Pemeriksaan DALAM/ Vagin* saat Melahirkan
Buat banyak ibu, terutama yang baru pertama kali hamil, momen datang ke UGD saat mulai kontraksi adalah momen yang penuh campur aduk. Deg-degan, grogi, sakit, takut, harap-harap cemas. Tapi ada satu hal penting yang sering luput disiapkan—secara mental maupun informasi—yaitu pemeriksaan dalam.
Biasanya, kejadiannya cepat banget:
Kamu datang dengan napas ngos-ngosan, masih berusaha tahan kontraksi yang mulai terasa makin intens. Belum sempat duduk tenang, ada bidan atau tenaga medis yang bilang,
“Bu, kita periksa dalam dulu ya. Silakan rebahan, buka celananya, kakinya dibuka lebar ya…”
Tanpa banyak penjelasan, kamu diminta berbaring telentang. Paha dibuka. Dan… tiba-tiba ada dua jari yang masuk ke vagina. Kadang dingin, panas, perih, kadang terasa ditekan, kadang nyut-nyutan. Banyak ibu mengaku kaget. Nggak siap. Ada yang merasa malu, ada juga yang merasa seperti tubuhnya “diterobos” tanpa izin.
Kalau kamu merasa nggak nyaman, itu valid.
Kalau kamu merasa kaget, itu wajar.
Kalau kamu merasa ada yang kurang pas, kamu nggak lebay.
Yang sering bikin syok adalah, ternyata pemeriksaan ini nggak cuma sekali.
Selama proses persalinan, kamu bisa diperiksa 4–5 kali, bahkan lebih. Tergantung dari kecepatan pembukaan, kebijakan fasilitas, atau siapa yang sedang jaga saat itu. Ada yang beda tangan setiap kali periksa. Ada yang terasa ringan, ada juga yang bikin ngilu sampai ke perut.
Dan sayangnya, masih banyak yang belum tahu bahwa sebenarnya kamu berhak tahu, bertanya, bahkan menolak jika belum siap.
Pemeriksaan dalam memang punya tujuan penting: untuk menilai pembukaan, posisi kepala janin, dan progres persalinan. Tapi bukan berarti bisa dilakukan tanpa komunikasi. Tanpa penjelasan. Tanpa empati.
Kamu berhak tahu:
- Kenapa harus diperiksa?
- Siapa yang akan memeriksa?
- Apakah bisa ditunda sebentar sampai kamu siap?
- Apakah bisa dilakukan dalam posisi yang lebih nyaman?
- Apakah bisa dijelaskan dulu sebelum mulai?
Karena tubuhmu bukan objek.
Kelahiran bukan prosedur mekanik.
Dan kamu, sebagai ibu yang sedang melahirkan, layak diperlakukan dengan hormat dan kasih.
Apa Itu Pemeriksaan Dalam (VE atau VT)?
Pernah dengar istilah “diperiksa dalam” saat kontrol kehamilan atau saat sudah mulai kontraksi?
Dalam istilah medis, ini disebut VE (Vaginal Examination) atau VT (Vaginal Touché).
Prosedurnya adalah: tenaga kesehatan (dokter atau bidan) memasukkan dua jari ke dalam vagina untuk menilai kondisi serviks (leher rahim) dan memantau kemajuan proses persalinan. Pemeriksaan ini umum dilakukan saat ibu sudah mulai kontraksi atau datang ke fasilitas kesehatan untuk melahirkan.
Tapi sayangnya, banyak ibu yang tidak tahu atau belum siap secara mental ketika pertama kali mengalami VE. Karena prosedur ini terasa sangat pribadi dan rentan—dan jika tidak dilakukan dengan cara yang baik, bisa meninggalkan rasa tidak nyaman atau bahkan trauma.
Apa Tujuan Pemeriksaan Dalam?
VE bukan sekadar “formalitas” atau rutinitas. Bila dilakukan dengan indikasi yang tepat, VE punya fungsi penting:
1. Menilai Tahapan Persalinan
VE membantu menentukan apakah ibu masih dalam fase laten, aktif, atau sudah masuk fase mengejan (kala II). Ini penting agar tenaga kesehatan bisa memutuskan langkah selanjutnya.
Referensi: WHO (2018) menyebutkan bahwa pemeriksaan dalam bisa membantu menentukan tahap persalinan, namun frekuensinya harus dibatasi dan hanya dilakukan bila ada indikasi.
2. Mengecek Kemajuan Pembukaan Serviks
VE mengukur berapa cm serviks telah membuka dari 0 sampai 10 cm. Tapi bukan cuma soal angka—bidan juga menilai:
- Posisi kepala janin
- Ketebalan dan konsistensi serviks
- Posisi janin (posterior, anterior, dll)
- Station (apakah kepala janin sudah turun ke panggul)
Simkin, Penny (2017) dalam “Labor Progress Handbook” menekankan bahwa interpretasi hasil VE harus dikaitkan dengan keseluruhan tanda kemajuan persalinan, bukan berdiri sendiri.
3. Membantu Pengambilan Keputusan Medis
Misalnya:
- Kapan bisa diberikan analgesia
- Apakah perlu intervensi seperti amniotomi (pecah ketuban)
- Kapan perlu dipindah ke ruang bersalin
Namun perlu digarisbawahi:
VE tidak bisa memprediksi secara akurat kapan bayi lahir atau seberapa cepat proses persalinan akan berjalan (NICE Guidelines, 2017).
⚠️ Risiko dan Dampak Jika Dilakukan Sembarangan ⚠️
Walaupun tujuannya penting, VE bukan tanpa risiko. Jika dilakukan terlalu sering, tanpa komunikasi, atau tanpa kesiapan ibu, bisa menimbulkan dampak seperti:
- Rasa tidak nyaman atau nyeri
- Perdarahan ringan
- Infeksi jika prosedur tidak steril
- Rasa malu, terancam, atau terintimidasi
- Trauma psikologis, apalagi pada ibu dengan riwayat kekerasan seksual
Penelitian oleh Gita Arulampalam (2020) di Midwifery Journal menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami pemeriksaan dalam tanpa penjelasan sebelumnya lebih berisiko mengalami kecemasan dan kehilangan kontrol dalam proses persalinan.
Maka, Apa yang Harus Diperhatikan?
✅ 1. Harus Berdasarkan Indikasi
Pemeriksaan dalam sebaiknya tidak dilakukan rutin setiap jam. WHO (2018) menyarankan interval setiap 4 jamselama fase aktif, kecuali ada perubahan kondisi yang perlu dipantau.
✅ 2. Harus Dilakukan dengan Informed Consent
Ibu berhak tahu:
- Kenapa diperiksa
- Apa yang akan dirasakan
- Siapa yang akan memeriksa
- Apa alternatifnya
✅ 3. Harus Dilakukan dengan Sikap Empati dan Hormat
Pemeriksaan ini seharusnya tidak dilakukan seperti rutinitas teknis. Ibu adalah manusia yang sedang berada dalam proses besar—bukan objek medis.
Tips untuk Ibu: Siapkan Diri dengan Baik
- Pelajari dulu tentang VE sejak masa kehamilan—supaya tidak kaget.
- Buat birth plan yang mencantumkan preferensi terkait pemeriksaan dalam.
- Komunikasikan dengan pasangan dan pendamping lahir agar bisa membantu menyampaikan bila ibu merasa tidak nyaman.
- Latihan napas dan relaksasi agar tubuh lebih siap dan rileks saat diperiksa.
- Ingatkan tim medis bahwa kamu butuh penjelasan dulu sebelum diperiksa—itu adalah hakmu.
VE adalah alat bantu dalam persalinan—bukan penentu segalanya.
Dilakukan dengan cara yang benar, pemeriksaan ini bisa sangat membantu.
Tapi jika dilakukan sembarangan, bisa meninggalkan luka yang tidak kasat mata.
Sebagai ibu, kamu punya hak penuh atas tubuhmu.
Kamu boleh bertanya, minta waktu, atau bahkan menolak jika belum siap.
Dan sebagai tenaga kesehatan, kita semua diingatkan:
“Tangan yang menyentuh harus lebih dulu memahami hati yang disentuh.”
Saat VE, tenaga kesehatan mengevaluasi beberapa hal:
| Parameter | Apa Artinya |
|---|---|
| Pembukaan serviks | Dari 0 cm (tertutup) sampai 10 cm (bukaan lengkap) |
| Penipisan serviks | Persentase dari 0% (utuh) ke 100% (menipis) |
| Posisi & konsistensi | Apakah serviks menghadap depan/belakang, lunak/kaku |
| Station kepala janin | Seberapa turun kepala ke panggul (-5 s.d. +5) |
| Posisi & presentasi | Apakah kepala janin di bawah, bokong, atau lintang |
| Ketuban | Masih utuh, pecah sendiri, atau pecah dini |
| Caput & moulding | Tanda tekanan kepala janin di jalan lahir |
Kapan Pemeriksaan Dalam (VE) Sebaiknya Dilakukan?
Pemeriksaan dalam atau Vaginal Examination (VE) memang bisa jadi bagian penting dari pemantauan persalinan. Tapi bukan berarti harus dilakukan setiap saat. Bahkan menurut rekomendasi WHO (2018), VE hanya boleh dilakukan bila memang ada indikasi, bukan sekadar rutinitas.
Idealnya, VE dilakukan saat:
- Ibu tiba di fasilitas dan ingin diketahui status awal persalinan
- Ada indikasi kemajuan (misalnya kontraksi makin kuat atau teratur)
- Ibu mulai merasa ingin mengejan (butuh pastikan apakah sudah pembukaan lengkap)
- Tenaga kesehatan perlu mengetahui posisi kepala janin
- Akan dilakukan tindakan medis seperti pemasangan infus, induksi, pemberian analgesia, atau amniotomi
⏰ Interval aman: umumnya cukup setiap 4 jam sekali dalam fase aktif persalinan (WHO, 2018).
Lebih sering dari itu sebaiknya dihindari—kecuali ada perubahan signifikan pada kondisi ibu atau bayi.
Kenapa Banyak Ibu Trauma Setelah Pemeriksaan Dalam?
VE bukan sekadar “tindakan medis biasa.”
Ia melibatkan area tubuh yang sangat pribadi, sensitif, dan erat kaitannya dengan perasaan aman, martabat, dan kontrol diri. Karena itu, ketika VE dilakukan tanpa komunikasi atau persetujuan, banyak ibu merasa tersentuh secara fisik tapi tidak secara manusiawi.
Berikut beberapa hal yang sering terjadi di lapangan:
Banyak ibu tidak diberi penjelasan lebih dulu:
Langsung “srut!” tangan masuk tanpa aba-aba atau edukasi.
Tidak ditanya apakah sudah siap secara mental dan posisi:
Belum sempat tarik napas, sudah disuruh buka paha dan telentang, sering kali di ruangan terbuka dengan pencahayaan terang.
Sering dilakukan oleh orang yang berbeda-beda:
Ada yang bilang, “Tadi bidan A sudah periksa, sekarang saya juga harus periksa ulang ya.” Padahal ini bisa membuat ibu merasa tidak punya kontrol atas tubuhnya sendiri.
Efeknya?
- Rasa malu, marah, bahkan merasa dilecehkan
- Takut menghadapi persalinan berikutnya
- Trauma hingga postpartum—karena tubuhnya disentuh tanpa persiapan, tanpa rasa aman, tanpa kejelasan
Seorang ibu pernah berkata,
“Rasanya seperti dipaksa buka diri padahal aku bahkan belum sempat bilang ‘ya’. Aku nangis setelah itu, bukan karena sakit, tapi karena merasa dilanggar.”
Dan ya—itu valid.
⚠️ Risiko-Risiko yang Sering Diabaikan dari VE ⚠️
Meski terlihat sederhana, VE adalah tindakan invasif, artinya ada potensi dampak fisik dan psikologis:
Risiko Fisik:
- Infeksi, apalagi jika ketuban sudah pecah dan tangan tidak sepenuhnya steril
- Perdarahan ringan jika serviks masih sensitif atau belum matang
- Rasa nyeri saat dan sesudah pemeriksaan
Risiko Psikologis:
- Stres dan kecemasan berlebihan selama proses persalinan
- Trauma mendalam, terutama jika ibu punya riwayat kekerasan seksual
- Kehilangan rasa percaya diri dalam proses melahirkan
Risiko Intervensi Berantai (Cascade of Interventions):
Hasil VE yang dianggap “lambat” (misalnya pembukaan stuck di 4 cm) seringkali memicu intervensi lain—seperti induksi, pemecahan ketuban, infus oksitosin, hingga ujung-ujungnya operasi caesar. Padahal proses persalinan sangat individual dan bervariasi.
Penny Simkin (2013) dalam penelitiannya mengingatkan bahwa terlalu sering melakukan VE tidak meningkatkan kualitas asuhan, tapi malah meningkatkan kemungkinan trauma emosional.
Prinsip Etis & Aman Saat Melakukan VE
VE bisa dilakukan dengan aman dan manusiawi, asal prinsip dasarnya dijunjung tinggi:
1. Minta Izin dan Jelaskan Tujuannya
- Jelaskan apa itu VE, kenapa perlu dilakukan, apa yang akan dirasakan
- Beri waktu ibu untuk menyetujui—jangan terburu-buru
2. Gunakan Sarung Tangan Steril dan Pelumas
- Hindari pemeriksaan kering yang menyakitkan
- Pastikan tangan hangat, kuku pendek, dan prosedur higienis
3. Jaga Privasi dan Rasa Aman
- Tutup tubuh ibu dengan kain
- Gunakan ruangan tertutup atau sekat
- Jangan biarkan banyak orang keluar masuk saat prosedur
4. Berikan Umpan Balik dan Catatan
- Sampaikan temuan dengan empati (“Ibu sudah pembukaan 5, bagus ya Bu, kita terus dukung.”)
- Catat secara sistematis, misalnya di Partograf atau Labor Care Guide (LCG)
5. Hindari Pemeriksaan Berulang oleh Orang Berbeda
- Koordinasikan antar-tim agar VE tidak dilakukan berkali-kali tanpa alasan kuat
Pemeriksaan dalam adalah salah satu langkah dalam proses persalinan—tapi bukan satu-satunya, dan bukan yang paling menentukan.
Sebagai ibu, kamu punya hak atas tubuhmu.
Sebagai tenaga kesehatan, kita punya tanggung jawab moral dan profesional untuk menyentuh dengan hormat.
VE bukan hanya soal jari, tapi juga soal kepercayaan.
Dan dalam proses melahirkan, kepercayaan itu adalah kunci segalanya.
❓ Bisa Ditolak Nggak?
BISA. DAN BOLEH BANGET.
Pemeriksaan dalam (VE) adalah tindakan medis yang bersifat invasif. Artinya, tindakan ini menyentuh bagian tubuh pribadi dan tidak boleh dilakukan tanpa izin.
Kamu punya hak penuh untuk mengetahui, mempertimbangkan, dan bahkan menolak jika belum siap.
Kamu bisa bertanya:
- “VE ini untuk apa ya, Dok/Bu Bidan?”
- “Apakah memang harus dilakukan sekarang?”
- “Kalau tidak dalam kondisi darurat, saya ingin menunggu dulu.”
Kamu tidak perlu merasa bersalah.
Tidak perlu takut dibilang “sulit” atau “rewel.”
Karena ini bukan soal menolak bantuan, tapi menjaga rasa aman atas tubuhmu sendiri.
WHO (2018) secara tegas menyatakan bahwa semua prosedur obstetri harus dilakukan dengan informed consent, dan ibu harus diberi penjelasan yang cukup serta waktu untuk mempertimbangkan.
Tips: Kalau VE Memang Perlu Dilakukan…
Kadang, VE memang perlu—misalnya untuk memastikan bukaan sebelum mengejan, atau sebelum intervensi medis seperti induksi atau analgesia.
Kalau begitu, kamu tetap bisa meminta VE dilakukan dengan cara yang paling nyaman, aman, dan manusiawi.
Berikut tips yang bisa membantu:
✅ Sebelum VE:
- Minta dilakukan dengan lembut dan pelumas
→ Hindari pemeriksaan “kering” yang bikin ngilu. - Pilih posisi ternyaman
→ Tidak selalu harus telentang, bisa juga miring atau setengah duduk (asal disetujui dan memungkinkan). - Minta waktu untuk tarik napas dan tenangkan diri.
✅ Saat VE:
- Fokuskan pikiran dan tubuh dengan napas panjang, lembut, perlahan.
- Gunakan afirmasi dalam hati:
“Tubuhku tahu apa yang harus dilakukan. Ini untukku dan bayiku. Aku tenang. Aku siap.” - Minta pendamping (pasangan atau doula) ada di dekatmu untuk memberikan rasa aman dan dukungan.
Apakah Ada Cara Lain Menilai Kemajuan Persalinan Tanpa VE?
ADA!
Tidak semua penilaian kemajuan harus dengan memasukkan jari.
Tenaga kesehatan yang memahami proses persalinan fisiologis bisa menggunakan tanda-tanda lain yang lebih menghormati insting tubuh ibu:
Tanda-Tanda Progres Persalinan Fisiologis:
- Kontraksi yang makin kuat, lama, dan teratur
- Perubahan suara ibu: dari ngobrol → mendesah → diam dan fokus
- Perubahan posisi tubuh: mulai berdiri, bersandar, atau gelisah
- Muncul garis ungu di bokong (purple line) yang naik seiring bukaan
- Dorongan mengejan spontan tanpa disuruh
Rachel Reed (MidwifeThinking) menekankan bahwa tanda-tanda ini bisa lebih akurat dan empatikdibanding pemeriksaan dalam berulang yang berisiko mengganggu proses.
⚠️ Kenapa VE yang Tidak Perlu Harus Dihindari?
VE yang dilakukan tanpa indikasi atau terlalu sering bisa menimbulkan:
- ❌ Rasa nyeri dan tidak nyaman
- ❌ Gangguan pada relaksasi dan konsentrasi ibu
- ❌ Perasaan tak dihargai dan kehilangan kontrol
- ❌ Stres atau trauma emosional
- ❌ Risiko infeksi, terutama jika ketuban sudah pecah
- ❌ Pemicu intervensi medis berantai: hasil VE yang dinilai “lambat” seringkali menjadi alasan untuk mempercepat persalinan dengan cara-cara yang sebenarnya tidak selalu perlu, seperti induksi, infus oksitosin, atau bahkan SC
Penny Simkin dalam The Labor Progress Handbook menyebut bahwa terlalu fokus pada hasil VE bisa membatasi pemahaman menyeluruh tentang progres fisiologis ibu dan malah menyebabkan keputusan medis yang terburu-buru.
✋ Tips Menghindari VE yang Tidak Perlu
1. Tanyakan Tujuannya
“Apakah VE ini memang diperlukan sekarang secara medis?”
“Apakah ada tanda bahaya yang sedang dicurigai?”
Jika jawabannya hanya “buat lihat bukaan” dan situasi tidak darurat, kamu berhak menunda atau menolak.
2. Tuliskan di Birth Plan
“Saya ingin VE dilakukan seminimal mungkin, hanya jika ada indikasi medis, dengan penjelasan dan persetujuan setiap kali.”
3. Bangun Kepercayaan pada Tubuh Sendiri
- Gunakan afirmasi: “Tubuhku tahu caranya melahirkan.”
- Ikuti kelas hypnobirthing, prenatal yoga, gentle birth
- Jauhi lingkungan yang mengintimidasi, dekatilah yang menguatkan
4. Siapkan Pendamping yang Tegas
Pasangan atau doula bisa menjadi “penjaga gerbang”:
“Ibu belum siap VE sekarang, kami minta dijelaskan dulu dan tunggu sampai beliau siap.”
Pemeriksaan dalam bisa menjadi bagian dari proses kelahiran yang penuh cinta—asal dilakukan dengan empati dan kesadaran.
Bukan seperti kejutan yang menyakitkan, bukan seperti prosedur tanpa rasa.
Kamu adalah subjek, bukan objek.
Tubuhmu bukan alat medis—tapi rumah bagi kehidupan baru.
Kamu boleh bertanya.
Kamu boleh menolak.
Kamu boleh memilih kapan dan bagaimana tubuhmu disentuh.
Referensi:
- World Health Organization (2018). Intrapartum care for a positive childbirth experience.
- Simkin, Penny & Ancheta, Ruth (2017). The Labor Progress Handbook.
- Rachel Reed. MidwifeThinking Blog
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) Green-top Guideline No. 42