Memupus Birth Trauma Melalui Persalinan Nyaman

 

Ibuku beberapa kali bercerita, proses beliau saat malahirkanku dulu merupakan sebuah proses yang panjang dan menyakitkan.

“Sakitnya itu dari pagi sampai pagi lagi. Bahkan baru malam keesokan harinya kamu lahir, dan larane (sakit sekali-red), Masya Allah…”

Siapa yang tidak takut dengan persalinan jika kita terus dijejali dengan cerita menyakitkan tentangnya? Bahkan aku sempat kepikiran buat melakukan SC (Operasi caesar-red) untuk mengeluarkan janin di perutku ini. Takut? TENTU!

Tapi beberapa minggu kemudian, aku ngobrol-ngobrol dengan temanku yang sudah mempunyai dua anak. Dia bercerita, persalinan anaknya yang kedua sangat menyenangkan. Rasa sakit yang biasa datang melanda, berhasil dia handle dengan ketenangan dan sukacita. Apa rahasianya? Temanku menyarakankan aku untuk ikut yoga. Kemudian dia mengenalkanku dengan istilah gentle birth. Awal mula aku mencaritahu tentang gentle birth, yang muncul di layar laptopku adalah persalinan homebirth-nya Dewi Lestari. Persalinan yang hanya dipandu oleh suaminya, bayi keluar mak prucut langsung ditangkap oleh tangan suaminya. Indah dan cantik. Bahkan tapa jahitan! Aku yang takut sama segala macam jarum ini langsung bertekad mencaritahu lebih banyak tentang gentle birth.

 

Kesibukanku memang diatas rata-rata. Hamil sambil kerja dan lembur membuatku lupa bahwa aku harus mempersiapkan persalinanku, padahal tahu-tahu aku kehamilanku sudah menginjak trimester ketiga. Alhasil mau nggak mau aku harus stop segala ini itu, memfokuskan diri pada persiapan persalinan. Aku ikut prenatal yoga di kelasnya Kak Yesie, meskipun tiap ikut kelasnya, selalu nggak pernah ketemu Kak Yesie-nya. Kurang beruntung sekali aku! Aku juga langsung membeli gymball/birthing ball dan berniat membeli yoga matt (hanya berniat saja, dasarnya aku ga rajin-rajin amat, akhirnya ga jadi deh beli yoga matt. Hiks). Pada usia kehamilanku yang ke-36 minggu. Aku mulai rutin latihan di gymball bahkan pas udah 37 minggu! Telat banget nggak sih? Tapi, memang, nggak pernah ada kata terlambat kalau semua sudah diniatkan dari awal. Bahkan semesta pun mendukung (istilahnya sih mestakung). Meskipun semua ilmu baru kupelajari mendekati masa persalinan, bahkan gabung dengan grup Whatsapp (dulu masih Whatsapp pas masih belum pindah ke Telegram) Laskar Gentle Birth (LGB) yang punya motto empowered to empower, semua bahan pelajaran terasa asik.

Kalau nggak lewat grup ini, gimana aku bisa tahu gimana caranya santai menjelang persalinan?

Jumat tanggal 5 Agustus pagi, waktu aku pipis, aku lihat ada flek di celanaku. Wah, batinku, jangan-jangan ini sudah saatnya. Sebentar lagi tamu agungku dateng nih. Okay, santai aja dulu. Jumat pagi itu setelah suami berangkat ke kantor, aku ke Puskesmas untuk minta surat rujukan persalinan. Tapi sayang banget, loket BPJS udah tutup. Ya sudah, daripada bengong di rumah nggak ngapa-ngapain, aku main ke rumah temenku. Enaknya, naik motor sendirian, pelan-pelan, lewat perdesaan. Adem! Siangnya, aku pulang. Sebelum pulang, sempetin beli es kelapa muda dan gorengan dulu buat camilan di rumah nantinya. Sampe rumah, cek dan ricek lagi, flek yang keluar makin banyak. Bahkan sudah berupa darah. Okay, sebentar lagi nih. Lemesin aja, Tshay! Akhirnya santai beneran, aku bobo siang dulu sembari nunggu suami pulang kantor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *