Trauma Kelahiran

Apa itu trauma kelahiran?

Trauma kelahiran terjadi ketika wanita menemukan beberapa aspek dari kelahiran mereka traumatis, menyedihkan, dan / atau menakutkan.

panduan-audio-hypnofertility-ads

setiap kali saya posting tentang cerita persalinan yang sedikit agak menyeramkan, misalnya tentang Episiotomy, tentang placenta lengket atau tentang apapun yang berbau horor di Instagram, pasti banyak sekali ibu yang berkomentar dan menceritakan cerita cerita horor mereka dalam proses persalinan mereka maupun orang terdekatnya.

saat saya membaca beberapa data dan jurnal penelitian, tentang birth trauma ini, saya cukup terkejut, karena ternyata menurut beberapa penelitian, data statistik mengatakan bahwa Saat ini, di negara maju sekitar 30% wanita menemukan beberapa aspek dari trauma kelahiran mereka, yang setara dengan lebih dari 150.000 wanita per tahun, bahwa banyak wanita yang memulai perjalanan menjadi ibu merasakan emosi yang sangat sulit. apakabar di negara berkembang? dan memang benar! di negara berkembang lebih dari 50% wanita bersalin mengalami trauma kelahiran.

itulah kenapa, tidak heran WHO membuat artikel ini :

seperti yang kita ketahui, di Indonesia, apalagi pada para ibu dengan tingkat ekonomi menengah kebawah , banyak sekali yang “tidak punya pilihan” sehingga banyak sekali ibu ibu yang mengalami kisah horor saat melahirkan.

Namun, trauma kelahiran seringkali tidak dikenali atau diidentifikasi dengan baik.

padahal, dengan membiarkan trauma kelahiran yang tidak ditangani dalam jangka panjang dapat menyebabkan dampak kesehatan yang berkepanjangan baik bagi ibu maupun keluarganya.

Tidak semua wanita yang mengalami kesulitan persalinan terus mengalami Depresi, Kecemasan atau Gangguan Stres Pasca Trauma / PTSD, Namun, beberapa akan mengalaminya

Jika wanita memiliki riwayat kecemasan, depresi, atau pelecehan seksual sebelumnya, 1 dari 5 kelompok wanita ini akan mengembangkan Gangguan Stres Pasca Trauma setelah lahir. Paparan trauma juga meningkatkan risiko depresi selama kehamilan dan masa nifas. Dalam sebuah penelitian terhadap 374 wanita yang direkrut dari klinik kebidanan di kota berpenghasilan rendah, 39% melaporkan mengalami setidaknya satu peristiwa traumatis (Robertson-Blackmore et al., 2013). Peristiwa yang paling umum adalah pelecehan seksual terhadap anak-anak, teman dekat atau anggota keluarga mengalami kekerasan, dan kematian atau penyakit orang dekat yang tidak terduga. Wanita yang terpapar trauma empat kali lebih mungkin mengalami depresi selama kehamilan. Depresi selama kehamilan dapat menyebabkan banyak komplikasi, termasuk kelahiran prematur (Kendall-Tackett, 2017).