Dulu, yang saya tahu, hari perkiraan lahir (HPL) itu patokan “mati”. Dulu, yang saya tahu, melahirkan selalu identik dengan mengejan. Jadi kalau tidak bisa mengejan dengan baik, ya… bayinya sulit keluar. Dulu, yang saya tahu, melahirkan itu peristiwa yang luar biasa menyakitkan. Jadi yang ada dalam pikiran saya adalah, yang penting bayinya cepat keluar, selamat, dan organ-organnya berfungsi dengan baik. Jadi kalau pemeriksaan medis menyatakan ia sehat, itu sudah cukup. Hingga ketika menyusun laporan jurnalistik Gentle Birth, Cara Melahirkan “Primitif” yang Kembali Nge-tren (Laporan Khusus Majalah Nirmala, Desember 2010), saya dikejutkan dengan berbagai penemuan yang ada dalam aspek persalinan. Hal ini membuat saya berkaca pada pengalaman melahirkan Velma (6 tahun), anak pertama, menemukan kekurangan, dan bersama suami, bertekad mempersembahkan sebuah proses persalinan yang lebih ramah jiwa, untuk memperbaiki kekurangan dan membayar segala ketidaktahuan yang ada. Selama hamil, yang kami lakukan adalah mengajak ngobrol si bayi, meminta pendapatnya tentang apa saja, termasuk memintanya menentukan sendiri, dengan cara apa ia keluar dengan nyaman. Menurutnya. Bukan menurut saya, “aturan” di luar sana, atau apa pun. Kami hanya sebatas berusaha belajar mendengarkan isyaratnya, dan berusaha mewujudkannya. Mulai dari mengondisikan diri agar kehamilan berjalan sehat dan lancar, menyiapkan kamar tidur dan sarana persalinan yang kondusif jika nanti memungkinkan untuk waterbirth di rumah, hingga survei klinik dan rumah sakit di akhir pekan, sebagai alternatif cadangan. Untuk mengasah kemampuan berkomunikasi dengan tubuh meliputi mind, body dan spirit-nya, kami juga rutin latihan yoga, meditasi, taichi, bio-energy, serta melakukan afirmasi dan visualisasi. Ribet? Tidak sama sekali. Kami hanya meniatkan sepenuh hati, mempersiapkan segalanya semaksimal mungkin, dan setelah itu menyerahkan sepenuhnya pada semesta, untuk bekerja dengan caranya sendiri. Nanti mau lahiran di rumah atau di rumah sakit, saya percaya, itu pilihan Tuhan yang terbaik. Pokoknya, hidup saat ini saja. Tidak perlu khawatir dengan yang sudah-sudah, dan tidak perlu memusingkan yang belum tentu terjadi. Tanpa disangka-sangka, dengan begitu, kami justru menemui banyak kebetulan. Tanggal 9 Maret 2011, saat HPL tiba, misalnya, dokter langganan yang sudah banyak diajak ngobrol tentang beberapa prinsip persalinan gentle mendadak ke luar kota. Dokter penggantinya, tak sesuai kata hati. Kami seperti dituntun untuk kembali ke rumah. Jakarta, 10 Maret 2011. Saat persalinan tiba. Pada setiap detiknya, yang kami dengarkan dan turuti adalah isyarat si bayi dalam perut. Soal posisi persalinan, misalnya, intuisi menuntun saya mengambil posisi berlutut. Beberapa kali saya mendesis, berusaha menyelaraskan napas dengan kepala bayi yang turun dan turun. Memang benar adanya, bayi punya kemampuan untuk keluar secara alami, sehingga kita tidak perlu mengejan, sama sekali. Joserizal Zam Zam, bayi seberat 3,5 kg dengan panjang 49 cm, anak kedua kami, lahir secara waterbirth, di sudut kamar tidur kami sendiri, dalam suasana yang begitu hening, tenang, dan sakral. Tanpa ada aba-aba, Ayo terus-terus layaknya tukang parkir, tidak ada pemisahan di jam-jam pertama ia lahir, dan tali pusarnya dibiarkan tetap terhubung dengan plasenta, hingga 8 jam lamanya (delayed cord cutting). Apapun nama dan metode yang digunakan, di manapun tempat ia lahir, persalinan yang menghormati mekanisme alam sehingga lebih ramah jiwa dan minim trauma-adalah persembahan bagi bayi. Alhamdulillah, kami bersyukur masih memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri, dan mempersembahkannya pada Jose. Kisah Persalinan Gentle Birth Bunda Dyah Pratitasari dapat Anda nikmati di LINK : http//:gentle-birth-catatan-kelahiran-joserizal-zam-zam