Menulis Birth Plan atau rencana persalinan mungkin belum lazim dilakukan di Negara kita ini. Namun sebenarnya ini sangatlah penting karena Sebagai Calon orang tua dan juga Konsumen, seringkali Anda dihadapkan dengan situasi dimana Anda harus membuat banyak keputusan untuk perawatan kehamilan Anda, pengujian dan prosedur medis, pengalaman melahirkan dan perawatan bayi baru lahir. cita-cita Anda, nilai-nilai dan perspektif tentang proses kelahiran adalah unik. Sama seperti Anda yang juga unik.

 

Dalam mempersiapkan untuk persalinan dan kelahiran bayi Anda, penting untuk mengevaluasi pikiran Anda sehubungan dengan masalah ini.  Sangat penting bagi Anda untuk meluangkan waktu bersama pasangan atau mungkin orang tua Anda untuk membahas setiap aspek dari kehamilan, kelahiran hingga siapa yang akan menjadi tim yang solid saat mendampingi Anda bersalin.

 

Keputusan pertama yang akan Anda buat adalah dimana Anda akan bersalin dan kepada siapa Anda akan mempercayakan proses persalinan Anda. Apakah Anda berencana untuk melahirkan di rumah sakit, rumah bersalin?rumah sakit ibu dan anak? atau mungkin di rumah? Apakah Anda akrab atau familiar dengan rumah sakit di daerah anda tersebut? Bagaimana dengan biayanya? Apakah biaya persalinan Anda akan ditanggung perusahaan? Atau mungkin Anda menggunakan jasa asuransi? Atau Anda harus mengeluarkan dari dompet pribadi?

Kebetulan Klien yang datang untuk mengikuti kelas relaksasi hypnobirthing di Bidan Kita bukan hanya murni Klien saya artinya bukan hanya ibu hamil yang memang dari awal melakukan pemeriksaan kehamilan di Bidan Kita dan akan bersalin juga disini. Tetapi kebanyakan justru Klien saya adalah Klien Dokter kandungan dan berasal dari berbagai daerah, ada dari Bandung, Semarang, Jakarta, Jogja, Solo dan banyak lagi. Artinya setelah melakukan pemeriksaan Antenatal dan mengikuti kelas relaksasi hypnobirthing, mereka tidak semuanya bersalin di Bidan Kita.

Setiap kali berbincang-bindang dengan mereka selalu saya berikan gambaran tentang pentingnya birth plan dan pentingnya Maternity Tour. Mengapa demikian? Karena dengan kita menulis rencana kelahiran, atau daftar preferensi, atau lembaran pilihan, atau daftar permintaan yang ideal yang berhubungan dnegan proses persaliann Anda nanti, ini bisa menjadi sebuah alat komunikasi dan menjadi katalis untuk diskusi yang mendalam, meningkatkan pemahaman dan perawatan pribadi Antara Anda dengan penyedia layanan kesehatan Anda (Dokter/Bidan)

Dengan menulis rencana kelahiran (birth Plan) atau melakukan Maternity Tour diharapkan tidak ada kekecewaan ataupun perasaan “terjebak” ketika hari H nanti.

Coba bayangkan sebuah kasus begini:

Seorang ibu 25th, hamil pertama dan ini adalah keluarga baru dimana kedua orang tua mereka jauh dari tempat tinggal mereka sekarang, intinya keluarga ini adalah perantau. Nah selama hamil si ibu ini periksa di Seorang Dokter Kandungan di tempat prakteknya. Nah selama hamil semuanya normal-normal saya dan dia berencana untuk bersalin di Rumah Sakit dimana Dokter langganannya tersebut praktek. Berharap saat persalinannya nanti dia ditolong oleh dokter yang sering menanganinya selama masa kehamilan. Karena Antusias dan sangat senang dengan kehamilannya si ibu ini sangat rajin mencari informasi terkini tentang apa dan bagaimana proses persalinan. Dalam hati dia sudah berharap bahwa proses persalinannya nanti dia akan mendapatkan pengalaman yang indah dan menyenangkan.

Nah ketika hari H dia merasakan kontraksi, panic itu yang ada di pikirannya makanya serta merta ibu ini ke RS, setelah di periksa ternyata baru pembukaan dua (masuki kala 1 fase laten) dan si bidan menyarankan untuk langsung booking kamar dan tinggal disitu karena panic ya mereka mengiyakan. Padahal sebenarnya kala I Fase laten mustinya ibu lebih tenang ibu masih bisa pulang dan menjalani aktifitas, jalan-jalan, relaksasi di rumah agar proses kala 1 terlewati dengan lebih cepat. Nah ketika si ibu ini sudah stay di kamar ternyata si ibu ini justru semakin khawatir dan cemas apalagi di kamar sebelah ada ibu yang sedang kesakitan karena diinduksi, kamar di sampingnya ada ibu yang hendak di operasi. Belum lagi para bidan yang jaga secara tidak sadar sering memberikan dan mengucapkan sugesti negative. Sungguh sayang sekali karena sebenarnya ketika seorang ibu dalam kondisi emosi yang intens apa yang didengar dan dilihat bisa terekam dalam alam bawah sadarnya. Nah si ibu itu masih tenang dan akhirnya setelah beberapa jam lamanya masuk ke fase Aktif, dan dia dianjurkan untuk segera ke ruang bersalin.

Bayangan si ibu ini (karena baru pertama kali) ruang bersalinnya nyaman senyaman ruang praktek dokternya. Nah ketika tiba di ruang bersalin ternyata ruangannya dingin, dengan tembok cat warna putih, dengan berbagai alat-alat di tiap sudut dan ruangan itu ternyata hanya seperti barak dengan sekat-sekat dan berisi lima ibu yang hendak bersalin juga. Ada yang sedang sakit-sakitnya dan berteriak, ada yang sedang mengejan, ada yang habis bersalin dan perdarahan dan banyak lagi. Dan itu secara tidak sadar membuat si ibu ini stress dan seperti kita tahu stress justru akan menghambat produksi oksitosin dalam tubuh. Saat itu juga tubuhnya bereaksi dia yang semula sudah memasuki pembukaan 8cm tiba-tiba macet tidak ada penambahan pembukaan lagi. Akhirnya di dokter langsung mengintruksikan untuk dilakukan induksi. Alhasil si ibu semakin merasa sakit. Belum lagi di tempat tidur nya si ibu tidak bisa leluasa bergerak. Bagaimana bisa bergerak dan alih posisi lha wong tempat tidurnya saja sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk mobilisasi. Belum lagi bantalnya sangat keras (bantal yang dilapisi perlak) terasa panas dan tidak nyaman.

Saat itu si ibu sudah merasa terjebak, ingin lari tapi tak kuasa, ingin marah tapi marah dengan siapa? Beberapa jam kemudian setelah merasakan “penderitaan” akhirnya si ibu tersebut pembukaan lengkap. Seperti di buku-buku dan info yang dia dapatkan sebenarnya si ibu ingin mengejan dengan posisi jongkok dan tubuhnyapun menginginkan demikian. Namun pihak rumah sakit melarang yang diperbolehkan hanya terlentang dan miring ke kiri (padahal seperti kita tahu posisi terbaik untuk ibu bersalin adalah posisi yang senyaman mungkin)

Setelah mengejan berkali-kali akhirnya berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki mungil dan sehat, dan apa yang dilakukan dokter? Dokter tersebut langsung potong tali pusatnya lalu membawa bayi itu pergi ke ruang bayi untuk di bersihkan di timbang di ukur dll. Siibu yang ingin IMD tak bisa melakukannya dan ketika meminta dokter dan bidan melakukan si bidan mengatakan bahwa itu sudah Standart Operating Prosedurnya. Dan alhasil bayinya tetap stay di Ruang bayi untuk beberapa saat. Setelah ibunya sehat baru si ibu boleh mengunjungi bayinya dan emmberikan ASInya ke bayi tersebut,

Dan ternyata behind the scane si bayi sudah diberikan susu formula.

Hhhh…bisa kita lihat? Semuanya tidak sesuai dnegan harapan si ibu dan keluarganya,

Pupus sudah dan moment itu sudah tak bisa diulangi lagi.

Sungguh sayang sekali.