Padahal, ibu hamil ibu bersalin adalah orang sehat, artinya posisi ibu hamil dan ibu bersalin adalah sebagai klien, yang berhak berkomunikasi dua arah, berhak meminta dan menentukan apa yang dilakukan atas dirinya, walaupun dalam situasi tertentu (kasus kegawat daruratan, atau komplikasi) tentu “status” sang ibu berubah dari klien menjadi pasien. Dan dokter , bidan dan perawat mempunyai “otoritas” demi misi penyelamatan.

Nah lalu bagaimana? Karena kondisi di Indonesia bahkan sebagian besar di dunia budaya yang terbentuk adalah yang seperti cerita bunda Riyanti di atas?

  1. Anda sebagai klien harus mau memberdayakan diri.
  2. Selalu gunakan BRAIN dalam menentukan pilihan (buka link: https://www.bidankita.com/gunakan-brain-pada-saat-mengambil-keputusan-dalam-persalinan/)
  3. Ketahui semua tindakan atau intervensi yang akan dilakukan pada tubuh dan diri Anda.
  4. Jangan mengambil keputusan dalam kondisi panik
  5. PENGETAHUAN ITU KUNCI

Lalu saran untuk sesama tenaga kesehatan?

Ya sederhana saja , cobalah memposisikan diri sebagai mereka (ibu hamil dan ibu bersalin) , gunakan empati Anda, mereka adalah saudara dan keluarga Anda, mulailah kurangi bahasa atau kalimat yang mengancam atau mengintimidasi.

panduan-audio-hypnofertility-ads

Akan jauh lebih bijak apabila, menggunakan Bahasa yang jauh lebih “halus”, DENGAN memberikan info yang lengkap , jelas dan juju tentunya, pasti sang klien akan merasa lebih nyaman.  dan merekapun dapat menentukan pilihannya dengan “sadar”

Mereka adalah KLIEN bukan PASIEN.

semoga pelayanan Kita menjadi jauh lebih baik

Salam hangat.

Yesie

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here