Di awal kehamilan saya tidak punya konsep persalinan apapun. Yang saya lakukan hanya mengikuti aturan-aturan normatif orang hamil kebanyakan. Dulu memang pernah dengar tentang water birth yang mulai populer. Tapi membayangkannya saja saya tidak pernah, sampai suatu hari saat blog walking saya menemukan artikel Dee Lestari tentang cerita persalinan anak keduanya, Atisha.

Saat membacanya semua perasaan bercampur aduk. Terkesima, takjub, terharu, dan bulu kuduk merinding. Ternyata banyak hal yang tidak saya ketahui. Ternyata banyak trauma yang ditinggalkan saat persalinan. Ternyata trauma lahir berpengaruh pada pskikologi anak kedepan. Ternyata persalinan adalah proses alamiah yang sakral.

Ternyata tubuh manusia memiliki potensi alamiah untuk hamil dan melahirkan sealamiah mungkin secara aman, nyaman, dan minim trauma. Dan..saat itu juga saya langsung memutuskan untuk memilih konsep persalinan seperti Dee. Gentle Birth. Suatu persalinan alami, ramah jiwa dan minim trauma.

Berbagai artikel otomatis jadi santapan saya tiap hari. Menjadi member di grup facebook Gentle Birth Untuk Semua’ juga saya lakukan. Saya berusaha memberdayakan diri saya. Banyak pengetahuan luar biasa yang saya dapatkan. Bahkan usaha ‘meracuni’ orang tua, mertua dan bidan pilihan pun saya jabani demi cita-cita tersebut.

Melahirkan dirumah, dengan media air agar transisi bayi menjadi lembut, minim intervensi medis, didampingi suami, penundaan pemotongan tali pusat, burning cord, sampai Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Saya sangat mendambakan itu semua. Ya semua itu demi baby saya, saya tidak ingin meninggalkan trauma lahir kepadanya.

Mendekati bulan kesembilan persiapan kami sudah lengkap. Dari kolam plastik, pompa elektrik, lilin dan box untuk burning cord, dll sudah kami persiapkan dengan baik. Hal-hal teknis yang saya butuhkan nanti juga sudah saya tanyakan di grup untuk menambah pengetahuan. Selain itu berdasarkan hasil kontrol dan usg trakhir dengan Spog dr. X semuanya baik, dan mendukung persalinan normal.

Di usia kehamilan 36 minggu saya semakin rajin senam hamil, relaksasi dan memberikan affirmasi positif. Tak lupa saya juga memberi tahu baby tentang libur panjang di tanggal  17-20 yang barangkali di tanggal-tanggal tersebut ia ingin bertemu dengan ayah ibunya dikarnakan ayahnya libur, yang artinya ia bisa mendampingi persalinan kami.

Tanggal 16 Mei belum ada tanda-tanda berarti. Bahkan saya menyempatkan diri ke salon untuk creambath agar rilex. Dan kami melakukan beberapa ihtiar dengan induksi alami. Induksi dengan suami, makan nanas dan duren, goyang inul, affirmasi ke baby dan pijat akupresure. Saya sempat berfikir bahwa saya terlalu Geer dengan tanggal hari libur tersebut. Dan kami memutuskan untuk menyerahkan semua pada si baby kapan ia ingin bertemu dengan kami.

Tak lupa saya juga menyetok minuman isotonik siapa tahu ada hal yang terjadi diluar rencana, yaitu KPD. Dan malam itu pun datang.

20 Mei 2012, 21.00, kontraksi ringan datang tiap setengah jam sekali. Tidak terlalu menghiraukan, saya beranjak tidur. Rasa mulas dan gejala menstruasi semakin terasa dan saya memutuskan untuk mencatat datangnya tanda cinta tersebut. Saat bangun dari bed, dan.. Pyokkk!! Oh no, ketuban saya pecah. Saya beranjak ke toilet dan memastikan kalau itu bukanlah kemih melainkan ketuban. Dengan sok coolnya saya minum banyak minuman isotonik, memakai pembalut, dan bedrest. Gelombang semaking rajin mampir yaitu 15 menit sekali.

21 Mei 2012, Pukul 04.30 saya memutuskan untuk ke bidan. Ternyata bukaan 1. Saya makin rajin berjalan kaki dan goyang inul. saya menelfon adik saya untuk datang dan membantu persalinan yang saya estimasi adalah dlm waktu 24 jam ini.

Yang aneh kontraksi justru hilang. Bidan yang akan mendampingi saya Home Water Birth melakukan VT pukul 12 siang pun baru bukaan 1,5. saya dan suami yang akhirnya mendapat cuti 2 hari, terus melakukan affirmasi ke baby. “Kaka, ayo bantu ibu ya, kami pingin ketemu kaka. Kalau ada dasi yang ngelilit lepas aja ya nak, nanti ayah belikan dasi yang lebih bagus”. Dan si kaka merespon dengan tendangan.