Kehamilan merupakan sesuatu yang harus direncanakan dengan matang terlebih dahulu. Kurangnya perencanaan yang matang seringkali dapat menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan atau kehamilan yang terjadi di waktu yang tidak tepat (lebih awal dari yang diinginkan). Kehamilan tanpa rencana ini tentu saja membawa banyak dampak negatif, seperti meningkatnya angka aborsi yang dilakukan secara tidak aman, gangguan kesehatan hingga kematian ibu dan bayi, meningkatnya tingkat KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), anak yang tidak dapat bertumbuh kembang secara sempurna, hingga masalah sosial ekonomi. Namun sayangnya, berdasarkan data dari WHO, kurang lebih setengah dari semua kehamilan di dunia dari tahun 2015 sampai 2019 adalah kehamilan tidak terencana. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui metode-metode kontrasepsi dan mencari metode kontrasepsi yang cocok untuk Anda.

Ada beberapa faktor yang perlu Anda pertimbangkan ketika Anda memilih alat kontrasepsi, di antaranya adalah keamanan, tingkat efektivitas (tingkat keberhasilan dan kegagalan), ketersediaan (termasuk harga dan susah mudahnya untuk dicari), dan respons tubuh Anda terhadap alat kontrasepsi tersebut. Selain efektivitas untuk mencegah kehamilan, efektivitas untuk mencegah HIV dan PMS (Penyakit Menular Seksual) juga perlu dipertimbangkan. Nah, berikut ini adalah beberapa refrensi alat kontrasepsi yang paling umum di Indonesia.

  1. Kondom

Pada umumnya, kondom memiliki berbagai macam jenis, antara lain adalah kondom laki-laki, kondom perempuan (internal kondom), kondom dengan rasa, tekstur, dan aroma, kondom dengan dan tanpa pelumas, dan kondom lateks dan non lateks. Kondom, baik kondom perempuan maupun laki-laki memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk mencegah masuknya sperma ke tubuh wanita, menghalangi pertemuan sperma dan sel telur agar tidak terjadi pembuahan.

panduan-audio-hypnofertility-ads

Tipe kondom yang paling umum, lateks, dapat membantu untuk mencegah kehamilan, HIV, dan PMS. Namun, kondom berjenis “natural” atau “lambskin” biasanya tidak memberikan perlindungan dari HIV dan PMS. Kondom memiliki performa yang cukup efektif apabila digunakan dengan benar. Pada umumnya, tingkat kegagalan kondom laki-laki adalah 13% sedangkan untuk kondom perempuan adalah 21%. Saat menggunakan kondom lateks, ingatlah untuk tidak menggunakan pelumas berbahan dasar minyak, seperti minyak pijat, baby oil, lotion, atau petroleum jelly karena dapat membuat kondom menjadi lebih lemah sehingga kemungkinan untuk robek, bocor, atau pecah menjadi lebih besar.