Alasan Memilih Operasi Sesar

Melahirkan anak yang sehat adalah berkat dari Tuhan yang tidak tertandingi. Dan semua orang tua pasti menginginkan hal ini. Kecuali beberapa kasus dimana ada pasangan yang memang tidak ingin atau tidak merencanakan untuk mempunyai anak karena suatu alasan tertentu.

Di seluruh dunia, bayi lahir dengan melalui dua acara, yaitu pervaginam atau Caesar.

Saya tidak bermaksud membanding mbandingkan antara kedua metode ini, namun saya mau ajak Anda untuk melihat berbagai alasan dilapangan, kenapa dokter kandungan memilih operasi sesar.

Hal yang harus di garis bawahi adalah bahwa semua provider baik itu dokter maupun  bidan pasti akan focus pada keselamatan ibu dan bayi.

Dan dalam kondisi kondisi tertentu baik dari sisi ibu maupun bayi, terkadang operasi sesar menjadi pilihan yang dianggap paling aman bagi ibu dan bayi. Nah kondisi ibu dan bayi yang seperti apa yang sebaiknya dilakukan operasi sesar ? itulah yang harus dimengerti dan di pahami oleh para calon orang tua.

Karena kita tidak bisa pungkiri bahwa kondisi dilapangan saat ini luar biasa “carut marut” berbagai kasus di ungkapkan oleh beberapa ibu.

Sebagai seorang wanita hamil, tentu akan mencoba dan berusaha yang terbaik untuk memilih seorang ahli ginekologi yang berpengalaman, berpendidikan tinggi dan profesional. Seorang provider ahli yang mau mendengarkan keluhan , menghormati pendapat klien dan bahkan selalu memberika alternative solusi terbaik.

Dan yang paling penting adalah provider  yang tidak pernah melakukan operasi caesar sampai atau kecuali ada alasan/indikasi yang masuk akal untuk melakukannya. Namun saat ini di Indonesia semakin lama justru tingkat operasi sesar semakin tinggi. Proses persalinan normal pervaginam seolah mejadi kisah masa lalu.

Kisah Persalinan

Ada berbagai macam alasan kenapa “tragedy” ini terjadi di Indonesia, mulai dari adanya alasan politik dan bisnis, hingga alasan diet dan gaya hidup yang tidak sehat dari masyarakat serta kurangnya info dan pengetahuan dari masyarakat tentang proses kehamilan dan persalinan yang sehat, aman dan alami.

Saya akan berbagi dua kasus pengalaman klien saya di lapangan dan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan salah satu profesi tenaga kesehatan.

  1. Kasus 1. mbak Anissa (bukan nama sebenarnya) , Beliau bercerita kepada saya saat dia ikut kelas therapy healing trauma di Bidan Kita. Ketika saya meminta nya untuk bercerita tentang pengalaman proses persalinannya kemaren, dia bercerita bahwa, selama kehamilan karena ini anak pertama, maka mbak Anissa memilih dokter kandungan yang paling terkenal dan senior di kotanya. Dan selama masa kehamilan, kondisi kehamilannya sangat sempurna dan sehat. Hingga suatu hari, seminggu sebelum HPL (Hari Perkiraan Lahir), tiba tiba dia mendapatkan telp dari pihak RS untuk segera ke RS dan melakukan induksi atau operasi SC segera. Kaget dan heran saat itu, namun dengan polosnya mbak Anissa datang ke RS tersebut dan menemui sang dokter. Sesampai di ruang periksa, sang dokter langsung memberikan rujukan untuk segera induksi karena menurutnya kondisi bayi sudah tidak stabil. Ada lilitan tali pusat, ada pengapuran plasenta, dan ketuban sedikit. Intinya saat itu adalah bahwa malam itu mau tidak mau mbak Anissa harus induksi dan melahirkan anaknya segera kalau mau anaknya selamat. Alhasil mbak Anissa dan suami menyetujui intervensi tersebut. Dan mereka menginap di RS malam itu juga. Setelah 2 flabot infus berisi oksitosin masuk ketubuhnya, mbak Anissa mulai merasakan kontraksi. Namun kontraksi yang dirasakan terasa sangat menyakitkan baginya dan saat dilakukan pemeriksaan dalam ternyata baru pembukaan 2 cm. selama 12 jam mengalami komtraksi yang sangat tidak nyaman membuat mbak Anissa merasa kelelahan dan kondisi janin semakin menurun. Saat itu sang dokter seolah berusaha semampunya untuk “mengupayakan persalinan normal alami” . namun karena sang ibu sudah lemas dan kondisi detak jantung janin sudah mulai menurun, maka malam itu mbak anissa mau tidak mau harus operasi sesar emergency.
  2. Kasus 2. Mbak Anik (bukan nama sebenarnya), dating ke klinik saya untuk mengikuti kelas healing trauma juga. Dan ketika saya minta untuk cerita tentang proses persalinannya, berbeda dengan mbak Anissa, di kasusnya, mbak Anik bertemu dengan dokter kandungan yang sangat baik. Yang bear benar mengupayakan dan selalu memotivasinya untuk melahirkan secara normal alami pervaginam. Namun mbak Anik terlalu sibuk untuk mempersiapkan segalanya. Sebagai wanita karir dia tidak punya waktu untuk hanya sekedar membaca . yang ada, dia pasrah dengan dokter yang merawatnya. Singkat cerita, saat proses persalinan tiba, mbak Anik datang ke RS untuk melahirkan. Namun karena tidak ada persiapan sama sekali, maka mbak Anik merasakan panic dan kecemasanyang luar biasa saat proses melahirkan. Tiap kali kontraksi muncul dia menangis dan berteriak. Hingga akhirnya mbak anik menyerah dan bahkan memaksa dokter untuk mengoperasinya (padahal dokternya masih semangat untuk melahirkan pervaginam) namun, mbak Aniknya yang merasa tidak sanggup. Alhasil dengan permintaan sendiri mbak Anik operasi sesar

Nah dari dua kasus di atas, bisa kita lihat bahwa KNOWLEDGE is POWER. Bahwa seorang ibu hamil yang minim ilmu pengetahuan maka potensi trauma, intervensi hingga komplikasi semakin besar terjadi.