningkatkan adrenalin dalam tubuh yang menciptakan reaksi fisik dengan mengaktifkan respon melawan/ menghindar. Ini pengalihan aliran darah dari organ kita ke tungkai. Rahim bukan lah organ seperti jantung, rahim tidak dapat bekerja secara efektif, nyaman dan tanpa rasa sakit saat aliran darah yang mengalir di seluruh bagian ototnya terhambati dan otot kejang. Ketika adrenalin di produksi maka endorfin tidak dapat melakukan tugasnya dan memperlambat pelepasan oksitosin yang diperlukan untuk membantu kemajuan persalinan.

Perlu diketahui bahwa Setiap pikiran kita telah menciptakan sebuah respons secara fisik terdeteksi dalam tubuh. Pernahkah Anda merasa malu oleh seseorang atau sesuatu? Saat anda malu secara otomatis pipi anda akan terlihat memerah. Bahkan beberapa tahun kemudian dengan hanya memikirkan peristiwa memalukan bisa menciptakan respon fisik yang sama di wajah Anda dalam hitungan detik. Ingatkah Anda ketika Anda diminta untuk mengingat dan menceritakan kembali pengalaman persalinan anda yang traumatik? Setelah anda mengingatnya Anda mungkin langsung merasakan perut anda kencang, mulut kering dan telapak tangan berkeringat hanya dengan berpikir tentang pengalaman persalinan yang lalu yang bagi anda itu adalah hal yang sangat traumatik.

Mengapa proses bersalin menyakitkan hanya terjadi pada manusia? Jika Anda pernah punya anjing atau kucing melahirkan Anda mungkin memperhatikan bahwa mereka mencari suatu lokasi/tempat tersendiri yang bebas dari gangguan, tenang dan biasanya saat bersalin hewan tersebut tidak menunjukkan ketidaknyamanan mereka secara dramatis.

Memahami tujuan nyeri dalam persalinan sangat penting karena ini mampu menaklukkan rasa takut di dalam hati kita. Kutipan di bawah ini diambil dari buku berjudul The Christian Childbirth Handbook yang ditulis oleh Jennifer Vanderlaan yang menyatakan:

Meningkatkan Hormon Endorphin = Manajemen nyeri

“Rasa Sakit atau nyeri, sifatnya adalah panggilan untuk bertindak. Saat melahirkan, rasa sakit atau nyeri memiliki tujuan fisiologis. Meningkatnya intensitas rasa sakit atau ketidaknyamanan meningkatkan produksi Hormon Endorphin pada tubuh Anda. Hormon Endorphin adalah opiat alami yang bertanggung jawab untuk menghilangkan rasa sakit. Mereka juga diproduksi selama proses bercinta. Hormon Endorphin berada pada tingkat puncak ketika proses persalinan inilah yang membantu Anda mampu mengelola rasa sakit dari kontraksi. “

Meningkatkan Hormon prolaktin = keberhasilan menyusui

“Yang lebih menakjubkan adalah Hormon Endorphin tubuh Anda diproduksi dalam menanggapi rasa sakit persalinan, dan disaat yang bersamaan dia mempersiapkan tubuh Anda untuk merawat anak Anda. Tingkat endorphin yang tinggi menyebabkan tubuh Anda untuk meningkatkan produksi kadar prolaktin. Prolaktin adalah hormon yang diperlukan untuk menyusui. “

Nyeri = Gerakan = Keselarasan

“Alasan lain yang penting untuk ketidaknyamanan atau nyeri selama persalinan adalah cara Anda menggerakkan tubuh Anda secara alami dalam menanggapi rasa sakit. Sangat sulit untuk diam sementara Anda merasakan sakit, gerakan diperlukan untuk bayi Anda agar bisa dengan benar menyelaraskan tubuhnya di panggul Anda. Tanpa keselarasan, baik Anda atau bayi Anda bisa mengalami kerusakan atau cidera. Nyeri berfungsi sebagai metode perlindungan terhadap posisi kelahiran yang buruk. “

Nyeri = ketergantungan pada Tuhan

Tuhan seringkali menggunakan rasa sakit sebagai sarana untuk menarik perhatian kita dari diri kita sendiri dan kepada-Nya. Ini adalah proses yang indah bagi seorang wanita untuk melihat rasa sakit ini sebagai sarana untuk membantu dia kembali fokus perhatiannya pada Juruselamatnya, yang merupakan penyedia dan sumber kekuatan. Oleh karena itu, apapun agama dan keyakinan Anda, berdoa selama persalinan merupakan respon yang tepat untuk proses ini.

Nyeri dalam persalinan berbeda dengan Nyeri pada umumnya

Di kelas balance in Gentle Birth saya selalu bertanya kepada klien saya, tentang apa sebenarnya rasa nyeri atau sakit itu? Kita tahu dan mengerti bahwa itu sakit adalah ketika kita mengalami rasa itu. Dan kita tahu bahwa kita tidak suka rasa itu, karena rasa sakit itu tidak nyaman. Dan saya percaya bahwa sebagian orang tidak ingin merasakan sakit. Ketika saya menanyakan tentang definisi dari kata sakit atau nyeri sebagoan besar klien saya menjawab bahwa sakit atau nyeri adalah rasa ketidaknyamanan yang kuat ketika syaraf terstimulasi oleh sesuatu. Lalu ketika saya bertanya kepada mereka “mengapa kita merasakan rasa sakit?”, maka biasanya klien saya menjawab “karena ada sesuatu yang salah di dalam tubuh kita.”. dan memang benar bahwa rasa nyeri atau sakit adalah suatu rasa karena tubuh kita ingin mengkomunikasikan tentang apa yang terjadi padanya melalui sebuah sensasi rasa.

Rasa sakit atau nyeri adalah informasi dari tubuh ke otak yang menyatakan atau meminta kita untuk lebih perhatian dan waspada karena ada sesuatu hal yang terjadi. Melalui kehidupan kita rasa sakit atau nyeri dalam tubuh kita mempunyai dua arti. Yang pertama adalah sebagai sinyal bahwa ada tubuh kita yang luka atau sakit, dimana jika kita kesleo di pergelangan kaki, maka rasa sakit memberi tahu kepada kita bahwa kita harus berhenti berjalan supaya tidak menimbulkan luka atau sakit atau trauma yang lebih parah. Jika Anda sakit gigi, maka rasa nyeri atau sakit menunjukkan bahwa gigi Anda rusak dan Anda harus segera ke dokter gigi untuk mengobatinya. Dan yang kedua adalah bahwa rasa nyeri atau sakit terjadi sebagai sinyal pada otak bahwa tubuh kita sedang melakukan perubahan atau sedang terjadi perubahan.

Rasa sakit secara fisik pada tubuh manusia sebenarnya adalah fenomena yang sangat komplek. Ketika Anda mencoba untuk melihat lebih dalam dan lebih dekat lagi tentang nyeri atau sakit, Anda akan dapat melihat bahwa ada tiga komponen dasar dalam rasa nyeri atau sakit tersebut yaitu: komponen sensory atau komponen fisik, yaitu bagaimana rasa nyeri atau sakit tersebut dirasakan secara nyata oleh tubuh. Komponen affektif atau emosi, yang berhubungan tentang rasa/perasaan saat kita merasakan sensasi ini, dan Komponen kognitif atau pikiran/pemikiran, yang memikirkan tentang jenis nyeri yang dirasakan. Contohnya ketika kaki saya terantuk batu saat berjalan pagi hari di komplek perumahan, pertama, saya merasakan sensasi yang sangat tajam/kuat seperti berdenyut (komponen sensori), disini syaraf di kaki saya mengirimkan pesan kepada otak dan saya merekamnya, sehingga saya menyadari ini adalah sinyal rasa nyeri dari tubuh saya sehingga akhirnya emosi dan pikiran saya juga saling berhubungan terhadap sensasi ini.

Ketika saya terantuk batu, secara fisik saya merasakan nyeri dan dalam waktu yang singkat pikiran dan emosi saya terpengaruh. Dan seringkali rasa dominan atau emosi dan pikiran yang dominan adalah takut. Seperti pemikiran ya ampun sakit sekali, jangan jangan kakiku patah? Atau pemikiran aduh bagaimana pekerjaan saya nanti jika kakiku sakit begini?. Rasa Takut adalah rasa yang selalu berhubungan atau berkaitan dengan masa depan, bahkan moment atau saat yang hanya beberapa menit kemudian.

Dalam kaitannya dengan proses persalinan, seringkali ketika seorang wanita merasakan nyeri, secepat kilat mereka berfikir hal-hal yang”bukan-bukan” atau hal yang negatif berkaitan dengan rasa takut , seperti “aduh baru pembukaan satu saja sakitnya sudah seperti ini, bagaimana jika pembukaan lima dan seterusnya? Apakah saya mampu?”, “kok sakit ya? Jangan-jangan ada kelainan di tubuh saya?” atau ketakutan ketakutan lain yang tercipta

Rasa sakit sering kita definisikan sebagai alarm tubuh bahwa ada sesuatu hal yang salah yang terjadi di dalam tubuh kita. Namun dalam proses persalinan, definisi itu tidaklah selalu benar. Karena nyeri atau rasa sakit yang ditimbulkan sebenarnya adalah alarm tubuh yang disampaikan ke otak kita untuk memberihtahu bahwa sesuatu proses alami yang besar dan luarbiasa sedang terjadi.

Ketika Anda merasakan rasa sakit atau nyeri, pesan yang ada adalah “larilah menghindar” atau berjuang dan lawanlah! Ini adalah respon otomatis dalam tubuh disebup flight and faith response. Tetapi rasa nyeri yang ditimbulkan saat proses persalinan sebenarnya berisi pesan “Rilekskan otot di panggul Anda. Nikmatilah, pasrah, jangan melawan.”

Berdamai dengan Nyeri dan rasa Takut

Sekarang mari kita melihat proses persalinan lagi, kali ini cobalah dengan sengaja memperhatikan lebih dekat dan mengamati pengalaman Anda lebih detal detik demi detik saat masuk dalam proses persalinan (ini tentunya berlaku bagi Anda yang pernah melahirkan sebelumnya atau Anda yang sedang mengamati ibu melahirkan). Ini seperti terika Anda dengan sengaja mengamati dan menikmati semua sensasi dan pengalaman yang Anda rasakan saat Anda melakukan relaksasi atau meditasi. Jika Anda melakukan hal ini yaitu memperhatikan tanpa melakukan penilaian, terbuka akan sensasi fisik yang timbul dan hilang saat Anda merasakan kontraksi, maka Anda akan menemukan sebuah fakta yang menakjubkan, dimana tepat di tengah-tengah proses persalinan terdapat momen yang mendalam yang mampu memberi kemudahan dan rasa damai.

Bagaimana mungkin?

Seperti yang anda lihat di gambar berikut ini, pola gelombang besar merupakan kontraksi-ekspansi rahim dan leher rahim atau nyeri transformasional yang datang dan pergi selama tahap pertama dari pola persalinan. Sedangkan gelombang kecil merupakan saat penarikan dan hembusan napas, yang Anda gunakan untuk memfokuskan perhatian Anda pada saat ini, memberikan pikiran Anda tempat untuk beristirahat di sini dan kini. Selama tahap pertama persalinan, ketika proses ini di terjadi penuh, gelombang kontraksi yang hilang dani timbul terjadi sekitar setiap lima menit. Dengan durasi berlangsung sekitar enam puluh detik

Gelombang atau pijatan rahim yang hilang timbul merupakan proses yang luar biasa dimana setiap gelombang demi gelombang yang terjadi merupakan sebuah sinyal bahwa sebentar lagi Anda akan bertemu dengan buah hati. Dan ingat bahwa karakteristik gelombang rahim adalah semakin lama semakin sering dan semakin intens. Dan ketika jeda gelombang rahim atau kontraksi hanya selang sekitar tiga atau menit dengan durasi lebih dari enam puluh detik, itulah yang disebut masa transisi.

Pada saat anda memasuki proses itu, Definitely hal yang bisa Anda dilakukan adalah, jangan berpikir! Terutama ketika Anda tahu bagaimana cara untuk memperhatikan dan fokus pada nafas dan membiarkan proses membawa Anda, momen demi momen. Karena saat menjalani proses persalinan seharusnya Anda percaya kepada tubuh Anda karena jauh sebelum munculnya ilmu kedokteran modern, alam semesta telah memberikan kita pengetahuan tentang cara-cara untuk mengatasi sensation sensasi yang muncul ketika seorang wanita berada pada fase ini. hipotalamus dan kelenjar pituitary memproduksi hormon Endorfin yang mampu menghasilkan efek analgesik serta perasaan sejahtera yang mampu melawan dan mengatasi nyeri persalinan. Selama persalinan, Anda juga memproduksi oksitosin sangat tinggi lavelnya, sebuah hormon yang mampu memunculkan perasaan tenang dan koneksi yang mengurangi rasa sakit dan mendorong munculnya keberanian.

Sebenarnya tubuh seorang wanita begitu cerdas dan canggih dalam menangani rasa nyeri saat proses persalinan, namun mengapa melahirkan memiliki reputasi buruk? Mengapa saat-saat menyenangkan, saat-saat penuh kemudahan dan perdamaian, yang benar ada dalam proses persalinan jarang, jika pernah, bicarakan? Seringkali ibu bereaksi dengan pikiran menakutkan yaitu, “Oh, saya Tuhan, mengapa kontraksi ini begitu menyakitkan! ” atau ” Bagaimana aku akan mengatasi rasa kontraksi yang berikutnya? ” atau” Kapan ini akan berakhir?”

Terjebak dalam aliran pikiran menyedihkan tentang masa lalu atau masa depan, tanpa sengaja membuat dan merangsang otak kita untuk memproduksi adrenalin,

sehingga membuat proses persalinan semakin terasa menyakitkan

Eksplorasi Ketakutan Anda

Mencoba mengekplorasi rasa takut sangatlah penting.

Latihan:

Duduklah senyaman mungkin lalu pejamkan mata dengan lembut sambil membayangkan proses persalinan Anda. Bayangkan proses tersebut dari awal kontraksi hingga bayi Anda lahir dan berada di pelukan Anda.

Sekarang fokus kan perhatian Anda, cobalah eksplorasi tentang ketakutan apa yang Anda rasakan berkaitan dengan proses persalinan? Lalu tulislah kata-kata atau kalimat ketakutan Anda yang muncul di dalam benak ke dalam kertas.

Kemudian pejamkan mata lalu ucapkan kalimat seputar persalinan, misalnya kontraksi dan persalinan. Lalu rasakan dan hayati hingga Anda menemukan emosi yang seperti apa yang mengiringi rasa dan sesasi yang Anda rasakan?

Kemudian pejamkan mata dengan lembut sambil membayangkan proses persalinan Anda. Lalu di dalam hati pikirkan daftar kalimat atau sugesti atau affirmasi yang mampu menguatkan Ana yang mengandung harapan positif akan proses persalinan Anda kelak lalu tulislah kedalam kertas.

Kemudian pejamkan mata lagi sambil merilekskan seluruh tubuh dan pikiran. Dan sembari dalam hati mengulang dan merekam sugesti positif yang Anda terima.

Tahukah Anda bahwa tulisan tangan seperti sidik jari – tidak ada dua orang memiliki tulisan tangan yang sama. Tulisan tangan juga merupakan respon ideomotor, yang berarti bahwa dengan menulis sesuatu dalam tulisan tangan normal Anda, Anda mengakses pikiran bawah sadar. Latihan ini mirip dengan yang di atas, tetapi Anda akan menggunakan tulisan tangan.

Tuliskan segala ketakutan dan pikiran negatif, dan kemudian segera menulis sebuah pikiran positif untuk menyeimbangkan negatif. Tapi jangan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berpikir. Menulislah dengan cepat.

Sebagai penulis saya telah berlatih apa yang kita sebut “freewriting” selama bertahun-tahun. Di sinilah saya coba untuk duduk dengan menghadap laptop dan terus menulis setidaknya 10-15 menit. Dengan tidak memungkinkan jari ini untuk berhenti menekan tombol keyboard di laptop, Anda bisa mendapatkan sesuatu lebih dalam kreativitas dan mematikan pikiran kritis. Memang tindakan ini seringkali menghasilkan banyak omong kosong, tetapi juga beberapa hal brilian yang seringkali tidak terpikirkan sebelumnya akan muncul. Saya akan mendorong Anda untuk melakukan hal yang sama dengan latihan ini. Hanya mulai menulis. Jangan biarkan pena atau jari Anda berhenti. Ketika Anda tiba-tiba menulis pikiran negatif, segera ikuti dengan positif.

Jika Anda melakukan salah satu dari latihan ini dalam 30 menit sebelum tidur Anda mendapatkan manfaat tambahan. Pikiran bawah sadar melakukan hal yang luar biasa ketika Anda tidur. Pada dasarnya apa yang terjadi setiap malam adalah pikiran yang mencoba untuk memprediksi apa yang akan terjadi besok. Hal ini didasarkan pada apa yang telah terjadi hari ini dan kemarin dan hari sebelumnya. Jika rasa takut telah menjadi pola, ketakutan akan terus berlanjut. Jika Anda menambahkan satu ons pikiran positif untuk satu malam, Anda tidak akan mencairkan rasa takut yang banyak, tapi jika Anda menambahkan satu ons setiap malam selama beberapa hari, segera akan terjadi keseimbangan. Dengan melakukan hak ini sebelum tidur, maka pikiran pikiran positif semakin terekam di bawah sadar Anda.

 

Pindahkan Ketakutan

Pertama-tama, rasa takut adalah cara otak untuk mencoba melindungi Anda. otak memiliki niat baik, tapi rasa takut tidak selalu benar merupakan tanda bahaya. Misalnya, jika Anda melihat tongkat melengkung di jalan, mungkin Anda langsung takut dan mengira bahwa itu adalah ular – sampai Anda menyadari bahwa itu hanya tongkat. Tapi kalau itu ular, secara mental dan fisik Anda siap – adrenalin sudah mengalir ke dalam aliran darah Anda, konstriksi berbagai otot akan segara berlangsung, dan sejumlah proses yang terjadi secara tidak sadar ketika kita merasa takut. Ketakutan bisa menjadi teman kita, sehingga saya tidak ingin mengambilnya sama sekali dari kesadaran kita.

namun masalahnya adalah, bahwa proses fisik alami yang terjadi jika diiringi dengan rasa takut justru akan menghambat perkembangan persalinan. Masalah besar kemudian adalah bagaimana membantu seorang ibu melepaskan rasa takut, terutama jika mereka memiliki pengalaman traumatis melahirkan di mana ada ketakutan terburuk yang direalisasikan.

Ada beberapa cara untuk mengurangi rasa takut dan cemas mulai dari Hypnobirthing, meditasi dll, dan mengadopsi dari buku karya Gurmukh yang berjudul “Beautiful, Bountiful, Blisfull” langkah meditasi seredhana ini sangat membantu Anda untuk mengurangi rasa takut tersebut:

  • Silahkan Ambil posisi duduk bersila yang nyaman. Usahakan posisi punggung Anda tetap tegak namun rileks.
  • Anda dapat sambil mendengarkan musik atau sesuatu yang meditatif
  • Mengatur penghitung waktu selama tiga menit, (Anda bisa menggunakan Alarm yang ada di HP)
  • Rentangkan lengan Anda keluar seperti sayap, sejajar dengan tanah. Mulailah mengepakkan tangan Anda dengan cepat seolah-olah terbang tinggi ke awan kepakkan hanya dari pergelangan tangan Anda saja
  • Lalu Ambil Nafas panjang dan dalam. Jika Anda mau, Anda bisa menutup mata Anda dan memfokuskan perhatian pada titik di antara kedua alis mata Anda.
  • Setelah tiga menit berlalu langsung tarik nafas panjang dan dalam dan banyakkan seluruh ketakutan dan kecemasan Anda hilang.

Ketika Anda melakukan meditasi ini pikiran Anda mungkin mengatakan kepada Anda bahwa lengan Anda akan jatuh dan terasa berat. Namun Ketika Anda berpikir – “Aku tidak bisa melakukan ini, itu terlalu keras” – terima pikiran negatif Anda untuk pikiran pelindung, kemudian menggantinya dengan positif berpikir: “Ya, saya bisa saya lebih kuat dari yang pernah saya pikirkan “

Meditasi ini membawa kita kembali ke pikiran netral. Andapun bisa melakukan ini dalam yoga selama tiga menit untuk melatih pikiran untuk menguasai perasaan yang intens.

Kecemasan dan ketakutan pada ibu dalam proses persalinan

Seringkali ketika seorang ibu yang merasakan ketakutan dan kesemasan saat proses persalinan, tubuhnya menunjukkan beberapa tanda yaitu nafas yang cepat, sangat sensitif dengan suara yang keras atau bising, mengganggam erat bagian tubuhnya, mengerutkan tubuhnya atau merapatkan kaki dan tangannya bahkan hingga histeris.

Dalam program Gentle birth Balance, tidak hanya ibu hamil yang kami latih untuk mampu melatih dan menguatkan mental sehingga dia mampu “menikmati” indahnya proses persalinan, namun juga melatih bagaimana jika Anda berperan sebagai pendamping persalinan. Karena saya sangat menyadari bahwa ketika ibu berada dalam proses persalinan, emosi nya sangat labil dan energinya benar-benar terbuka, di saat itulah dia bisa saja menghilangkan energi negatif dalam diri nya namun disisi lain dia juga mudah sekali menerima energi dari lingkungan sekitar yang positif juga yang negatif. Nah keika pendamping persalinan justru merasa panik, maka energi panik ini akan mudah sekali “nular” kepada ibu. Untuk itu, beberapa strategi yang dapat Anda lakukan ketika Anda menjadi pendamping ibu saat persalinan antara lain:

  • Bantu ibu untuk tetap fokus dan terhubung dengan tubuh dan pikirannya
  • Berikan dukungan moral dan panduan yang kuat agar tetap positif

Dukungan benar-benar diperlukan oleh sang ibu, bahkan hanya dengan melakukan tindakan sederhana yaitu memberikan sugesti positif kepada ibu, itupun sudah sangat berarti baginya. Apalagi ketika persalinan berlangsung begitu lama dan melelahkan

  • Bantu ibu untuk menemukan titik fokusnya

Dalam hal ini Anda pun bisa menjadi Anchor atau jangkar bagi sang ibu dimana setiap kali Anda menyentuh dan memijat tubuh ibu atau mengucapkan kata rileks misalnya, maka tindakan itulah yang membuat sang ibu kembali lagi ke fokusnya.

  • Berikan perhatian kepada ibu, bahkan perhatian yang sangat kecil sekalipun. Mulai dari mengambilkan atau membuatkan minuman, menyeka keringat atau bahkan hanya memeluk atau hanya ikut terjaga ketika ibu merasakan kontraksi saja itu sudah sangat berarti.

Bersiap untuk menikmati nyeri persalinan

Apakah benar melahirkan itu harus nyeri dan sakit? Saya tidak merasakan lho.

Lalu apakah benar melahirkan bisa tanpa rasa sakit? Saya merasakan namun banyak para ibu dan teman saya yang menyatakan bahwa melahirkan itu sakit sekali.

Lalu yang benar yang mana?

Nyeri dan sakin sebenarnya sangat tergantung dari persepsi seseorang.

Apa yang Anda rasakan ketika Anda dicubit manja oleh pacar Anda dahulu? Lalu apa yang Anda rasakan ketika Anda di cubit oleh musuh Anda padahal dia mencubit dengan intensitas dan kekuatan yang sama dengan cubitan pacar Anda kala itu?

Kemudian apa yang Anda rasakan ketika Anda menderita sakit gigi dan saat itu Anda sedang bertengkar dan marah dengan suami?

Dan apa yang Anda rasakan ketika Anda menderita sakit gigi namun kali ini Anda di ajak pergi ke Mall dan Anda dibelikan tas, sepatu dan baju baru impian Anda?

Bukankan sama-sama sakit gigi? Namum mana yang terasa lebih sakit?

Nah itu adalah gambaran sederhana tentang “persepsi” nyeri pada setiap orang. Banyak wanita menyatakan bahwa melahirkan itu sakit dan nyeri luar biasan. Namun saya sangat beruntung karena di persalinan pertama saya tidak merasakan nyeri saat persalinan. Karena kenyamanan adalah hal yang dicari oleh banyak orang, maka banyak upaya baik medis maupun alternatif yang bisa digunakan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa nyeri pada saat proses persalinan, namun di Gentle Birth Balance saya mencoba untuk mengajak klien saya untuk bersiap diri untuk menikmati rasa nyeri yang mungkin saja timbul ketika proses persalinan.

Mengapa justru menikmati, bukan menghilangkan? Bukankah konon kabarnya dengan hypnosis atau hypnobirthing rasa nyeri bisa hilang sama sekali?

Ya benar. Memang dengan hypnobirthing rasa nyeri bisa sama sekali hilang. Namun di dalam program gentle birth balance ini saya tidak akan menjanjikan kepada Anda bahwa Anda bakalan tidak merasakan nyeri sama sekali saat menjalani proses persalinan. Karena saya yakin bahwa nyeri dalam proses persalinan adalah nyeri yang positif. Artinya bahwa nyeri yang tercipta sebenarnya adalah nyeri yang memang dibutuhkan sebagai alarm tubuh bahwa Anda akan segera melahirkan.

Ketika Anda mampu menikmati rasa nyeri tersebut. Maka ketika seharusnya Anda mengeluh akibat dari sensasi yang ditimbulkan saat melahirkan, justru Anda merasa nyaman dan tenang bahkan merasa santai walaupun rasa nyeri tersebut tetap ada. Namun sensasi yang Anda rasakan adalah berbeda.

Mengapa tidak sekalian saja di hilangkan rasa nyeri tersebut?

Itu karena setiap orang mempunyai persepsi dan pengalaman yang berbeda terhadap proses persalinan. Dan semua orang mempunyai tingkat sugestibilitas yang berbeda terhadap proses hypnobirthing. Sehingga dalam program ini, saya berusaha untuk mengajak Anda mempersiapkan segala sesuatunya untuk bersiap menikmati segala sensasi yang ada saat menjalani proses persalinan:

  1. Persiapan Fisik
  • Pentingnya olahraga dan nutrisi yang seimbang dan bagus
  • Pentingnya belajar nafas
  • Pentingnya kesadaran tubuh dan pengalaman tubuh terhadap pengatahuan dalam kehamian dan persalinan
  • Ketrampilan fisik untuk mengurangi dan menghilangkan ketegangan
  • Ketrampilan otor internal /dalam dan otot vagina untuk meregang dan menguat
  • Pengalaman fisik terhadap ketidaknyamanan dan bagaimana bertoleransi dengan hal itu
  1. Persiapan Mental
  • Kesadaran tentang proses persalinan
  • Mengerti dan memahami sensasi sensasi yang dapat timbul dan dirasakan saat proses persalinan
  • Mampu fokus dan terhubung dengan tubuhnya
  • Penerimaan terhadap peran baru yang menantinya yaitu menjadi seorang ibu
  1. Persiapan Emosional
  • Mampu menyadari perubahan emosi yang terjadi dan mengatasinya
  • Mampu memanajemen emosi yang ada didalam hati dan pikirannya
  1. Persiapan Historical
  • Mengeksplorasi pengalaman persalinannya yang lalu dan menemukan serta mengobati dan menghilangkan trauma yang mungkin timbul pada persalinan sebelumnya

Langkah Praktis yang harus di perhatikan:

  • Letakkan kedua tangan Anda diperut untuk beberapa menit lalu kirimkan salam damai kepada janin yang ada didalam kandungan
  • Jurnalkan atau tulislah diari tentang pengalaman dan emosi yang Anda rasakan selama masa kehamilan
  • Di awal proses kehamilan, cobalah untuk menanam benih bunga atau tanamansebagai simbol bahwa di dalam rahim Anda tubuh janin buah cinta Anda dan pasangan. Lalu setelah bayi Anda lahir, Anda bisa merawat nya bersama dengan merawat bayi Anda
  • Bacakan cerita atau puisi kepada janin Anda dan dengarkan musik relaksasi, lagu pujian atau musik klasik tiap hari
  • Ciptakan lingkungan yang nyaman dan gunakan aroma therapi sambil mendengarkan musik atau sedang melakukan relaksasi dan meditasi.
  • Oleskan pelembab atau minyak khusus untuk massage, dan pijat dengan lembut tubuh Anda sendiri menggunakan minyak atau pelembab sebelum atau sesudah mandi, lakukan dengan rutin .
  • Pilih bahan makanan yang kaya warna, aroma dan textur
  • “be Mindfull” atau sadar saat anda makan, atur pola makan dengan gizi seimbang
  • Mulai lakukan maternity tour dan seleksi

cukup panjang ya artikelnya?

semoga bisa memberikan pencerahan untuk Anda

salam Hangat

Yesie

About The Author

Praktisi dan trainer hypnobirthing dan gentle birth, Penulis buku kesehatan, Pemilik dan bidan dari Klinik Bidan Kita, salah satu pelopor dan penggiat Gentle Birth di Indonesia