Jika Anda pernah mengalami infeksi saluran kemih (UTI) sebelumnya, maka Anda akan familiar dengan sensasi panas dan tidak nyaman yang datang bersamaan ketika Anda buang air kecil. UTI merupakan masalah yang seringkali terjadi saat kehamilan. Walaupun infeksi ini sangatlah umum dan sebenarnya cukup mudah diobati, namun jika dibiarkan, infeksi ini dapat cukup berbahaya baik bagi ibu maupun bayi.

Apa itu UTI?

UTI (Urinary Tract Infection) atau yang lebih kita kenal dengan infeksi saluran kemih adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Escherichio coli (E. coli) dan terjadi di saluran kemih yang bertugas untuk mengeluarkan sisa-sisa dan kelebihan air dari tubuh Anda. Saluran kemih terdiri dari dua ginjal, dimana urin diproduksi; dua ureter, yang mengantarkan urin sampai ke kandung kemih; kandung kemih, yang mengumpulkan dan menampung urin; dan uretra, saluran yang mengantarkan urin keluar dari tubuh Anda.

Infeksi saluran kemih ini meliputi infeksi yang terjadi di kandung kemih (biasa disebut dengan infeksi kandung kemih atau acute cystitis), infeksi ureter, infeksi uretra (urethritis), atau bahkan di beberapa kasus serius, infeksi dapat terjadi di ginjal (biasa disebut infeksi ginjal atau acutepyelonephritis).

Apa penyebabnya?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan UTI selama kehamilan, yaitu:

  • Perubahan dalam tubuh 

Semua wanita sebenarnya lebih beresiko untuk terkena UTI daripada pria karena wanita mempunyai uretra yang lebih pedek dari pria, membuat bakteri lebih mudah untuk memasuki kandung kemih. Namun ibu hamil menjadi jauh lebih rentan untuk terkena infeksi ini akibat beberapa perubahan yang terjadi di tubuh Anda selama kehamilan, seperti perubahan hormonal, rahim yang membesar, dan perubahan tubuh lainnya.

  • Bakteri

Bakteri penyebab UTI dapat datang dari berbagai tempat. Namun, bakteri penyebab UTI yang paling umum  (80 sampai 90%) adalah bakteri E.coli yang berasal dari usus. Hal ini disebabkan karena uretra terletak dekat dengan rektum (anus), sehingga bakteri ini bisa naik ke uretra. Menyeka dari depan ke belakang (dan bukan dari belakang ke depan) setelah Anda menggunakan kamar mandi dapat membantu menjauhkan bakteri ini dari uretra. Bakteri lain yang dapat menyebabkan UTI meliputi Proteus mirabilis dan Klebsiella pneumoniae. Dalam beberapa kasus, terkadang bakteri seperti group B streptococcus, Staphylococcus, Enteroccoci, Gardnerella vaginalis, dan Ureaplasma ureolyticumjuga dapat menyebabkan UTI.

  • Hubungan seksual

Berhubungan seksual ternyata juga mempunyai dampak negatif, yaitu dapat menyebabkan UTI. Hal ini disebabkan karena bakteri disekitar vagina (termasuk bakteri E.coli) dapat terdorong masuk ke uretra selama berhubungan seksual. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk buang air kecil sebelum dan setelah berhubungan seksual untuk menghilangkan bakteri tersebut.

  • Group B streptococcus

Bakteri tipe ini terkadang dapat ditemui di saluran usus, dan dapat menyebabkan UTI selama kehamilan. Di trimester akhir kehamilan Anda, provider Anda biasanya akan memeriksa adanya bakteri jenis ini dan mengobati Anda dengan antibiotik jika dirasa perlu. Jika tidak diobati, bakteri ini juga sering diasosiasikan sebagai penyebab neonatal sepsis (infeksi darah pada bayi yang baru lahir), dan juga merupakan penyebab ketuban pecah dini (KPD), dan kelahiran prematur.

Baca Juga  Pitocin vs Oxytocin: Apa Perbedaanya dan Mana Yang Lebih Aman?

Selain beberapa faktor diatas, berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat membuat Anda lebih rentan terkena UTI.

  • Riwayat UTI
  • Diabetes saat kehamilan
  • Telah memiliki beberapa anak
  • Obesitas
  • Sering berhubungan seksual
  • Sickle cell disease (kelainan pada bentuk sel darah merah)
  • Kerusakan pada saraf yang berfungsi untuk mengontrol kandung kemih akibat penyakit Parkinson (kerusakan atau kematian sel saraf secara progresif), penyakit sklerosis ganda (gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang), atau cidera fisik lainnya

Bila Anda termasuk dalam risk faktor diatas, konsultasikanlah dengan provider Anda sehingga Anda dapat lebih cermat akan tanda-tanda infeksi. 

Mengapa ibu hamil lebih rentan terkena UTI?

Menurut suatu penelitian yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 8% ibu hamil mengalami UTI. Hal ini membuktikan bahwa UTI merupakan masalah yang cukup umum terjadi pada ibu hamil.

Meningkatnya resiko UTI pada ibu hamil erat kaitannya dengan perubahan tubuh yang terjadi pada ibu hamil. Seperti perubahan hormon. Perubahan hormon pada ibu hamil, terutama hormon estrogen dan progesteron. Peningkatan hormon ini menyebabkan adanya pelebaran pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang menuju ke ginjal, sehingga produksi urin juga meningkat. Meningkatnya produksi urin ini dapat menyebabkan retensi yang nantinya dapat berujung ke penurunan kemampuan tonus ureter (otot di ureter) dan kandung kemih untuk mengosongkan kencing, urin yang tertinggal ini lama kelamaan dapat mengakibatkan adanya bakteri, meningkatkan resiko terjadinya UTI. Pelebaran pembuluh darah ini juga diimbangi dengan adanya peningkatan aliran darah, termasuk di dalamnya ada plasma darah. Di dalam beberapa kasus tertentu, terdapat kebocoran plasma darah ke kandung kemih, sehingga mengurangi jatah urin di kandung kemih (terjadi penurunan konsentrasi urin di kandung kemih) dan meningkatkan volume urin dalam ginjal yang juga disebabkan oleh adanya utero-vesikel refluks (kondisi dimana urin naik kembali ke ginjal). Di kasus tertentu, kebocoran juga berlaku pada protein sehingga terkadung protein di dalam urin, menyebabkan preeklampsia.

Baca Juga  Telinga Berdenging Selama Kehamilan

Glikosuria (sering buang air kecil) dan hidronefrosis (kondisi dimana saluran atas ureter mengalami pembengkakan) dalam kehamilan juga dapat menjadi salah satu faktor penting penyebab terjadinya UTI dalam ibu hamil.

Resiko terjadinya UTI selama kehamilan juga erat kaitanya dengan umur kehamilan Anda. Resiko terjadinya UTI juga akan meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan Anda. Menurut data yang ada, ibu di trimester satu mempunyai resiko terkena UTI sebesar 9,23%, trimester dua sebesar 12,30%, dan trimester tiga sebesar 78,49%. Resiko UTI yang meningkat pada trimester ketiga juga disebabkan oleh rahim yang semakin membesar yang menekan kandung kemih, membuat otot kandung kemih menjadi lemah sehingga kandung kemih tidak dapat benar – benar kosong dan menyebabkan tumbuhnya bakteri di dalam urin yang tertahan.

Apa gejalanya?

Berikut ini adalah beberapa gejala UTI:

  • Keinginan untuk buang air kecil secara terus menerus
  • Sensasi panas dan rasa sakit ketika buang air kecil
  • Timbul darah pada urin
  • Rasa sakit di punggung bawah, perut, panggul, dan sisi-sisi
  • Urin berbau menyengat
  • Demam
  • Mual dan muntah
Baca Juga  ASI Bocor Selama Kehamilan

Komplikasi yang dapat terjadi bila tidak segera diobati

Jika tidak diobati, UTI dapat menyebabkan komplikasi serius selama kehamilan. Komplikasi tersebut termasuk:

  • Infeksi ginjal
  • Kelahiran prematur
  • Sepsis (infeksi darah)

Jika UTI menyebar hingga ke ginjal, maka dapat terjadi koplikasi lebih jauh, seperti:

  • Anemia
  • Tekanan darah tinggi
  • Preeklampsia
  • Hemolisis (kerusakan sel darah merah akibat gangguan integritas membran sel darah merah)
  • Trombositopenia (trombosit rendah)
  • Bacteremia (adanya bakteri di dalam aliran darah)
  • Acute respiratory distress syndrome (kondisi dimana tubuh tidak dapat menerima cukup oksigen dari paru-paru)

Di beberapa kasus, infeksi dapat menurun ke bayi yang baru lahir, menyebabkan komplikasi yang langka namun serius. 

Bagaimana cara mencegahnya?

Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk mencegah terjadinya UTI:

  • Meminum banyak air
  • Menggunakan celana dalam berbahan kapas sehingga area kemaluan Anda tetap berada dalam kondisi kering
  • Tidak memakai celana dalam di malam hari saat tidur
  • Meminum jus cranberry murni (tanpa gula) atau pil cranberry
  • Membersihkan area kemaluan dan anus dengan hati-hati
  • Menghindari douches (membersihkan vagina dengan menyemprotkan cairan khusus ke dalam vagina), parfum, atau spray
  • Hindari menahan kencing
  • Buang air kecil sebelum dan setelah berhubungan seksual

Ibu hamil seringkali melakukan pemeriksaan UTI di awal kehamilan. Pemeriksaan ini adalah tahap yang penting untuk membantu mencegah dan mendeteksi UTI.

Sebagian besar UTI yang terjadi selama kehamilan dapat diobati dengan antibiotik. Provider Anda akan memberikan resep antibiotik yang aman untuk kehamilan Anda namun dapat membunuh bakteri di dalam tubuh dengan efektif. Jika UTI Anda telah berkembang menjadi infeksi ginjal, Anda biasanya akan diresepkan antibiotik yang lebih kuat atau diberikan infus.

 

Knowledge is power~

Sumber:

  • https://www.aafp.org/afp/2000/0201/p713.html
  • https://www.healthline.com/health/pregnancy/treat-a-uti#Is-a-UTI-dangerous-during-pregnancy?-
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/327148.php#home-remedies
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4379362/
  • https://www.whattoexpect.com/pregnancy/uti/